Minggu, 26 September 21

Tol Pejagan-Pemalang Tidak Layak Dijadikan Jalur Alternatif

Tol Pejagan-Pemalang Tidak Layak Dijadikan Jalur Alternatif

Semarang, Obsessionnews – Ruas jalan tol Pejagan-Pemalang yang masih dalam tahap pengerjaan nyatanya tetap akan dibuka pada H-10 Lebaran sebagai jalur alternatif mudik. Hanya kendaraan pribadi yang diperbolehkan melewai jalur sepanjang 20 kilometer tersebut untuk mengurai kepadatan lalu lintas setelah dibukanya jalan tol Cikampek-Palimanan. Meski begitu, ditetapkannya jalur tol itu sebagai alternatif mendapat kritikan dari anggota Komisi D DPRD Jateng, Mohammad Ngainrichardl.

“Tidak layak dijadikan jalur alternatif. Karena dijalur itu masih sebatas tanah yang dikeraskan sehingga akan banyak debu berterbangan.,” kata anggota Komisi D DPRD Jateng, Moh Ngainrichardl kepada awak media, Senin (29/6/2015).

Oleh karena kondisi jalan yang belum dicor dan berdebu, pemudik diperkirakan hanya mendapat jarak pandang sejauh 10 sampai 20 meter saja. Tentu hal tersebut dapat membahayakan pengemudi bila berkendara di malam hari. Terlebih masih minimnya rambu-rambu lalu lintas dan Penerangan Jalan Umum di sepanjang jalur semakin memperbesar potensi kecelakaan.

Menurut Richardl, jika jalur tol Pejagan-Pemalang dijadikan jalur alternatif, harusnya Dishubkominfo dan petugas Kepolisian Lantas menjaga dan menghimbau para pemudik ketika memasuki pintu wilayah tol. Selain itu, petugas jaga wajib melakukan penyiraman jalan sebagai antisipasi terjadinya polusi akibat debu.

“Yang paling rawan itu ketika malam hari seperti belum ada lampu penerangan, debunya juga pasti banyak. Untuk itu, petugas yang berjaga harus menyiram

jalur itu meski malam hari,” imbuhnya.

Berdasarkan data Dirlantas Polda Jateng, hingga Juni 2015, di Jawa Tengah tercatat 110 lokasi rawan kecelakaan. Diantaranya lalu lintas ruas Losari, Pejagan, Bumiayu, Kelirejo yang berada di Brebes, Mantingan-Solo, Kudus-Pati dan ruas Bawen. Sedangkan 113 merupakan titik rawan macet berada di Pasar Bawang dan Pasar Induk Brebes, Surodadi-Tegal, Ambarawa, Wiradesa-Pekalongan, dan Kartosuro. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.