Minggu, 12 Juli 20

Ulama Produk Masyarakat, Pers, dan Politisi

Ulama Produk Masyarakat, Pers, dan Politisi
* Gus Mus bersama Cak Nun dalam forum Maiyahan. (Foto: Twitter @TadaburMaiyah).

Jakarta, Obsessionnews.com – Akhir-akhir ini telinga masyarakat Indonesia kerap mendengar kata ulama. Ini menyusul dengan menguatnya suhu politik tanah air menjelang Pilpres 2019. Masyarakat dipertontonkan dengan perebutan suara umat Islam dengan berlindung atas nama ulama. Lalu sebenarnya apa yang disebut dengan ulama?

Jika mengacu dalam bahasa Arab ulama adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan, atau orang yang berilmu. Ulama punya peran sentral mengayomi, membina dan membimbing umat, baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah ditanya wartawan tentang apa sebenarnya yang dimaksud ulama. Ia juga menyatakan, ulama dalam bahasa Arab adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Pengertian ulama sedikit berbeda jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Kata ulama pengertiannya menjadi orang tahu agama Islam.

“Ulama ini ada bahasa Arab dan bahasa Indonesia, kalau bahasa Arab, ulama itu jamaknya alim. Secara bahasa, artinya orang yang mempunyai pengetahuan,” kata Gus Mus, di Jakarta, Rabu (13/6/2018).

“Einstein ulama, Galileo ulama, alim itu orang yang memiliki pengetahuan, pengetahuan apa saja,” imbuhnya.

Kemudian, Gus Mus menyatakan pengertian ulama kini semakin berkembang. Ada ulama yang benar-benar dia lahir dari pengetahuan murni di masyarakat, namun ada juga ulama yang lahir dari produk pers, bahkan ada ulama yang kini lahir dari produk politisi.

“Ulama itu ada yang produk masyarakat, karena masyarakat melihat ilmunya, lakunya. Ada yang produk pers, karena pers menyebutnya sebagai ulama, maka orang lain terbentuk opini, dan ini banyak sekali. Ada yang (dari) pemerintah, yang di MUI itu. Terus ada yang bikinan politisi,” ujar Gus Mus.

“Ada lagi yang sekarang, bikinan sendiri, dan ini murah sekali, peci haji itu paling 5ribu, serban 50 ribu, kalau yang agak wibaya yang (warnanya) hijau,” papar Gus Mus.

Gus Mus menekankan, bahwa Ulama haruslah meniru perilaku Nabi Muhammad. Terutama kepekaan Nabi dalam merasakan penderitaan ummatnya. Ulama kata Gus Mus adalah orang yang paling dekat dengan Nabi.

“Seorang ulama harus memiliki perilaku Nabi, salah satunya tidak tahan melihat penderitaan umatnya. Jadi ulama seharusnya melihat umat dengan kasih sayang,” ungkapnya.

Dalam forum Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Cak Nun juga pernah mempertanyakan apa itu ulama. Bagi Cak Nun, ulama tidak hanya bisa diartikan kepada mereka yang mengetahui hukum Islam. Namun ulama aspeknya lebih luas dari itu. Mereka adalah orang berilmu tinggi, rendah hati, dan perilakunya paling dekat dengan Nabi Muhammad. Jika tidak memenuhi kriteria itu, sulit bagi Cak Nun menyebut seseorang itu sebagai ulama.

“Semakin tinggi ilmunya maka dia samakin baik perilakunya. Ulama itu orang yang perilakunya seperti Kanjeng Nabi,” (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.