Minggu, 31 Mei 20

Urusan Politik Adu Domba Inggris Lebih Canggih Daripada Amerika

Urusan Politik Adu Domba Inggris Lebih Canggih Daripada Amerika

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

DALAM setiap membaca ulang sebuah novel, ada saja yang jadi sorotan, padahal waktu membaca sebelumnya terlewat begitu aja. Karena lebih fokus ke hal lain.

Waktu baca ulang Dan Brown The Da Vinci Code, kali ini kepikiran dengan sosok Sir Earl Teabing. Bangsawan Inggris, sejarawan dan peminat sejarah yang amat mendalam. Khususnya tentang The Holly Grail.

Yang sontak muncul di benak saya kenapa Dan Brown tiba-tiba di pertengahan episode yang genting-gentingnya, saat pembaca digiring pada pertikaian berkepanjangan antara Opus Dei, salah satu ordo Katolik Vatikan versus kaum Ksatria Templar (Priory of Sion) yang punya versi sejarah tersendiri di luar versi Vatikan, tiba tiba memunculkan sosok Teabing.

Mungkin saja Dan Brown, melalui sosok Teabing, bermaksud menetralisir kembali perhadapan ekstrem antara Opus Dei versus Priory of Sion. Namun, menurut saya, mengingat karakter Teabing dalam novel adalah membenturkan Opus Dei versus Priory of Sion, saya justru melihatnya dalam perspektif lain.

Teabing merupakan gambaran karakterisitik Inggris sebagai negara imperialis selama berabad-abad, yang menguasai soft skill yang cukup canggih untuk mengadu-domba atau politik devide et impera berbagai elemen bangsa yang akan dijadikannya sebagai sasaran kolonisasi. Khususnya politik adu domba di ranah sosial-budaya.

Dan urusan politik adu domba macam ini, Inggris jauh lebih canggih dan halus mainnya, daripada Amerika yang asal main kepruk saja.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.