Selasa, 25 Januari 22

Thomas Lembong, Arsitek Akuisisi BCA Yang Jadi Menteri Perdagangan

Thomas Lembong, Arsitek Akuisisi BCA  Yang Jadi Menteri Perdagangan

Jakarta, Obsessionnews – Mendadak nama Thomas Trikasih Lembong yang dilantik sebagai Menteri Perdagangan RImenggantikan Rahmat Gobel pada reshuffle hari ini, 12 Agustus 2015 mencuat. Dikenal sebagai konsultan investasi, dan dekat dengan Jokowi sebelum masa kampanye. (Baca juga: Soal Reshuffle, Sofyan Djalil: Wajar Menteri Ekonomi Tidak Populer)

Thomas terakhir menjabat sebagai CEO dan Managing Partner dari perusahaan ekuitas swasta terkemuka yang berfocus di Indonesia, Quvat Capital, yang ia dirikan. Beliau telah bekerja dengan Deutsche Bank, Morgan Stanley dan Farindo Investments (joint venture yang berfokus di Indonesia, Farallon Capital ).

Ia menjabat selama dua tahun sebagai Division Head dan Senior Vice-President dari Indonesian Bank Restructuring Agency dan Mitra Pendiri dari Quvat Capital.

6 menteri kabinet

Lembong mendapat gelar AB (Bachelor of Arts) dari Harvard University pada tahun 1994. Quvat memiliki modal USD 500 juta yang berkomitmen dan 11 perusahaan portofolio di berbagai sektor termasuk logistik kelautan, konsumen, dan keuangan. Tom diangkat menjadi Young Global Leader (YGL) oleh World Economic Forum (Davos) di tahun 2008.
Tom Lembong—sapaan akrabnya– merupakan salah satu eksekutif muda yang bersinar di bisnis investasi setelah menjabat sebagai Kepala Divisi Asset Management Investment di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Tom ikut membantu BPPN menjual saham INTP– diserahkan Grup Salim kepada pemerintah Indonesia sebagian bagian dari kucuran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)—kepada Heidelberger AG (Jerman).

Thomas Lembong

Terlibat Akuisisi BCA

Lepas dari BPPN, Lembong mendirikan Farindo Investment — perusahaan joint venture dengan Farallon Capital asal Amerika dengan grup Djarum– yang bergerak di bidang private equity.

Melalui Farindo, Lembong berhasil mengambil alih 51 persen saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dari BPPN melalui proses strategic private placement pada 2002 dengan harga Rp1.775 per saham atau senilai total Rp5,3 triliun seperti dikutip dari laporan pemegang saham BCA.

Awalnya Farallon menguasai 90,64 persen saham Farindo, sedangkan grup Djarum hanya 9,36 persen. Tetapi setelah 2006, grup Djarum menguasai 92,18 persen saham Farindo. Praktis kepemilikan BCA mayoritas jatuh ke tangan grup Djarum.

Kapitalisasi pasar (market cap) saham BBCA per 11 Agustus 2015 sekitar Rp 334 triliun. Sementara per Juni 2015, kepemilikan Farindo di BCA 47,15 persen, artinya saat ini sudah senilai Rp157,5 triliun –naik berkali-kali lipat dari modal awal.
Mendirikan Quvat Capital

Lepas dari Farindo, Lembong mendirikan Quvat Management Pte Ltd — lebih dikenal dengan nama Principia Management Group — pada 2005-2006 bersama dengan Bratanata Perdana dan Soegeng Wibowo. Perusahaan yang juga bergerak di bidang private equity ini pernah membeli 8 persen saham PT Adaro Indonesia pada 2006.

Setahun kemudian, Quvat berhasil menjual saham Adaro dan memperoleh tingkat keuntungan (IRR) 266 persen seperti disampaikan dalam website perusahaan.

Quvat juga fokus pada pemberian pembiayaan melalui utang serta melakukan pembelian obligasi-obligasi yang hampir default (gagal bayar).

“We are really quite expert in lending and fixed income. Investing in distressed bonds can make you a lot of money,” kata Lembong, dikutip dari Forbes. Kala krisis 2008, Quvat membeli obligasi Garuda Indonesia hanya senilai 23 persen dari utang pokok serta membeli obligasi PLN pada harga 18 persen dari utang pokok.

Sementara saat ini Quvat masih menangani investasi di bioskop Blitz Megaplex yang bergerak di industri entertainment (bioskop) yang telah dilakukan sejak November 2006.

***

Sebetulnya bukan kali ini saja Menteri Perdagangan dipegang oleh orang yang memiliki latar belakang di bidang investasi. Kala kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Perdagangan dijabat oleh Gita Wirjawan untuk periode 19 Oktober 2011 – 31 Januari 2014.

Gita menerima banyak kritikan ketika terjadi lonjakan harga bawang merah dan bawang putih hingga 500 persen pada periode Maret-April 2013. Usai bawang, Gita juga tersandung masalah lonjakan harga cabai dan daging impor.

Fakta ini menjadi pertanyaan bagi beberapa kalangan dengan latar belakangnya di bidang private equity, mengapa Lembong terpilih menjadi Menteri Perdagangan.

Dekat Dengan Jokowi

Tom Lembong diketahui dekat dengan Presiden Jokowi sebagai penasihat (adviser). Tom membantu member nasihat investasi pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Salah satu kebijakan yang berasal dari advise-nya yakni soal kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) bagi masyarakat yang mau menarik dana dari luar negeri dan memarkirkan dananya di Indonesia.

Semogo Tom bisa sukses menjalankan amanat sebagai Menteri Perdagangann RI, di tengah ekonomi nasional yang sedang melesu. Seperti rupiah yang terus terpuruk, pertumbuhan ekonomi melambat, dan mahalnya harga daging dan sejumlah barang kebutuhan pokok. (rez)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.