Rabu, 16 Oktober 19

Ubah Limbah Kartu SIM Bekas, Difabel Ini Ciptakan Miniatur Alutsista

Ubah Limbah Kartu SIM Bekas, Difabel Ini Ciptakan Miniatur Alutsista
* Agung Setiabudi.

Semarang, Obsessionnews.com – Kartu sim telepon hanya menjadi sampah setelah digunakan. Tak jarang kartu-kartu tersebut tertumpuk, dan dihancurkan kembali di tempat daur ulang. Namun, di tangan seorang penyandang disabilitas, kartu sim telepon bekas bisa diolah menjadi mainan bernilai ekonomis tinggi.

Adalah Agung Setiabudi, seorang difabel asal Kampung Ngabangan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Di sebuah kampung sempit, Agung seorang diri berkreasi, membuat mainan-mainan berbentuk unik, yang bahkan laku hingga Amerika.

Kisahnya bermula saat ia divonis mengidap diabetes tahun 2014 silam. Dalam waktu kurang dari dua minggu, kaki kanannya terpaksa harus diamputasi agar bisa selamat. Kehidupannya pun berubah drastis. Ia terpaksa harus berhenti bekerja selama beberapa saat, dan tidak mendapat penghasilan.

“Hingga sampai suatu hari, saya masih ingat betul, hari Jumat, saya melihat kartu sim bekas tercecer di lantai setelah shalat ashar. Saya langsung coba tekuk tekuk dan membuat sebuah mainan replika vespa,” jelasnya lirih, Kamis (8/9/2016).

Karya pertamanya itu ia foto dan sebarkan lewat media sosial facebook. Tak disangka, respon yang didapat luar biasa. Banyak netizen menyukai kerajinannya, dan langsung bertanya dimana bisa mendapatkan vespa mungil tersebut. Alhasil, ia kewalahan karena pelanggan datang silih berganti.

“Dan akhirnya banyak yang berminat, hingga sampai sekarang saya membuat berbagai macam miniatur, tank, kapal pesawat dan harley,” ujar dia.

alutsista-mainan

Satu buah miniatur ia hargai Rp 50 ribu sampai satu juta rupiah, tergantung tingkat kerumitan. Miniatur tersulit adalah replika motor harley davidson, dan termudah motor vespa. Tak terbatas kendaraan beroda saja, Agung mampu membikin miniatur berbentuk kapal perang, pesawat terbang, hingga robot-robotan. Bentuknya pun dapat mengikuti keinginan konsumen.

“Jadi terserah pembeli mau model gimana. Selama bukan benda abstrak, Insya Allah bisa saya buat, hehe,” kata Agung terkekeh.

Selang dua tahun, apresiasi terhadap karya Agung berdatangan. Beragam penghargaan berhasil ia sabet, atas prestasi berkreasi menggunakan bahan bekas. Ia juga membuka program pelatihan, bagi warga yang ingin mengadakan training pemanfaatan sampah rumah tangga.

Kini, Agung masih terus berkutat dengan sampah-sampah kartu bekas di kediamannya. Namun, Agung tak lagi sendiri. Ilmunya satu persatu ia turunkan ke anaknya. Agung berharap, anaknya mampu membuat karya karya lain yang lebih kreatif dibanding dirinya. (igf)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.