Kamis, 6 Oktober 22

Unand Gelar Diskusi Cegah Paham Radikalisme

Unand Gelar Diskusi Cegah Paham Radikalisme

Padang, Obsessionnews – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat (Sumbar), menggelar diskusi publik dalam rangka memberikan pemahaman tentang radikalisme komunisme.

Dalam diskusi publik yang bertema “Aktualisasi Ideologi Pancasila” yang digelar pada Selasa (29/9), terungkap bahwa di era globalisasi, generasi pemuda maupun mahasiswa dinilai rawan dimasuki oleh paham-paham radikalisme dan komunisme. Untuk mengupas tema diskusi, panitia mengundang Ketua MUI Sumbar, Aktifis Pemuda, Pengamat dan Tokoh Adat Minangkabau, sebagai narasumber.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar Syamsul Bahri Khatib mengatakan saat ini bangsa Indonesia tengah dihadapkan pada dua pemahaman, yaitu kelompok yang mengedepankan pikiran pada naas Al-Qur’an dan hadis secara literal.

“Pemahaman itu, kelompok ini menjadi intoleransi, kaku, mudah menyatakan permusuhan, dan mudah menyatakan kekerasan terhadap sesama muslim yang tidak sepaham,” kata Syamsul Bahri Khatib saat diskusi, Selasa (29/9).

Kemudian, kelompok yang mengedepan kontekstualisasi dalam pemahaman naas Al-Qur’an secara berlebihan yang pada akhirnya mereka berani menggungat naas dan menafsirkan berdasarkan pendekatan abal semata.

“Kelompok ini termasuk kelompok ekstrim,” ujar Syamsul.

Syamsul mengatakan, bagi umat Islam, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan bentuk kesepakatan bersama untuk mendirikan bangsa Indonesia dan mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang adil.

Sementara itu, Bendahara KNPI Sumbar Edi Kurniawan mengatakan ideologi Pancasila adalah ideologi yang harus dipertahankan dan tidak boleh muncul pemahaman yang bertentangan dengan ideologi. Setiap paham yang muncul harus diwaspadai, seperti paham komunisme yang pernah muncul.

“Pertanyaan saya, apakah ide diskusi publik ini muncul dari mahasiswa? Jika ide ini tidak muncul dari mahasiswa, ini perlu dikhawatirkan. Di kampus, secara umum, ideologi merupakan suatu pandangan/kepercayaan/instrumen yang bisa dikembangkan atau disistematikan bisa mengalahkan atau mencapai tujuan yang ingin dicapai,” ujar Eki Kurniawan.

Edi Kurniawan mengatakan, salah satu fungsi KNPI adalah merumuskan langkah-langkah ke depan untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan pemuda, memelihara tegaknya NKRI, memberdayakan potensi pemuda segala aspek, dan berperan aktif.

Dalam kesempatan yang sama,
Pengamat Sosial Universitas Andalas, Edi Indrizal mengatakan bahwa perbedaan antara radikal kanan dan radikal kiri terletak pada perbedaan tingkat kepercayaan kepada Tuhan.

“Radikal kanan berlebihan mempercayai Tuhan, sedangkan radikal kiri kepercayaan terhadap Tuhan kurang,” kata Edi Indrizal.

Menurut Edi, persamaan radikal kanan dan radikal kiri antara lain Eksklusif, Intolerant, Fanatik, Revolusioner dan melalui cara kekerasan.

Sementara itu, Ketua panitia pelaksana, Hasunudin mengatakaan, diskusi digelar salah satu tujuannya untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme dan komunisme di kalangan generasi pemuda. Hal penting dari itu untuk mengembalikan nilai-nilai ideologi pancasila di kalangan mahasiswa maupun generasi pemuda. (Musthafa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.