Senin, 26 September 22

Tugas Pertama Presidium Setelah Ical Dikudeta

Tugas Pertama Presidium Setelah Ical Dikudeta

Jakarta – Setelah Mahkamah Partai Golkar mengambil alih ‎Ketua Umum partai oleh presidium, maka tugas utama dari presidium yakni merehabilitasi kembali hak keanggotaan tiga kader Partai Golkar yang sudah dipecat oleh Ketua Umum Aburizal Bakrie alias Ical.

‎Mereka adalah, Agus Gumiwang, Nusron Wahid, dan Poempida Hidayatullah. Ketiga orang tersebut telah dipecat secara sepihak karena dianggap telah bersebrangan secara politik dengan Golkar yang secara terang-terangan mendukung Presiden Joko Widodo sejak awal-awal kampanye pemilu presiden.

Setelah rehabilitasi selesai, Agung Laksono‎ yang ditunjuk sebagai Ketua Presidium penyelamat partai oleh mahkamah partai mengatakan, agenda selanjutnya akan kembali menata kondisi internal partai untuk mempersiapkan Musyawarah Nasional (Munas) yang selambat-lambatnya akan diselenggarakan pada 15 Januari 2015.

“Tentu agenda selanjutnya menertibkan kembali situasi politik di internal partai untuk menghadapi persiapan Munas awal tahun depan,” ujar Agung, Selasa (25/11/2014).

Ketua Mahkamah Partai Golkar Muladi mengatakan, ‎pihaknya melakukan kudeta terhadap Ical, lantaran ketua umum ini dianggap tidak mampu menyatukan semua unsur kepentingan politik di partai. Bahkan yang ada Golkar semakin tidak memiliki prestasi yang baik dan cenderung terpecah.

‎”Kami ambil langkah ini untuk penyelamatan partai,” kata Ketua

Mulyadi menunjuk Agung sebagai Ketua Presidium yang beranggotakan delapan calon Ketua Umum Golkar, yaitu Priyo Budi Santoso, Hajriyanto Tohari, Zainudin Amali, Agus Gumiwang, Yorris Raweay, Agun Gunandjar Sudarsa, dan Ibnu Munzir. Mereka ditugaskan oleh Mahkamah Partai untuk memulihkan kembali situasi politik di internal Golkar.Adplus

Terbentuknya Presidium Penyelamatan Partai ini bermula dari ketidakpuasan para kandidat ketua umum dan sejumlah pengurus terhadap kepemimpinan Aburizal, lantaran kubu Ical tetap memaksakan kehendak mempercepat pelaksanaan munas  pada 30 November nanti di Bali.

“Aburizal sudah menggunakan cara-cara intimidatif dan provokatif dalam menggelar munas.” kata Agung.

Diketahui, rapat pleno yang diadakan di Kantor DPP Partai Golkar Selasa malam (25/11/2014) ricuh saat Wakil Ketua Umum Golkar Theo L. Sambuaga mengambil alih pimpinan dan menutup rapat pleno. Pernyataan Theo ini kemudian mendapatkan penolakan dari sejumlah peserta Rapat Pleno Golkar. Situasi menjadi semakin tidak kondusif hujan intrupsi dimana-mana sampai ada beberapa peserta yang melempar botol Aqua. (Abn)

 

 

Related posts