Minggu, 3 Maret 24

Uchok: Mafia Beras Kalahkan Blusukan Jokowi

Uchok: Mafia Beras Kalahkan Blusukan Jokowi

Jakarta, Obsessionnews – Ternyata, mafia  beras sangat pintar membaca kebijakan beras era Presiden Jokowi. “Mafia beras tahu, program ketahanan pangan hanya sebuah Janji yang hanya  sampai di bibir Jokowi saja. Target Mafia beras hanya satu, agar Pemerintah Jokowi dipaksa untuk melakukan  impor beras sebanyak banyak ke Indonesia,” kata Uchok Sky Khadafi, Direktur CBA Centre For Budget Analysis, dalam siaran persnya ke Obsessionnews, Mingu pagi (1/3/2015).

Untuk itu, menurut Uchok, langka pertama yang akan dilakukan Mafia,  yang dilakukan adalah mendorong naiknya harga beras. “Agar stok beras di gudang-gudang Bulog terkuras habis untuk operasi pasar dalam rangka stabiliasasi harga,” tandas Pengamat Politik Anggaran ini.

Uchok mengungkapkan, yang diamati oleh mafia itu adalah, bila melihat data terdahalu, realisasi pengadaan Gabah/Beras oleh Bulog rata rata hanya sebesar 46 persen dari target. Oleh  karena, HPP (Harga Pembelian Pemerintah) lebih rendah dari harga pasar. Saat ini saja, Harga pembelian pemerintah dari masyarakat hanya sebesar Rp.3.300/Kg. Sedangkan harga pasar bisa mencapai sebesar Rp.12.500.

“Artinya, masyarakat lebih baik menjual beras melalui pasar daripada menjual ke Bulog. Padahal, Bulog membeli Beras melalui mitra Bulog, dan mitra yang aktif menjual ke Bulog hanya sebanyak 50,87 persen saja,” bebernya.

Jadi, tegas Uchok, disimpulkan bahwa metode HPP tidak efektif menyerap hasil produksi pada dalam negeri. Seharusnya, Jokowi tidak hanya blusukan ke mana mana, tapi harus punya pikiran bahwa metode ini harus dihapus.

“Sebab, HPP ini lebih berfungsi sebagai batas terendah dari harga pasar, dan juga sebagai indikator perlu import beras. Dan HPP bukan untuk membantu petani agar bisa kaya raya malahan petani bisa menjadi miskin,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Uchok, langkah yang kedua akan dilakukan mafia beras adalah ,mendorong pemerintah untuk melakukan import beras. Karena,  stok Gudang Bulog tidak cukup untuk memenuhi  kebutuhan masyarakat. Bila melihat data pemerintah, pada tahun 2014 Indonesia kekurangan beras sekitar 6 Juta Ton.

“Atau bisa dilihat dari  Pemerintah pernah punya target proyeksi produksi padi pada tahun 2013 sebanyak 72.06 Ton. Dan pada tahun 2014 sebanyak 76.56 juta ton. Tapi, ternyata produksi pada pada tahun 2013 sebesar Rp.69.63 juta ton, dan pada tahun 2014 hanya sebanyak  70.98 juta ton,” paparnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.