Sabtu, 14 Desember 19

Tumbuhan Bandotan Berpotensi Jadi Zat Antibakteri dan Antiinflamasi

Tumbuhan Bandotan Berpotensi Jadi Zat Antibakteri dan Antiinflamasi
* Mahasiswa FMIPA Unsoed memegang Tumbuhan Bandotan

Tumbuhan bandotan yang memiliki nama latin Ageratum conyzoides Linn merupakan tumbuhan yang hidup di daerah yang tropis salah satunya di Indonesia. Ageratum conyzides Linn termasuk sejenis tumbuhan gulma yang memiliki tingkat perkembangbiakan yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat.

 

Oleh sebab itu, tanaman ini mudah dijumpai di mana-mana, terutama di tempat dengan tingkat kelembaban tanah yang cukup tinggi. Namun, pemanfaatan dari tumbuhan bandotan sendiri masih belum maksimal, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia yang menganggap tumbuhan ini sebagai tumbuhan gulma yang tidak bermanfaat.

 

Tumbuhan bandotan memiliki kandungan senyawa metabolik sekunder seperti flavanoid, alkaloid, dan saponin. Kandungan senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi.

 

Tim Peneliti Mahasiswa FMIPA Unsoed

 

Koordinator Sistem Informasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, Alief Einstein mengungkapkan, mahasiswa dari Fakultas MIPA  Unsoed yang beranggotakan Maylani Permata Saputri (Jurusan Kimia FMIPA 2016), Riani Utami (Matematika FMIPA 2016) dan Jasmine Fadhila (Fisika FMIPA 2017) atas bimbingan Dr Santi Nur Handayani SSi MSi (Dosen Kimia FMIPA Unsoed) melalui PKM-PE melakukan penelitian yang berjudul “Isolasi senyawa Metabolik Sekunder Ekstrak Ageratumconyzoides Linn sebagai antibakteri dan antiinflamasi”.

 

“Latar belakang kami melakukan penelitian ini selain karena jumlah dari jumlah bandotan yang tidak sebanding dengan tingkat pemanfaatannya, penelitian ini juga dilatarbelakangi dari banyaknya kasus-kasus yang berkaitan dengan adanya luka karena infeksi seperti bakteri, yang tidak bisa diobati dengan satu obat sekaligus. Padahal menurut WHO pada tahun 2002 konsumsi obat kimia sintetik yang berlebihan akan memiliki efek samping yang berbahaya” kata Maylani pada 18 Agustus 2018.

 

Menurut Riani salah satu dari anggota Tim PKM Tersebut, menggungkapkan bahwa tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dari tumbuhan bandotan (A.conyzoides), dan untuk mencari kandungan senyawa metabolit sekunder ekstrak daun A.conyzoides sebagai antibakteri dan antiinflamasi.

 

Uji Antiinflamasi

 

Pengertian dari antibakteri merupakan zat yang memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan dapat mematikan (membunuh) bakteri.  Uji anti bakteri dalam penelitian ini menggunakan ekstrak Ageratum conyzoidesdengan konsentrasi  200 mg/ml, 150 mg/ml, 100 mg/ml, 5 mg/ml.

 

Hasil dari uji antibakteri menunjukkan daya hambat eksrak pada konsentrasi 200 mg/ml, 150 mg/ml, 100 mg/ml, 5 mg/ml terhadap bakteri S.aureus dan E.coli berturut-urut 8.7mm, 7.1mm, 7.9mm, 6.64mm, dan 10.9mm, 7.8mm, 7.33mm, 6,89mm.

 

Dari data tersebut menunjukan tidak adanya perbedaan yang signifikan dengan daerah zona hambat yang dihasilkan oleh kontrol positif (amuksilin) sebesar 12.21mm.  A.conyzoidesmemiliki aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dan E.coli dalam kategori sedang, oleh sebab itu A.conyzoides berpotensi menjadi antibakteri.

 

Uji Antibakteri

 

Selain berpotensi menjadi antibakteri, ekstrak tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides) juga berpotensi menjadi obat antiinflamasi. Sementara pengertian dari antiinflamasi merupakan obat yang dapat menghilangkan radang serta pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

 

Penelitian uji antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan 30 tikus putih jenis galur Wistar yang diinjeksi karagenan sebesar 1%. Pengukuran edema dilakukan setelah dan sebelum injeksi dengan interval waktu 30 menit selama 5 jam.

 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun A.conyzoides dengan dosis 30mg/kgBB, 200mg/kgBB dan 448 mg/kgBB memiliki potensi sebagai obat antiinflamasi dengan persen daya antiinflamasi masing-masing 10,43; 21,67; dan 30,34 %.

 

Dosis ekstrak 448 mg/kgBB tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kontrol positif yaitu natrium diklofenak dosis 20 mg/kgBB yaitu 33,053%. Dari penelitian ini menyatakan bahwa ekstrak etanol daun A.conyzoides memiliki aktivitas antiinflamasi.

 

Tumbuhan Bandotan

 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penelitian yang sudah dilakukan oleh tim Maylani menunjukan bahwa tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides) memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi.

 

“Dari hasil penelitian yang sudah kami lakukan menunjukkan bahwa tumbuhan bandotan memiliki aktivitas antibakteri, hal ini dapat ditunjukan dengan adanya daerah zona hambat di sekitar paper disk,” kata Maylani, ketua dari Tim PKM-P.

 

“Kemudian selain memiliki aktivitas antibakteri, ekstrak daun bandotan juga memiliki aktivitas antiinflamasi ditunjukan dengan kemampuan ekstrak daun bandotan dalam menurunkan peradangan pada kaki tikus, sehingga dari hasil penelitian kami menunjukan bahwa tumbuhan bandotan berpotensi sebagai zat antibakteri dan antiinflamasi,” tambahnya.

 

Tim peneliti tersebut mengharapkan bahwa setelah adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang kegunaan tumbuhan bandotan yang awalnya dianggap sebagai tumbuhan gulma oleh sebagian masyarakat. (Red)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.