Kamis, 29 September 22

Twin Otter Dilarang Terbang, Pedalaman Kaltim Terisolir

Twin Otter Dilarang Terbang,  Pedalaman Kaltim Terisolir

Samarinda, Obsessionnews Akibat larangan terbang sementara oleh Menhub Ignasius Jonan terhadap pesawat Aviastar jenis Twin Otter, pedalaman di Kaltim jadi terisolir. Sejumlah pesawat sejenis yang digunakan dalam penerbangan perintis dari Bandara Temindung Samarinda ke pedalaman Kaltim.

Larangan itu terbit sebagai imbas dari jatuhnya pesawat sejenis di Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan, Jumat (2/10). Kemudian ditemukan oleh tim SAR dari Basarnas di Dusun Paragusi, Desa Ulusalu, Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Senin (5/10). Saat ditemukan kondisi pesawat tersebut hancur dan terbakar.  Sebanyak 10 orang dalam pesawat seluruhnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

“Kondisi pesawat yang ditemukan anggota sudah hancur dan sebagian terbakar, termasuk korban yang ditemukan,” kata Kapolres Luwu AKBP Adex Yusdianto, Selasa (6/10), dikutip dari Antara.  (baca: Tim SAR Evakuasi 10 Jenazah Pesawat Aviastar)

Kondisi Pasawat Aviastar jenis Twin Otter yang jatuh di  Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan.
Kondisi Pasawat Aviastar jenis Twin Otter yang jatuh di Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan.

 
Kini, pesawat sejenis cuma terparkir di bandara. Misalnya Twin Otter DHC-6 dengan register penerbangan PK-BRM, belakangan tidak berbeda dengan yang kini mangkrak di Samarinda, dengan nomor registrasi PK-BRN.

Seharusnya, pesawat itu melayani rute Muara Wahau, Datah Dawai dan Long Apung. Namun kini, instruksi Menteri Jonan, melarang pesawat tersebut terbang sebelum kondisi pesawat itu benar-benar dinyatakan laik terbang.

“Karena memang pesawat setipe juga ada di Samarinda, juga dilarang terbang. Masyarakat masih banyak yang belum tahu Aviastar dilarang terbang,” kata Kepala Seksi Teknik Operasi Keamanan dan Pelayanan Darurat Bandara Temindung, Roesmanto, Rabu (7/10).

Dia menerangkan, larangan terbang pesawat perintis bersubsidi APBN itu, memang sangat berdampak bagi masyarakat yang mengandalkan transportasi udara, antar wilayah terjauh di Kaltim.

“Aviastar itu, dari Temindung terbang empat kali seminggu dengan rute-rute yang saya sebutkan tadi. Sebelumnya penerbangan sering terganggu penundaan hingga pembatalan karena cuaca dan jarak pandang tidak bagus, sekarang ditambah lagi dengan larangan terbang,” ujar dia.

Normalnya, Aviastar mengangkut rata-rata 10 penumpang per harinya, dengan harga tiket penerbangan penumpang bersubsidi Rp500.000 . Sementara untuk angkut barang semisal berupa sembako, lanjut Roesmanto, tidak disubsidi.

Dia juga memastikan, sebelum terbang dari Bandara Temindung, pesawat Aviastar menjalani pemeriksaan rutin. Bahkan pasca instruksi Kementerian Perhubungan terkait larangan terbang Aviastar, otoritas penerbangan di Balikpapan yang membawahi otoritas Bandara Temindung, Senin (5/10) , rampung melakukan pemeriksaan pesawat Aviastar di Bandara Temindung.

“Tapi hasil pemeriksaan seperti apa, saya belum tahu,” tutup dia. (Husni Fahmi/rez)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.