Minggu, 5 Desember 21

UN dengan Komputer Masih Menuai Masalah

UN dengan Komputer Masih Menuai Masalah

Semarang, Obsessionnews – Berakhirnya Ujian Nasional (UN) tingkat SMA bukan berarti tanpa kekurangan. Beberapa permasalahan menjadi sorotan dari pengamat. Ngasbun Egar, pemerhati pendidikan menjelaskan bahwa UN berbasis CBT (Computer Base Test) belum siap untuk diterapkan.

“Secara infrastruktur, memang masih kurang. Ini bisa dilihat Semarang saja yang ibukota cuma satu sekolah gunakan CBT,” ujarnya saat dihubungi obsessionnews.com, Selasa (21/04).

Masih banyak hal yang musti diselesaikan, dari persiapan perangkat keras dan aplikasi. Sehingga untuk UN mendatang haruslah diberikan perencanaan serta penanganan lebih di setiap instansi pendidikan.

Seperti yang diketahui, UPTD kota Semarang sebagai pusat provinsi Jawa Tengah hanya berjumlah satu sekolah yang mampu menyelenggarakan ujian bersistem CBT, yakni SMK Texmaco. Berbicara tentang kemampuan sekolah menyediakan perangkat keras, ia menegaskan pemerintah wajib mencukupi sarana komputer di semua sekolah bila sistem CBT diberlakukan bagi keseluruhan.

“Supaya anak-anak bisa mengikuti CBT semua kalau memang maunya begitu,” tutur dosen aktif UGRIS ini.

Terkait kecemburuan antara sekolah berbasis CBT dengan non CBT, Egar melihat saat ini antar sekolah tidak ada persaingan buruk. Jika sekolah memiliki sarana komputer dan server yang dibutuhkan maka sekolah bisa mengadakan UN CBT. Masing-masing sekolah menyadari sejauh mana kelengkapan yang dibutuhkan.

UN berbasis CBT memang dianggap lebih efisien dari sisi penyelenggaraan. Selain tidak memerlukan banyak persiapan dan penjagaan, sistem ini dianulir mampu bekerja lebih baik dibanding Paper Base Test (PBT).

Egar melihat sistem ini lebih efektif dalam jangka panjang. Namun bila dalam waktu dekat, sistem ini dianggap memerlukan investasi cukup besar. Efektifitas CBT untuk meminimalisir kebocoran dinilai masih diragukan. “Tapi nyatanya kan ya soal bocor juga, banyak yang gitu.”

Walau demikian, kinerja CBT untuk mengurangi kecurangan siswa mencontek patut diacungi jempol. Hal ini didasarkan waktu yang sempit bagi siswa menjawab pertanyaan. “Kesempatan mencontek lebih kecil. Begitu soal dikerjakan dan di save , maka tidak bisa dibuka kembali. Itu bisa memperkecil kecurangan anak,” tuturnya.

Dibalik itu semua, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa ditentukan pada suatu sistem UN. Saat ini UN sebagai pemetaan mutu pendidikan dan penyaring untuk memasuki di sekolah lebih tinggi. Ia menambahkan, fungsi UN selaku pemetaan mutu pendidikan akan berguna jika dimanfaatkan untuk merumuskan kebijakan berikutnya.

Jikalau hasil ujian hanya untuk diketahui dan dipublikasi, tanpa ada upaya perumusan perencanaan kebijakan maka tidak akan ada artinya. “Jadi harus ada tindak lanjut. Ketika kita sudah ketahui petanya,daerah mana hasilnya begini, kemudian digunakan sebagai bahan pembinaan,” pungkas Egar. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.