Rabu, 30 September 20

Unjuk Rasa 100 Hari Tanpa Henti Kecam Kebrutalan Polisi

Unjuk Rasa 100 Hari Tanpa Henti Kecam Kebrutalan Polisi
* Unjuk rasa anti rasisme tuntut kebrutalan polisi di Portland, Amerika Serikat. (Foto: Workers World)

Demonstrasi tanpa henti mengecam kebrutalan polisi dan menyuarakan anti-rasisme di kota Portland, Amerika Serikat, telah memasuki 100 hari pada 5 September 2020. Unjuk rasa ini awalnya dipicu oleh kematian George Floyd di Minneapolis pada Mei 2020.

Unjuk rasa kemudian menyebar ke berbagai kota lain, termasuk Portland di negara bagian Oregon. Khusus di Portland, kota yang berpenduduk 650.000 jiwa dan lebih dari 70 persen warganya berkulit putih, para aktivis tetap berada di jalan hampir setiap malam, menuntut keadilan rasial dan akuntabilitas polisi.

Seorang demonstran mengatakan, jika kita ingin mengubah sistem dan menolak rasisme sistematis ini, maka kita harus terus menyuarakannya di jalanan setidaknya sampai pemilu.

Pengunjuk rasa yang berbicara secara anonim itu menuduh Presiden AS Donald Trump mengobarkan ketegangan rasial. Sementara itu, Trump menyebut kota Portland dikepung oleh “preman” yang terlibat dalam “terorisme domestik”.

Pernyataan Trump itu diungkap meski sebagian besar aksi unjuk rasa berlangsung secara damai. Trump juga memperingatkan jika rivalnya dari Partai Demokrat, Joe Biden, memenangkan pemilu pada November, kota-kota seperti Portland akan kacau di seantero AS.

Tetapi sejumlah aktivis di Portland mengaku bahwa mereka tidak menyampikan aspirasi dengan anarkis. Pemimpin gerakan Black Lives Matter setempat Reese Monson, 30 tahun, mengatakan, kami tidak berniat membakar barang-barang.

Monson menambahkan bahwa dia sudah ikut demo sejak hari pertama dan mengakui beberapa demonstran memboncengi aksi Black Lives Matter untuk membuat kerusuhan. Tapi menurutnya, unjuk rasa itu secara keseluruhan berlangsung damai.

“Kami punya hak untuk protes, kami berhak mengekspresikan diri dan bersuara. Kami akan terus berdiri. Kami tidak akan lari atau pergi begitu saja saat polisi menyuruh lari atau pergi,” ujarnya.

Para aktivis khawatir gerakan mereka ditunggangi kelompok-kelompok sayap kanan seperti Patriot Prayer, yang turun ke jalan di Portland akhir pekan lalu dan memicu konfrontasi dengan demonstran kontra-BLM. Kerusuhan itu mengakibatkan satu pengikut kelompok sayap kanan, Aaron Danielson, mati ditembak.

Pihak berwenang belum mengidentifikasi siapa penembaknya. Insiden mematikan itu meningkatkan kekhawatiran akan lebih banyak kerusuhan lagi. Dampaknya, para aktivis Portland meningkatkan upaya pengamanan yang mencakup komunikasi di layanan pesan terenkripsi dan tak mau direkam video.

Menuntut Keadilan atas Kematian Daniel Prude
Ribuan demonstran duduk di depan kantor Departemen Kepolisian Rochester, New York, Amerika Serikat pada Senin, 7 September 2020 untuk menuntut keadilan atas kematian Daniel Prude.

Mereka duduk dengan tubuh telanjang, kedua tangan diikat ke belakang, dan juga kepala yang ditutup oleh penutup plastik. Aksi ini persis mencontohkan keadaan Daniel Prude saat ditangkap oleh polisi di jalanan pada 23 Maret 2020.

Daniel Prude, 41 tahun adalah seorang pria kulit hitam yang memiliki masalah kesehatan mental. Dirinya ditemukan berlarian di jalanan sambil telanjang oleh petugas polisi sehingga petugas polisi menangkapnya dengan memborgol tangannya ke belakang, dan memakaikan penutup plastik di kepalanya.

Polisi pun menahan penutup tersebut selama dua menit yang menyebabkan Daniel Prude sesak napas hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, sesampainya di rumah sakit kondisinya sudah kritis. Daniel Prude mengalami koma dan akhirnya meninggal dunia seminggu kemudian setelah semua peralatan medis dilepas dari tubuhnya.

Saudaranya, Joe Prude, menelepon 911 untuk meminta bantuan atas perilaku tidak biasa Daniel Prude. Sebelumnya Daniel Prude telah dibawa ke rumah sakit untuk evaluasi kesehatan mental, tetapi dibebaskan setelah beberapa jam.

Kematian Daniel Prude pun memicu kemarahan publik, setelah pada 2 September 2020 pihak keluarga merilis video ke publik, ketika video tersebut menampilkan kejadian saat Daniel Prude ditangkap polisi.

Setelah video tersebut tersebar dan menyulut kecaman publik, akhirnya tujuh petugas polisi diskors pada 4 September 2020.

Selain itu, Jaksa Agung negara bagian Letitia James mengatakan bahwa dia akan membentuk dewan juri dan melakukan penyelidikan menyeluruh atas kematian Daniel Prude.

Wali Kota Rochester Lovely Warren dan Kepala Polisi La’Ron Singletary telah menghadapi desakan agar mengundurkan diri karena keterlambatan mereka dalam merilis rincian kematian Daniel Prude.

Para pengunjuk rasa tetap menuntut pertanggungjawaban polisi dan undang-undang untuk mengubah cara pihak berwenang menanggapi keadaan darurat kesehatan mental. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.