Sabtu, 21 Mei 22

TPKP Minta Polisi Hentikan Penyidikan Hersubeno Arief

TPKP Minta Polisi Hentikan Penyidikan Hersubeno Arief
* Hersubeno Arief. (Tangkapan layar YouTube/Hersubeno Point)

Jakarta, obsessionnews.com – Puluhan pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Kemerdekaan Pers (TPKP) mendatangi Polda Metro Jaya, Rabu (10/11/2021). Mereka menyerahkan surat yang ditujukan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Fadil Imran untuk menghentikan penyidikan  perkara  laporan atas wartawan senior Forum News Network (FNN) Hersubeno Arief.

Hersubeno dilaporkan oleh DPD PDI-P DKI Jakarta dengan tuduhan telah menyebarkan kabar bohong (hoax) atas kondisi Kesehatan dari Ketua Umum DPP PDI-P Megawati.

“Pelaporan itu salah alamat. Saudara Hersubeno Arief adalah seorang wartawan. Dia telah berkiprah sebagai wartawan lebih dari 30 tahun, dan secara resmi tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan nomor keanggotaan: 31.00.00791.19. Karena itu semua sengketa berkaitan dengan produk jurnalistik yang dihasilkannya tunduk pada UU pers No 40 Tahun 1999. Tidak bisa ditarik ke ranah UU ITE,” tegas Ketua TPKP Dr. Herman Kadir, SH.M.Hum.

Herman juga mengingatkan, selain UU Pers No 40 Tahun 1999  ada nota kesepahaman  antara Dewan Pers dengan Polri No 2/DP/MoU/II/2017 tentang Koordinasi dalam Perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan Hukum Terkait Penyalahgunaan Profesi Wartawan.

Memorandum of Understanding (MoU) tersebut mengatur dalam hal Kepolisian menerima pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan dugaan perselisihan/sengketa termasuk surat pembaca atau opin/kolom antara wartawan/ media dengan masyarakat, polisi akan mengarahkan yang berselisih/bersengketa dan atau pengadu untuk melakukan langkah-langkah secara bertahap dan berjenjang, mulai dari menggunakan hak jawab, hak koreksi,  pengaduan ke Dewan Pers, maupun proses perdata.

“Jadi tidak boleh main langsung lapor ke polisi. Dan polisi yang menerima laporan tersebut harus mengembalikan prosesnya sesuai Mou antara Dewan Pers dengan Polri,” tegas Herman.

Apalagi dalam kasus Hersubeno, tambah Herman, unsur kabar bohong yang dilaporkan sama sekali tidak terbukti.

Herman mengutip penilaian Dewan Pers yang disampaikan oleh Ketua Komisi Penelitian, Pendataan & Ratifikasi  Pers Ahmad Djauhar, bahwa konten yang ditayangkan dalam channel Youtube Hersubeno Point  pada  hari Kamis tanggal 9 September  2021 dengan Judul : Ketum PDIP Megawati Dikabarkan Koma dan Dirawat di RSPP merupakan produk jurnalistik dan telah memenuhi standar jurnalistik.

“Itu bukan hoax, tapi tayangan yang mengklarifikasi adanya rumor bahwa Ibu Megawati sakit. Itu harus dibedakan” ujar Herman.

Hersubeno, lanjutnya, juga bukan YouTuber. Dia adalah wartawan senior yang menggunakan platform YouTube untuk menyiarkan kontennya.

“Silakan teman-teman baca Pasal 1 Ayat 1 UU Pers No 40 Tahun 1999,” tegas Herman.

“Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang

melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia,” ujarnya.

Sebagai wartawan senior, tambah Herman, Hersubeno telah memenuhi kaidah jurnalistik, yakni  prinsip cover bothside. Meliput dari dua sudut yang berbeda sebagai bentuk tanggung jawabnya memenuhi kode etik jurnalistik.

Dalam tayangan itu selain mengutip berbagai sumber termasuk dari kalangan internal PDI-P, pada bagian akhir tayangan ditampilkan kutipan dari portal tempo.co berupa bantahan dari Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto. Selain itu Hersubeno juga mengingatkan publik agar jangan mudah menyebarkan berita tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi.

“Hersubeno malah mengingatkan  publik agar mengadopsi cara kerja wartawan yang selalu skeptis setiap kali mendapatkan sebuah informasi. Jangan main sebar. Dengan begitu kita terhindar dari penyebaran hoax,” tegas Kadir.

Satu hal lagi, tambahnya, tanpa diminta pun Hersubeno melalui channel Hersubeno Point sudah menampilkan semacam hak jawab dari Megawati.

Ketika Megawati sehari kemudian, Jumat 10 September, muncul ke publik memberikan klarifikasi kabar kesehatannya, maka informasi tersebut ditayangkan dalam format Breaking News dengan judul: Breaking News! Ketum PDIP Megawati Sehat Wal Afiat!

“Ini semacam hak jawab yang tanpa diminta pun langsung ditayangkan. Semua pernyataan Bu Megawati ditayangkan full dengan durasi 9.19 menit,” tandas Herman.

Berdasarkan data, fakta dan ketentuan peraturan perundang-undangan, kode etik jurnalistik yang telah dipenuhi, serta MoU antara Dewan Pers dengan Kapolri, maka TPKP memohon dengan sangat agar penyidikan perkara laporan dari DPD PDI-P DKI Jakarta atas Hersubeno Arief dihentikan.

Herman mengingatkan agar semua pihak menghormati kemerdekaan pers. Karena Kebebasan pers adalah hak asasi yang melekat pada setiap manusia, dan salah satu indikator utama negara demokrasi. (Rud)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.