Jumat, 30 Oktober 20

Utang Polisi di 2017, Gagal Atasi Kasus Novel

Utang Polisi di 2017, Gagal Atasi Kasus Novel
* Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Jakarta, Obsessionnews.com – Tahun 2017 segera akan berlalu. Memasuki tahun 2018, tercatat masih ada sejumlah kasus yang belum terselesaikan oleh kepolisian. Salah satu kasus yang menjadi catatan publik dan masih menjadi ‘utang’ kepolisian adalah kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Sampai sekarang kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak Kepolisian. Bahkan, kasus ini juga menyita perhatian Presiden Jokowi. Sehingga pihak kepolisian berkunjung ke KPK untuk menyelesaikan kasus ini.

Saat itu, Novel sedang berjalan kaki menuju rumahnya setelah salat subuh di Masjid Al Ikhsan, seperti biasanya. Namun, tiba-tiba ada dua orang yang berboncengan naik motor mengikutinya.

Motor itu berjalan pelan saat berada di dekat Novel. Lalu, orang yang di belakang menyiramkan cairan yang belakangan diketahui sebagai air keras. Cairan itu mengenai wajah penyidik KPK yang teguh moralnya dan tak kenal kompromi tersebut. Novel pun sempat lari menghindar, lalu dua orang yang ada di motor kabur. Akhirnya, Novel menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut rentetan insiden penyiraman air keras terhadap Novel seperti dituturkan oleh Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol Dwiyono.

Waktu salat subuh (Sekitar pukul 04.35 WIB) seperti biasa Novel melakukan salat subuh di masjid Al Ikhsan. Masjid itu berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya.

Pukul 05.10 WIB Novel berjalan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba ada motor dari belakang yang dinaiki dua orang mendekat. Kemudian orang yang ada di motor itu menyiramkan sesuatu ke arah Novel. Sesuatu yang belakangan diketahui sebagai air keras itu mengenai wajah Novel. Dua orang yang ada di atas motor itu lalu kabur meninggalkan Novel.

Beragam reaksi bermunculan setelah Novel diserang menggunakan cairan kimia yang diduga air keras itu. Seperti Tama Langkun, pegiat Indonesia Corruption Watch (ICW) yang pernah dijatuhkan dari motor dan ditikam beberapa tahun lalu saat melaporkan kasus rekening milik sejumlah perwira Polri, menilai serangan semacam itu dilakukan untuk menghambat kasus-kasus korupsi yang ditangani Novel. Lantas Siapa dalang serangan air keras pada Novel?

Novel Baswedan Sedang Tangani Kasus Besar

Novel saat ini disebut sedang menangani sejumlah kasus besar, antara lain kasus dugaan korupsi KTP elektronik atau e-KTP.

“Tiada kecelakaan murni. Ini kan semacam pola-pola atau upaya-upaya untuk melakukan pelemahan terhadap KPK atau pelemahan terhadap agenda korupsi. Semakin besar kasusnya, semakin besar risikonya,” kata Tama kepada BBC Indonesia.

Akan tetapi, aksi tersebut diyakini justru kontraproduktif bagi pihak yang ingin mencederai Novel.

“Semakin caranya kasar, publik akan semakin resisten. Sebetulnya dengan cara seperti ini justru akan backfire, akan jadi gelombang dalam konteks pressure group. Ini akan membuat hakim tidak berani main-main. Semua mata tertuju pada persidangan, dia akan berpikir berulang-ulang untuk macam-macam,” kata Tama.

Juru bicara KPK, Febri Diyansyah, memastikan serangan terhadap Novel tidak akan menghambat proses hukum sejumlah kasus hukum yang saat ini sedang bergulir.

“Kalau serangan ini dimaksudkan untuk menghambat kerja-kerja KPK dalam pemberantasan korupsi, maka penyerang dan dalangnya keliru, karena hal itu tak akan terjadi,” kata Febri Diansyah.

Upaya teror

Bagaimanapun, bercermin dari serangan yang menimpa Novel Baswedan, mantan pimpinan KPK, Busyro Moqoddas, menggarisbawahi pentingnya perlindungan negara terhadap staf KPK.

Pasalnya, menurut Busyro, insiden Novel adalah ‘sebuah kebiadaban’ dan ‘langkah nyata dalam upaya teror terhadap KPK’. Apalagi, Busyro mencatat Novel telah mengalami setidaknya enam kali aksi kekerasan yang menjurus pada percobaan pembunuhan.

“Bandit-bandit koruptor itu dominan dengan melakukan tindakan-tindakan yang menteror di lapangan dan ini sudah kasat mata. Maka tiada yang lain kecuali presiden selaku panglima tertinggi TNI dan Polri perlu segera membentuk tim gabungan dengan unsur masyarakat untuk memburu pelaku,” ucap Busyro.

Jadi Perhatian Presiden Jokowi

Menanggapi penyerangan terhadap Novel Baswedan, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kapolri Tito Karnavian untuk mengusut tuntas.

“Itu tindakan brutal yang saya mengutuk keras. Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa (pelakunya). Jangan sampai orang-orang yang mempunyai prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tidak beradab. Saya kira ini tidak boleh terulang hal-hal yang seperti itu,” ujar Presiden Jokowi.

Tekad presiden sangat dinantikan mantan pimpinan KPK, Bambang Widjojanto. Menurutnya, dari enam aksi kekerasan terhadap Novel Baswedan, tiada satupun yang diusut tuntas.

“Kita sudah sampai tahapan, siapapun pelakunya harus diklasifikasikan sebagai teroris. Kalau negara absen menghadapi teroris, maka sebenarnya negara mengalami kegagalan dalam keamanan,” ujar Bambang.

Fakta Baru penyerangan Novel

Fakta baru terungkap lewat pernyataan Novel soal pelaku penyiraman air keras ke wajahnya itu. Melalui wawancara kepada Time, Novel menduga serangan pada dirinya terkait sejumlah kasus korupsi yang dia tangani.

Sejak menjadi penyidik KPK, setidaknya enam kali Novel menerima serangan. Mulanya ia tak berpikir bahwa kejadian tahun 2011 di mana sebuah mobil nyaris menabraknya merupakan suatu kesengajaan.

Namun, hal serupa terulang beberapa kali hingga terjadi serangan pada 11 April 2017 yang membuat pandangannya terganggu.

Saat itu, ia berharap penuh pada polisi untuk segera mencari pelakunya. Namun, hingga dua bulan berlalu, pelakunya tak kunjung tertangkap.

Polisi sempat tiga kali menangkap orang yang diduga berkaitan dengan penyerangan tersebut. Namun, setelah dimintai keterangan, mengecek alibi orang yang ditangkap, dinyatakan bahwa mereka bukan pelaku yang menyerang Novel.

Novel sempat tidak yakin dengan informasi yang menyebutkan bahwa salah satu perwira tinggi Polri menjadi dalang serangan ini. Namun, melihat pengusutan yang memakan waktu lama, Novel mulai mempertimbangkan kebenaran informasi tersebut. Ia pun menduga ada “orang kuat” (petinggi Polri) di balik serangan itu

“Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi informasi itu), sepertinya informasi itu benar,” kata Novel, sebagaimana dikutip dari Time.

Tanggapan Polri

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, Novel sebagai korban semestinya menyampaikan informasi itu ke penyidik, bukan ke media. Dengan demikian, keterangan tersebut memiliki kekuatan hukum.

Beberapa waktu lalu penyidik telah meminta keterangan Novel di Singapura, namun belum tuntas melihat kondisi kesehatan Novel. Penyidik bersedia kembali memeriksa Novel di Singapura untuk menggali informasi yang diperlukan.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, Novel harus menyampaikan setiap informasi penting yang diketahuinya agar bisa dikroscek kebenarannya.

Selain itu juga untuk menghindari penilaian pernyataan Novel itu sebuah tuduhan atau tudingan kepada pihak tertentu.

“Kalau diberikan kepada penyidik, kami akan teruskan, kami akan selidiki, benar enggak? dari mana alur-alurnya, fakta-fakta apa yang mendukung pernyataan itu. Jadi prinsipnya harus diserahkan ke polisi,” tutur Martinus.

KPK Tagih Kasus Novel

Pimpinan KPK menagih tindak lanjut kepolisian dalam penyelesaian kasus Novel Pimpinan KPK kembali mendatangi Polri.

“Nanti kami lihat kembali, mungkin kami akan datang ke sana lagi untuk menanyakan kembali bagaimana perkembangannya,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, di Gedung KPK Jakarta, Selasa (10/10).

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mempertanyakan belum terungkapnya kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

Peristiwa penyerangan sudah berlalu 180 hari. Namun, pihak kepolisian belum menemukan satu pun tersangka pelaku penyerangan.

Bahkan, hingga kondisi mata Novel semakin baik, kepolisian belum juga menemukan titik terang atas kasus penyerangannya.

Dahnil justru menganggap kasus penyerangan Novel ini makin kusut dan kabur. Sebab, belakangan justru muncul upaya kriminalisasi terhadap Novel.

Direktur Penyidikan KPK Brigjen Aris Budiman sebelumnya melaporkan Novel Baswedan ke polisi. Dia menuding Novel telah mencemarkan nama baiknya melalui surat elektronik.

Usut tuntas 

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane meminta kepolisian menanggapi serius informasi dari Novel. Polri harus mengusut tuntas keterangan Novel soal dugaan perwira tinggi yang terlibat dalam kasus tersebut.

Ia pun mendesak agar segera dibentuk tim khusus untuk membongkar kasus ini hingga terang benderang.

“Publik tidak bisa lagi hanya berharap pada Polda Metro Jaya untuk menuntaskan kasus ini,” kata Neta.

Neta menganggap Polda Metro Jaya tidak bisa bekerja profesional karena tak ada perkembangan berarti selama dua bulan penyidikan.

Menurut dia, pengakuan Novel itu menjadi babak baru dalam kasus teror kepada penyidik senior KPK itu. Oleh karena itu, polisi diminta bergerak cepat untuk memeriksa Novel agar tudingan tersebut tak menjadi spekulasi dan bola liar.

Bisa saja publik mempercayai apa yang dikatakan Novel, karena bukan rahasia lagi sempat ada konflik antara KPK dan Polri terkait pengusutan sejumlah kasus korupsi.

Agar penanganan lebih capet, Neta meminta agar kasus ini ditarik ke Mabes Polri.

“Sebab ini menyangkut wibawa dan kredibilitas profesionalisme Polri secara keseluruhan, apalagi dengan adanya pengakuan Novel bahwa ada jenderal polisi yang terlibat,” kata Neta.

Selain itu, Komisi III DPR diminta segera memanggil Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Kapolda Metro Jaya saat itu Muhammad Iriawan untuk mengklarifikasi tudingan Novel. Jika ternyata keterangan Novel benar, maka oknum tersebut harus dipidanakan.

KPK-Polri Cari Win-win Solusion

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Agus Rahardjo mengatakan, KPK dan Polri tengah mencari jalan keluar dari dinamika yang terjadi antara penyidik Novel dengan anggota Polri.

Diketahui, Novel dilaporkan Direktur Penyidikan KPK Brigjen Aris dan Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Pol Erwanto Kurniadi ke Polda Metro Jaya.

“Dinamika yang ada hari ini, kami cari win-win solution di kedua pihak,” ujar Agus, di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (19/9).

Apalagi, Novel dan Aris saat ini di bawah satu atap, statusnya sebagai pegawai KPK.

Sebagai pimpinan, kata Agus, ia harus menyelesaikan masalah para pegawainya. KPK berupaya melindungi siapapun pegawai KPK, baik yang pegawai murni maupun dari instansi lain.

“Pegawai KPK enggak cuma yang direkrut sendiri, ada juga dari polisi, pegawai dari kementerian lain dan instansi lain juga,” kata Agus.

“Kami coba harmoniskan pegawai KPK. Mudah-mudahan Tuhan berikan petunjuk,” lanjut dia.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, baik Novel maupun Aris dan Erwanto merupakan keluarga besar Polri.

Berdar Sketsa Dua Pelaku Penyerang Novel

Tujuh bulan setelah Novel diserang dengan air keras di kediamannya di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara, polisi akhirnya mengungkap sketsa dua pelaku.

Sketsa wajah pertama memperlihatkan seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan wajah bulat, hidung bulat dan rambut hitam. Pria itu memiliki kulit berwarna gelap, berpostur tegap dengan tinggi 165 cm.

Sketsa kedua memperlihatkan seorang pria berumur sekitar 35 tahun dengan bentuk muka oval dan dagu yang tajam. Selain itu, ciri-cirinya memiliki rambut hitam, kulit sawo matang, berpostur atletis dengan tinggi 173 cm.

Kapolda Metro Jaya Idham Azis mengatakan kedua sketsa itu dibuat berdasarkan pemeriksaan dua saksi kunci yang sempat melihat para pelaku sebelum serangan air keras ke wajah Novel.

“Kemiripan sudah 90 persen”, kata Kapolda Idham kepada para wartawan di gedung KPK.

Polisi juga membuka hotline 24 jam – 0813 988 44474 – bagi masyarakat yang memiliki informasi akan keberadaan kedua terduga pelaku tersebut.

Pada akhir Juli lalu Kapolri Tito Karnavian juga pernah mengeluarkan sketsa terduga pelaku penyerang.

Namun Kapolda Idham Azis mengatakan bahwa orang yang di sketsa yang diumumkan Kapolri Tito itu bukanlah pelaku, seperti dilaporkan harian Tempo.

Polisi Masih Selidiki Kasus Novel

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmato mengatakan, pihaknya masih melakukan penyidikan terkait kasus penyerangan penyidik KPK Novel.

Meski sampai sejauh ini belum ada petunjuk langsung siapa pelaku penyerangannya, Ari menyatakan jajarannya optimis untuk mengungkap kasus penyerangan Novel.

“Insya Allah, kalau optimistis, kita kan harus optimistis. Kalau kasus itu banyak kok yang memang tingkat kesulitannya tinggi, dan seperti apa yang disampaikan Pak Kapolri, bahwa kasus hit and run (menyerang dan lari) ini relatif memang kalau dibilang sulit, ya sulit,” kata Ari saat ditemui usai shalat Id di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Jumat (1/9).

Namun, lanjut Ari, kasus sulit pun kadang bisa terpecahkan. Misalnya, terungkap secara tidak sengaja melalui atau lewat peristiwa lain yang ternyata punya kaitan dengan kasus sulit yang belum terpecahkan tersebut.

“Kadang kala juga ada waktu bisa menentukan, suatu saat ada suatu peristiwa, (yang) bisa kait-mengkait, (jadi) bisa muncul juga seperti itu,” ujarnya.

Ari menyatakan, Polri bekerja sama dengan KPK untuk mengungkap kasus penyerangan Novel. Kerja sama ini untuk mengatasi bersama-sama kesulitan yang ada.

“Supaya tidak ada perasaan kok belum jalan atau apa, kalau sama-sama gitu, tingkat kesulitan dan persoalannya kan bisa dirasakan sama-sama. Bahwa kita betul-betul ataupun sungguh-sungguh untuk ngungkap kasus itu,” ujar Ari.

Meski sketsa dua pelaku penyerangan terhadap Novel sudah dirilis oleh Polisi, namun kasus ini belum menemui titik terang dan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Lantas sampai kapan kasus Novel ini akan berakhir? (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.