Senin, 18 Oktober 21

Tuhan Akan Lepas Tangan, Bila Kita Meminta Jabatan

Pesan ini mungkin sudah ada dlm suatu rubrik opini. Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan:

“Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.

Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.

Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya tidak sekolah, tidak beribadah atau tidak melakukan kewajiban apapun. Si Bapak tidak peduli pada masa depan anaknya.

Andaikan hidup ini cuma berlangsung sampai di kuburan, maka apa saja beres begitu kita mati. Tapi kan kita tidak mati. Ketika badan disatukan dengan tanah dan sirna secara biologis, kita masuk semester berikutnya, urusan dengan para Pengadil Munkar Nakir, Roqib Atid, Ridwan Malik. Kita kan bukan badan kita ini. Badan Bung Karno kan sudah tidak ada, tapi beliau terus sangat hidup. Tidak hanya hidup dalam hati kita, tapi benar-benar masih dan sedang hidup, dalam sistem fisika dan formula biologis yang tidak seperti sebelumnya.

Kemudian jasad kita direkonstruksi, tubuh kita diutuhkan kembali, bangun dari kuburan, dikumpulkan di depan gerbang kehidupan abadi yang berlangsung dua kali: kholidina dan abada. Dipilah dalam kloter-kloter yang ke surga dan ke neraka.

Beruntunglah orang-orang yang meyakini bahwa akhirat hanya khayalan. Tapi kita tidak mau menjadi orang yang beruntung karena bodoh di dunia, karena buta tuli, tanpa ilmu, ijtihad, makrifat dan imajinasi. Karena tidak bisa dipastikan apakah itu benar-benar beruntung.

Bagaimana kalau ternyata nanti di babak perdelapan final kita mati langkah, menyesali kebodohan kita selama di dunia. Kemudian memohon-mohon agar boleh mengulang hidup di dunia. Lantas umpamanya Tuhan mengabulkan: tapi pada kehidupan kedua di dunia itu kita hanya boleh menjadi lembu, kadal, atau tokek. Atau jadi hantu picisan glundung pringis yang anak-anak kecil pun tidak takut. Bahkan batas ekspresi kita hanya melalui jailangkung, mainan anak-anak di desa-desa dalam rangka pembelajaran Ilmu Katon. (: Mbah Salim, nasihat dari Kyai Kanjeng Cak Nun)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.