Senin, 18 Oktober 21

Trump akan Diusut Kasus Pelecehan Seksual dan Bintang Porno

Trump akan Diusut Kasus Pelecehan Seksual dan Bintang Porno
* Dugaan wanita yang 'bermasalah' dengan Trump. (Foto: Guardian)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan diusut perbuatannya dalam skandal pelecehan seksual hingga uang ‘tutup mulut’ untuk bintang film porno serta kasus-kasus lainnya, setelah tidak jadi presiden karena kalah dengan Joe Biden dalam Pilpres AS tahun 2020 ini.

Sebagai presiden AS, Donald Trump, punya privilese atau hak istimewa, antara lain perlindungan dari gugatan hukum—baik perdata maupun pidana.

Hak istimewa ini tidak lama lagi akan dicabut menyusul kekalahannya dalam pemilihan presiden 2020.

Begitu privilese dicabut, Trump akan menjadi warga negara biasa.

“Begitu ia meninggalkan Gedung Putih, atmosfernya akan langsung berubah,” ujar Daniel R Alonso, mantan jaksa federal dan jaksa di negara bagian New York kepada BBC.

“Tak ada lagi kekuasaan yang bisa membuatnya terlindungi dari investigasi hukum,” kata Alonso.

Yang paling mengkhawatirkan bagi Trump dan perusahaan real estatnya, Trump Organization, adalah penyelidikan pidana yang dilakukan aparat penegak hukum di New York.

Di luar itu, ada kasus-kasus lain yang menunggu, dan mungkin akan dilanjutkan setelah Trump tak lagi menjabat sebagai presiden, termasuk kasus dugaan penipuan dan pelecehan seksual.

Kasus ‘uang tutup mulut’ untuk bintang film porno
Model majalah dewasa Playboy, Karen McDougal, dan bintang film porno, Stormy Daniels, mengklaim menerima uang sebagai pembayaran agar mereka tak membongkar hubungan seksual mereka dengan Trump, menjelang pemungutan suara pilpres 2016.

Karen McDougal, model Playboy, klaim pernah hubungan badan dengan Trump.(Foto: Getty Images)

 

Bintang film porno Stormy Daniels terima uang ‘tutup mulut’ dari Trump. (Foto: Getty Images)

Kasus ini dikenal dengan skandal ‘uang tutup mulut’.

Ketika McDougal dan Daniels mengungkap keberadaan ‘uang tutup mulut’ pada 2018, aparat penegak hukum menggelar investigasi pidana.

Fokus penyelidikan adalah Michael Cohen, pengacara pribadi Trump.

Saat diselidiki, Cohen mengaku mengatur pembayaran ke McDougal dan Daniels.

Oleh pengadilan, pembayaran kepada dua perempuan ini ditetapkan sebagai pelanggaran pendanaan kampanye dan Cohen dijatuhi hukuman penjara tiga tahun pada 2018.

Di luar penyelidikan terhadap Cohen, masih ada kasus yang ditangani oleh aparat hukum di New York.

Jaksa di Manhattan, Cyrus Vance, tengah menyelidiki apakah Trump Organization memalsukan dokumen perusahaan yang terkait dengan pembayaran kepada McDougal dan Daniels.

Di New York, memalsukan dokumen perusahaan adalah tindak pidana dengan hukuman maksimal satu tahun penjara.

Persoalannya adalah, di New York kejahatan ringan seperti memalsukan dokumen perusahaan punya batas waktu, yaitu dua tahun, sementara pembayaran untuk McDougal dan Daniels dilakukan lebih dari dua tahun lalu.

Mantan jaksa federal Daniel Alonso mengatakan mungkin jaksa di Manhattan tak bisa mengajukan Trump ke pengadilan terkait kasus ini.

Namun bukan berarti kasusnya tertutup sama sekali.

Di New York, memalsukan dokumen perusahaan bisa diajukan ke pengadilan jika tindakan tersebut dilakukan untuk menyembunyikan tindak pidana yang lebih serius, misalnya penggelapan pajak.

Jangka waktu penyelidikan untuk kejahatan yang lebih serius ini lebih lama dan hukuman yang dijatuhkan juga lebih berat.

Kasus dugaan pelecehan seksual
Trump dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa perempuan yang terjadi dalam beberapa dekade.

Trump sendiri menolak semua dakwaan, menggambarkannya sebagai “kampanye hitam untuk menghancurkan reputasi dirinya”.

Banyak di antara para perempuan ini yang buka suara saat kampanye pilpres 2016.

Saat itu, Trump berjanji akan menuntut mereka, namun hingga sekarang langkah itu tidak juga ia ambil.

Justru dua perempuan sudah menggugat Trump.

Salah satunya, E Jean Carroll, kolumnis untuk majalah Elle, yang menuduh Trump memperkosanya di ruang ganti di toko mewah di Manhattan 1990-an. Trump menolak klaim ini.

Dalam gugatannya, Carroll mengatakan Trump mencemarkan nama baik dirinya karena Trump mengatakan “tak mungkin memperkosa karena Carroll bukan tipenya”.

Carroll meminta ganti rugi dan mendesak Trump untuk mencabut ucapannya.

Summer Zervos (kiri) tuduh Trump lakukan pelecehan seksual pada dirinya. (Foto: Getty Images)

Gugatan juga dilayangkan oleh Summer Zervos, mantan peserta di acara televisi Trump, The Apprentice.

Zervos menuduh Trump melakukan serangan seksual dalam pertemuan membahas lowongan pekerjaan di satu hotel di Beverly Hills tahun 2017.

Trump menolak tuduhan ini dan menggambarkan Zervos “merekayasa kasus agar menjadi terkenal”.

Zervos memasukkan gugatan pencemaran nama baik pada 2017 dan menuntut ganti rugi setidaknya US$3.000.

Pengacara Trump berusaha menggagalkan gugatan dengan alasan sebagai presiden, Trump mestinya punya kekebalan hukum.

“Argumen ini dengan sendirinya tak berlaku lagi pada 20 Januari [ketika masa jabatan Trump berakhir],” kata Barbara L McQuade, guru besar ilmu hukum di Universitas Michigan, kepada BBC. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.