Jumat, 28 Februari 20

Tuhiyat Wujudkan Wajah Jakarta Lebih Modern Melalui MRT

Tuhiyat Wujudkan Wajah Jakarta Lebih Modern Melalui MRT
* Tuhiyat, Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta. (Foto: Sutanto/Men’s Obsession)

Lalu mengurusi legal division yang diberi tanggung jawab di bidang hukum untuk seluruh proyek MRT Jakarta. Kemudian terakhir, ia juga diberi tugas untuk melakukan pengembangan sumber daya manusia atau human capital.

Human capital ini yang paling berat karena saya berhadapan dengan orang hidup. Nah, human capital ini saya berhadapan dengan karyawan yang tadinya berjumlah sekitar 30-an orang, sekarang sudah bertambah menjadi kurang lebih 660 orang. Langkah awal saat itu saya melakukan MoU dengan Akademi Perkeretaapian Indonesia di Madiun untuk mencari bibit-bibit unggul. Lalu, Sekolah Tinggi Transportasi Darat dan ketiga adalah mengambil SDM yang terbaik dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” jelasnya.

Sebagai Direktur Keuangan Tuhiyat menerapkan prinsip bahwa seluruh proses penganggaran, proses verifikasi, lalu pengeluaran pembayaran sampai dengan tahap reporting harus berdasarkan prinsip governance. Sebab, dengan itu, semua pekerjaan perusahaan bisa berlangsung dengan cepat dan benar. Selain itu, untuk mengembangkan perusahaan, dirinya juga membuka kolaborasi atau kerja sama dengan perusahaan lain dan terakhir meningkatkan kualitas digitalisasi di semua aspek bisnis yang dikembangkan.

“Salah satu inovasi saya soal keuangan adalah saya akan mengoneksikan dengan banking. Semua transaksi di bank tak perlu di-input, di sini sudah langsung. Ini yang  sedang saya garap insya Allah 2020 sudah bisa diterapkan, sehingga operasional perusahaan bisa berlangsung efektif dan efisien. Kemudian, kami melakukan transaksi e-Ticketing dengan QR Code yang terintegrasi dengan e-wallet dan membangun financial modelling system,” jelasnya.

Di masa kepemimpinan Tuhiyat, kinerja PT MRT Jakarta sudah terlihat semakin maju. Laba PT MRT Jakarta di tahun pertama operasi diproyeksikan sebesar Rp60 miliar. Keuntungan diperoleh dari pendapatan non-farebox, seperti iklan, telekomunikasi, naming rights atau penamaan stasiun, dan penyewaan ruang ritel. Sementara pendapatan farebox atau dari tiket mencapai Rp180 miliar dengan posisi rata-rata penumpang per hari sebanyak 84.000 orang. Sedangkan, pendapatan non-farebox, seperti naming rights mencapai Rp225 miliar. Selain itu pendapatan subsidi bisa mencapai Rp560 miliar dan pendapatan lain-lain dari bunga bank dan selisih kurs.

Kini Tuhiyat bersama yang lain tengah membangun kembali jalur MRT Jakarta menuju Kota Tua sampai dengan Ancol Barat. Pembangunan fase II itu akan dimulai pada 2020. Targetnya pembangunan akan selesai pada 2024 mendatang. (Subhan Husaen Albari/Men’s Obsession)

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.