Jumat, 3 Februari 23

Tudingan Makar yang Absurd

Tudingan Makar yang Absurd
* Rachmawati Soekarnoputri ditangkap polisi dengan tudingan akan melakukan makar.
Pemerintahan Jokowi memberangus para aktivis yang bersikap kritis.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pemerintahan Jokowi memberangus para aktivis yang bersikap kritis. Sebanyak sepuluh aktivis pro demokrasi diciduk polisi dengan tudingan akan melakukan makar pada Jumat (2/2/2016), beberapa jam sebelum digelar Aksi Bela Islam 3 di Monas, Jakarta Pusat. Aksi super damai tersebut menuntut polisi memenjarakan Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, tersangka dugaan penistaan agama.

Adapun para aktivis yang ditangkap polisi tersebut antara lain Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, dan Rachmawati Soekarnoputri.

Sri Bintang Pamungkas mantan anggota DPR dari PPP. Pada tahun 1996 Bintang pernah dipenjara karena  bersikap kritis terhadap pemerintahan Soeharto. Selepas dari menjalani hukuman bui pada tahun 1998 Bintang semakin aktif terlibat dalam unjuk rasa menuntut mundur siapapun yang menjadi presiden.

“Ketika seorang aktivis pergerakan cuma mengusung tema ganti presiden dari waktu ke waktu, jelas nggak ada bahayanya.”

“Tema aksi sentral Bintang dari dulu adalah siapapun presidennya harus diganti. Apa skema dan landasan ideologisnya, ngggak jelas. Pokoknya ganti presidennya, urusan lain ditangani belakangan,” kata pengamat politik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, Hendrajit, ketika dihubungi Obsessionnews.com, Sabtu (3/12). “Kalau saya sekarang jadi presiden, menangkap Bintang itu nggak masuk agenda, karena sama sekali tidak berbahaya. Karena ketika seorang aktivis pergerakan cuma mengusung tema ganti presiden dari waktu ke waktu, jelas nggak ada bahayanya.”

hendrajit-direktur-eksekutif-global-future-institute
Pengamat politik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, Hendrajit.

Seperti halnya Bintang, ujar Hendrajit, purnawirawan TNI Kivlan Zein dan Adityawarman  juga sering bikin pernyataan keras terhadap pemerintahan Jokowi.

“Tapi, menurut saya, keduanya nggak punya agenda yang revolusioner sama sekali. Berarti nggak ada bahayanya. Infrastruktur yang menyatukan jaringan sipil dan militer, keduanya menurut penilaian saya nol besar,” tuturnya.

Berdasarkan penilaian tersebut, Hendrajit berkesimpulan Bintang, Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, dan Adityawarman hanya korban dari kenaifan dan fantasi politiknya sendiri. Yang kemudian oleh penguasa kenaifan itu dimantaatkan untuk mengedepankan tujuan-tujuannya sendiri.

“Namun,  ketika dalam skenario itu memasukkan Rachmawati sebagai salah satu daftar tangkap, saya menangkap penguasa mulai out of control. Karena pada perkembangannya bisa jadi kontra produktif bagi penguasa itu sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, bukan karena Rachmawati anak Bung Karno. Tapi karena gagasan dan skema pemikiran Rachmawati justru sangat siap dan penyikapan politiknya pun tidak diarahkan pada Jokowi. Melainkan ke arah perubahan sistem kenegaraan, yang pintu masuknya adalah kembali ke UUD 1945 asli pra empat kali amandemen.

“Sebab, menurut jalan berpikir Mbak Rachma, dan saya kira sejalan dengan banyak kalangan, justru UUD 1945 hasil amandemen empat kali, yang telah melakukan makar terhadap negara. Karena itu harus dikembalikan melalui diselenggarakannya Sidang Istimewa MPR,” tutur Hendrajit.

Pandangan Rachmawati terkini secara terang benderang disampaikan pada pidato di depan para wisudawan Universitas Bung Karno pertengahan November lalu.

“Jadi kalau ini jadi dasar tudingan makar, saya kira sangat absurd. Karena ini merupakan gagasan dan tawaran terbuka kepada seluruh elemen masyarakat, bersifat terbuka dan tidak ada hal yang rahasia dan sembunyi-sembunyi,” tandasnya.

Justru karena Rachma ditahan, ujarnya, bisa bisa ini malah membuka kotak pandora, sehingga wacana kembali ke UUD 1945 akan menemukan momentumnya untuk diketahui dan disosialisikan secara lebih meluas ke segenap lapisan masyarakat. Tentunya dengan segela konsekuensi politik dan hukumnya pula.

Lagi pula sebagai putri Bung Karno yang menguasai secara tekstual pemikiran dan ajaran Bung Karno, kata Hendrajit, kiranya amat sah bagi Rachmawati untuk berkomitmen kembali ke UUD 1945 asli pra empat kali amandemen. Karena bagi dirinya pribadi, meskipun UUD 1945 merupakan karya bersama para founding fathers, namun secara subjektif pastilah Rachmawati berpandangan bahwa Bung Karnolah yang paling mewarnai substansi UUD 1945 asli, khususnya pembukaan UUD 1945 yang mana Pancasila ada di dalamnya.

“Apakah ini the end of the beginning, ataukah justru the beginning of the end? Waktu yang akan menjawab,” pungkasnya. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Prabowo: Lepas 10 Orang yang Dianggap Makar!

Yusril: Bu Rachmawati Tinggalkan Mako Brimob

Yusril: Rachmawati dan Ratna Sarumpet Ditahan Tanpa Diperiksa

Jaringan ’98: Tangkap Ahok, Stop Tuduh Makar Para Tokoh Bangsa!

Jokowi Jangan Lindungi Ahok!

Parmusi: Terkecoh Skenario Kejakgung, Aksi 212 Kehilangan Momentum

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.