Sabtu, 29 Januari 22

Usai Pilkada Golkar Bersatu, Benarkah?

Usai Pilkada Golkar Bersatu, Benarkah?

Jakarta, Obsessionnews – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2015 dinilai bisa dijadikan alat untuk menyatukan partai politik yang berkonflik seperti Partai Golkar. Sebab, partai ini sudah bisa menyatukan kesamaan dalam mengusung ‎calon kepala daerah.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Jakarta, Priyo Budi Santoso. Ia mengatakan, Islah terbatas yang selama ini sudah dilakukan oleh dua kubu, akan menjadi Islah permanen, setelah pelaksanaan Pilkada selesai.

“Doakan saja jika tidak ada aral melintang Pilkada jadi pintu masuk islah permanen. Itu harapan kami,” kata Priyo Budi Santoso dalam pertemuan dengan Ketua DPR Setya Novanto, di Senayan, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, harapan itu sudah menjadi keinginan bersama para petinggi Partai Golkar. Mereka kata Priyo, memiliki keinginan yang kuat agar Golkar kembali menjadi partai yang disegani, dan dicintai oleh rakyat dengan kebesarannya seperti pada masa Orde Baru.

“Saya sempat berbincang dengan pak Novanto, dan tokoh senior lainnya, seperti pak JK, Pak Akbar Tandjung, pak Habibie, saya menangkap ada kesamaan beberapa pikiran-pikiran,” ungkapnya.

Mantan Wakil Ketua DPR ini menegaskan, semua tokoh PG tersebut pada intinya ingin gagasan islah yang diinisiai Wakil Presiden (Wapres) yang juga mantan Ketua Umum (Ketum) PG, Jusuf Kalla (JK) dapat segera terwujud. “Betul-betul kita realisasikan islah permanen. Saya punya pandangan seperti itu, tokoh sekelas pak Novanto juga punya visi yang sama,” tegasnya.

Sementara Setya Novanto, yang juga menjadi Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali, juga menyambut baik pernyataan Priyo. Ia berharap setelah Pilkada ini selesai, konflik Golkar segera berakhir, dan kedua kubu menyatakan Islah secara permanen.

“Semoga kita bisa bersatu kembali dan mudah-mudahan titik awal menjadikan hal yang dasar supaya kmbali jadi satu.  Sehingga dengan adanya pertemuan ini akan jadi jalan islah yang baik,” singkat Setnov.

Namun, apakah Islah tersebut bisa terwujud mengingat kedua kubu masih ngotot menyelesaikan konflik Golkar melalui jalur pengadilan. Hal itu bisa diliat saat kubu Agung Laksono menang di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, kubu Aburizal mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Demikian juga saat kubu Aburizal Bakrie dimenangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara atas kepengurusan Partai Golkar yang sah. Kubu Agung, kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Proses itu sepertinya akan terus berlanjut sampai ada kekuatan hukum tetap. ‎(Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.