Sabtu, 28 Mei 22

Usamah Hisyam Kritik Presiden Jokowi Soal Kelompok Fundamental

Usamah Hisyam Kritik Presiden Jokowi Soal Kelompok Fundamental
* Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) Usamah Hisyam saat berorasi di depan massa pengunjuk rasa menuntut Ahok dipenjara. (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Jakarta, Obsessionnews.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi), Usamah Hisyam mengkritik pidato politik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam acara pengukuhan pengurus DPP Partai Hanura di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (22/2/2017) lalu.

Saat itu Presiden Jokowi mengatakan bahwa demokrasi Indonesia sudah kebablasan dengan hadirnya kelompok-kelompok fundamental, radikal, dan sektarian. Pidato Jokowi ini dinilai mengarah kepada kelompok Islam yang saat ini tengah berjuang menuntut keadilan dalam kasus penistaan agama.

Padahal sebaliknya, menurut Usamah, justru Ahok dan para pendukungnya itulah yang pantas disebut sebagai kelompok fundamental, radikal, dan sektarian.

“Justru Ahok ini adalah kelompok fundamental. Ia yang sudah merusak keharmonisan di negeri ini. Selama ini umat Islam tidak pernah menghina agama. Tapi Ahok lah yang menghina, merusak NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)‎,” ujar Usamah saat berorasi dalam Aksi Bela Islam mengawal sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di depan Gedung Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (28/2).

Mantan Anggota DPR RI ini mengatakan, selama ini kebhinnekaan Indonesia berjalan dengan damai. Umat dan golongan saling menghargai. Namun, setelah Ahok mengucapkan kalimat yang menghina agama, semua masyarakat menjadi gaduh. Fitnah di mana-mana, bahkan ulama pun dikriminalisasi.

“Kan aneh, kalau Ahok sebagai sumber masalah yang memecah NKRI‎, malah kita (umat) jadi sasaran, disalahkan dan dituding sebagai kelompok fundamental, radikal,” tukasnya.

Lebih lanjut Usamah mengatakan, aksi ini adalah panggilan hati umat Islam. Ketika mengetahui agamanya dihina,‎ umat akan bangkit dan melawan. Karena itu tidak ada paksaan bagi umat Islam dalam setiap kali turun aksi membela agama. Yang terlihat oleh mereka  justru adalah persatuan yang kokoh.

Dalam istilah Islam, tambah Usamah, Ahok masuk dalam katagori golongan Ahlul Harb, yakni golongan orang kafir yang wajib diperangi. ‎Sebab, golongan ini dalam pandangan Islam sebagai golongan kaum kafir yang memusuhi kaum Muslimin.

“Ahok ini sudah terang-terang memerangi Islam. Di dalam Islam dia sudah masuk golongan Ahlul Harb, yaitu kelompok yang memerangi Islam sehingga harus diperangi‎, karena dialah sejatinya orang-orang yang berpaham radikal dan fundamental,” tegasnya.

Orasi Usamah di depan massa aksi itu pun sontak disambut kalimat Takbir. Mereka siap dengan keikhlasan hati untuk berjuang dan membela agama Islam yang selama ini dipojokan dan dihina oleh Ahok. ‎

“Karena itu, hari ini kita pastikan bahwa mereka kelompok fundamental adalah yang menista agama. Betul?!” kata Usamah.

“Betul!!!” jawab massa aksi.

“Jadi siapa yang fundamental? Siapa yang radikal?” tanya Usamah lagi.

“Ahok, Ahok, Ahok..!!” jawab massa aksi dengan suara yang bergemuruh.

Sebelumnya diketahui, saat berpidato dalam acara pengukuhan pengurus DPP Partai Hanura, Jokowi mengaku kerap ditanya ‎mengenai demokrasi di Indonesia yang tengah diuji oleh serangkaian persoalan. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah demokrasi Indonesia yang sudah kelewatan atau kebablasan.‎

‎”Apa demokrasi sudah terlalu bebas dan kebablasan? Saya jawab iya. Demokrasi kita kebablasan,” kata Presiden Jokowi. ‎

Jokowi menuturkan, praktik demokrasi politik di Indonesia membuka peluang terjadinya artikulasi politik ekstrem. Mulai dari liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, hingga terorisme. Serta ajaran lain yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.‎

Presiden mengatakan, penyimpangan praktik demokrasi secara jelas terlihat dari persoalan politisasi SARA. Jokowi menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia menghindari praktik semacam ini karena dianggap berbahaya. ‎

“Sekarang ini bertebarannya kebencian, fitnah, saling memaki, menghujat, bohong. Kalau diteruskan bisa menjurus pada pecah belah bangsa kita,” kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini meyakini, jika Indonesia berhasil melewati ujian demokrasi ini, maka republik ini bakal semakin dewasa, matang, dan tahan uji. Ia juga meyakini ‎ kunci dari demokrasi yang kebablasan adalah penegakan hukum. Karena itu dia meminta aparat hukum untuk tegas.

‎”Tidak usah ragu-ragu,” tegasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.