Minggu, 2 Oktober 22

Trump Naik, Berjilbab di AS Terancam

Trump Naik, Berjilbab di AS Terancam
* Muslimah berjilbab di Amerika Serikat.

Miami – Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) pada pemilihan presiden belum lama ini memicu eskalasi tekanan terhadap Muslim, terutama Muslimah berjilbab.

Seorang penulis Muslimah AS menilai jalan-jalan di negaranya tidak lagi aman bagi pemakai jilbab, terutama setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden dalam pemilu presiden belum lama ini.

Menurutnya, retorika yang diluncurkan selama masa kampanye telah menebarkan ketakutan dan kebencian bagi umat Muslim di negara itu.

“Tidak lagi aman untuk berjalan di daerah ini dengan mengenakan jilbab,” kata Alaa Basatneh seperti dilansir CNN.

Alaa Basatneh, seorang penulis seputar isu keadilan sosial untuk situs media berita dan budaya, Fusion, tinggal di Miami dan telah mengenakan jilbab selama 12 tahun terakhir. Tapi, ia memutuskan untuk menanggalkan jilbabnya dan mengenakan topi ketika ia keluar rumah pada Rabu (17/11), sepekan setelah Trump mendulang mayoritas suara pemilih dalam pilpres.

Basatneh menceritakan pengalaman pahitnya mendapat perlakuan diskriminatif dari sesama warga AS. Ketika tengah menunggu di ruang tunggu sebuah rumah sakit, seorang pria kulit putih yang lebih tua dan duduk di dekatnya mengeluarkan pisau saku dan meletakkannya di kursi kosong di antara mereka.

“Saya merasa terancam. Saya kaget. Dan saya seperti sedang menunggu untuk ditusuk hanya karena saya mengenakan jilbab,” tuturnya.

Basatneh mengatakan bahwa ketika pria itu berdiri dari tempat duduknya, ia berkata “deportasi saja mereka semua” sambil berjalan melewatinya.

Lebih buruk lagi, tidak ada satu pun warga lainnya di ruangan itu yang bereaksi atas ujaran kebencian yang dilontarkan pria itu.

“Ada sekitar 20 orang di ruangan itu. Dan semua orang hanya lanjut berbicang saja, seolah tak ada yang terjadi,” katanya.

Ia menilai ujaran kebencian yang diluncurkan pria itu maupun ketakutannya tumbuh dari sejumlah retorika Trump yang dinilai anti-Muslim. Pasalnya, konglomerat asal New York itu kerap menyerukan pelarangan masuk AS bagi seluruh umat Muslim, dengan dalih mencegah penyusupan teroris.

Bahkan, Trump belum lama ini menyerukan tes ideologi yang ketat bagi warga Muslim yang ingin menginjakkan kaki di AS.

CNN melaporkan, pemerintah New York akan menerapkan strategi baru dalam mengatasi Islamofobia di kota tersebut.

Langkah baru diambil seiring meningkatnya kasus Islamofobia di New York, dan kali ini ancaman datang dari para pendukung Trump.

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia New York, Carmelyn P. Malalis, mengatakan mereka akan segera meluncurkan lokakarya bertajuk “Memahami Islam” yang diikuti oleh para pegawai pemerintahan dan swasta di kota itu. Lokakarya ini diharapkan mampu mematahkan berbagai mitos tidak benar tentang Islam.

Warga Muslim di New York berjumlah antara 400-800 ribu orang, datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut data pemerintah New York, dalam dua tahun terakhir ada peningkatan perlakuan diskriminasi berdasarkan ras, negara dan agama hingga 63 persen dibanding tahun 2014.

Islamofobia meningkat drastis di New York sejak serangan teroris 11 September 2001 yang meruntuhkan dua gedung WTC di kota itu dan menewaskan ribuan orang. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.