Selasa, 14 Juli 20

Ujaran Kebencian

Ujaran Kebencian

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya yang dimaksud mereka yang dimurkai adalah kaum Yahudi, dan yang dimaksud mereka yang tersesat adalah kaum Nasrani.” (HR Ahmad).

Apakah ada petugas berwenang di Indonesia yang berani memperkarakan hadis di atas sebagai ujaran kebencian bagi kelompok tertentu yang mengakibatkan keonaran?

Dalam Al-Qur’an dan Hadis, banyak sekali tuntunan-tuntunan dalam kehidupan. Salah satunya adalah bagaimana menyikapi sekelompok manusia yang punya karakter tertentu.

Tapi saat ini mengingatkan manusia, menyampaikan analisis, memberi keterangan, atau mengutip hadis dan pendapat ulama tentang masa depan, bisa masuk pasal ujaran kebencian.

Anehnya, negeri ini mayoritas Muslim, juga penguasanya, akan tetapi tak ada pembelaan sama sekali pada Islam. Yang ada justru agama dan penganutnya dikriminalisasi.

Mengingatkan bahaya komunisme, dikatakan menggoreng isu. Protes atas penistaan agama, tuduhannya intoleransi. Ingin menerapkan syariat, difitnah anti-Pancasila dan anti-NKRI.

Sementara dulu ada penista agama, jelas-jelas kata-katanya kotor, jahat, kasar, dan provokatif. Dipuja-puja, jadi anak emas, dibela-bela, sulit sekali diproses hukumnya.

Giliran para ulama, tak ada laporan, kalaupun ada segelintir oknum, langsung jadi tersangka. Diperlakukan lebih hina dari preman yang tertangkap membacok orang.

Lucunya, ada petinggi partai yang menyatakan bahwa meyakini akhirat setelah dunia fana adalah bentuk ideologi tertutup. Ini tidak dikatakan ujaran kebencian terhadap agama.

Tampaknya, pihak berwenang benar-benar mengikuti isi pidato ini, yang menempatkan “pemimpin ideologi tertutup” adalah musuh bagi Pancasila, keberagaman, kebhinekaan.

Ada lagi pejabat partai yang memfitnah, menuduh kelompok lain, memprovokasi dengan kata-kata “bunuh mereka sebelum kita dibunuh.” Ini pun bukan termasuk ujaran kebencian.

Perhatikan, mereka ingin Muslim takut dengan agamanya sendiri, hingga tak ada lagi ulama yang berani berkata yang benar yang tak disukai penguasa.

Berkata benar itu berisiko, tapi tidak mengatakan yang benar itu risiko sesungguhnya. Sebab kita bukan hanya menyerahkan diri, tapi juga akidah kita. Sebab Islam itu Al-Haq.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.