Rabu, 8 Februari 23

Tokoh Tionghoa: Ahok Bukan Pemimpin Bersih

Tokoh Tionghoa: Ahok Bukan Pemimpin Bersih
* Tokoh Tionghoa Lius Sungkharisma.

Jakarta, Obsessionnews – Tokoh-tokoh Tionghoa yang dipelopori Lius Sungkharisma semakin gencar berkampanye menolak Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk maju dalam Pilkada DKI 2017 mendatang. Luis dan tokoh-tokoh Tionghoa lainnya akan mati-matian berusaha menjegal Ahok agar tidak bisa mengikuti Pilkada DKI 2017. (Baca: ‘Nggak Boleh Lagi Ahok Jadi Gubernur’)

Luis menilai Ahok hanya pandai mencitrakan dirinya sebagai pejabat yang bersih dan tidak korup. Tetapi, dengan adanya kasus korupsi Rumah Sakit Sumber Waras, jelas membuktikan bahwa Ahok bukan pemimpin yang bersih.

“Dibilang bersih apa? Saya cuma lihat dia pandai membangun imej saja sebagai tokoh terlihat bersih. Tapi lihat kasus Sumber Waras ini? Mana buktinya dia bersih?” kata Lius seusai diskusi di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2015).

Pengusaha ini mengaku kecewa berat pada Ahok. Menurutnya, banyak juga dari warg a Tionghoa di Jakarta yang mengalami kekecewaan yang sama dengan dirinya. (Baca: Ratna Sarumpaet Nilai Ahok Sombong)

Luis menambahkan, pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober warga Tionghoa yang tergabung dalam kominitas ‘Anti Ahok’ akan menggelar aksi menolak Ahok di Glodok, Jakarta Barat. (Baca: Komunitas Paranormal Dukung Ahok)

“Pimpinan aksinya umurnya sudah 74 tahun. Kita udah anti Ahok. Bukan karena mulutnya saja yang kasar, tapi itikad dia juga dan hatinya juga dianggap sudah jelek,” pungkasnya.

Ahok telah memutuskan maju sebagai cagub dalam Pilkada DKI 2017 melalui jalur independen. Untuk dapat mengikuti Pilkada persyaratan yang harus dipenuhinya adalah mendapat dukungan sejuta KTP. Sejak Juni 2015 para relawan yang tergabung dalam ‘Teman Ahok’ bergerilya mengumpulkan KTP, dan hingga Kamis (22/10/2015) telah mendapat 327.439 fotokopi KTP. Ditargetkan sejuta KTP dapat tercapai pada Juni 2016. (Baca: Ahok Rangkul Cewek Cantik Sebagai Wakilnya)

Semula Ahok kader Golkar dan terpilih menjadi anggota DPR pada Pemilu 2009. Kemudian mantan Bupati Belitung Timur, Bangka Belitung, itu lompat pagar ke ke Partai Gerindra dan mengikuti Pilkada DKI 2012 sebagai cawagub yang berpasangan dengan Joko Widodo (Jokowi). Duet Jokowi dan Ahok memenangkan Pilkada setelah dua putaran. Saat itu mereka diusung oleh PDI-P dan Gerindra.

Pada 2014 Jokowi terpilih menjadi Presiden. Ahok kemudian naik kelas menjadi gubernur dan dilantik di Istana Negara pada 19 November 2014.

Dan pada 2014 itu pula Ahok angkat kaki dari Gerindra, karena tidak sependapat dengan partai besutan Prabowo Subianto tersebut terkait sistem Pilkada. Ketika itu Gerindra mendukung Pilkada lewat DPRD, sementara Ahok lebih setuju Pilkada dengan cara langsung ditentukan masyarakat. (akt/arh)

Related posts

1 Comment

  1. give

    Gerakan “Lawan Ahok” yang terdiri dari masyarakat yang kecewa atas kebijakan Gubernur DKI Jakarta Ahok pada penertiban bantaran kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jakarta Timur, berencana membentuk tim kerja agar mantan Bupati Belitung Timur ini tidak terpilih kembali pada Pilkada 2017.
    “Kami akan bentuk tim kerja yang menargetkan agar Ahok tidak kembali memimpin Jakarta,” kata salah satu aktivis yang tergabung dalam Gerakan “Lawan Ahok”, Ratna Sarumpaet, di Tebet (5/9).
    Menurut Ratna, gaya kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial dan sering mengeluarkan makian dipandangnya dapat mengancam keberagaman di ibukota Indonesia.
    Hal yang sama juga disebutkan oleh perwakilan masyarakat Glodok, Jakarta, Lieus Sungkharisma. Menurut pria keturunan Tionghoa yang juga tergabung dalam Ormas Lawan Ahok, pihaknya berencana membuka posko pencegahan kembali terpilihnya suami Veronica Tan pada pemilihan gubernur selanjutnya.
    Lieus yang sebelumnya merasa bangga ketika masa awal kepemimpinan Ahok, mengungkapkan pernyataan Ahok yang arogan dan mau menang sendiri akhir-akhir ini malah menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat Pecinan di Glodok. “Kalau seperti ini terus, Ahok cukup sampai 2017 saja,” kata Lieus seperti dilansir RMOLJakarta.
    Hal senada juga pernah dikatakan oleh Jaya Suprana, yang membuat surat terbuka untuk mengingatkan Ahok karena dengan tindakannya seperti sekarang, hal ini membuat warga Cina di Jakarta dan seluruh Indonesia cemas jika kerusuhan rasialis berkobar kembali…
    Dulu pada zaman SBY, saya ga pernah mikirin masalah etnis atau beda agama alias cuek aja, di sekolah saya hidup berdampingan bahkan curhat2an seperti sodara sendiri dengan mereka yang beda etnis atau agama, namun seiring waktu berjalan sampai era Presiden Jokowi yg notabene membela ahok dan membungkam media televisi (jd tidak tranparan) saya jd enggan ngobrol bareng dengan mereka etnis tionghoa padahal banyak yg satu profesi dgn saya….
    namun saya berpikir lebih jauh lagi sampe ke ujung dunia…
    dibeberapa artikel media masa kita pasti pernah mendengar istilah “PERANG PROXY” dimana satu negara dengan negara lain saling berebut kepentingan dari ekonomi, politik hingga militer
    nah…kita renungkan sejenak saat ini negara manakah yang berebut kepentingan di Indonesia…..??? coba kita tanya, apakah amerika punya kepentingan di Indonesia, jawabannya pasti YA, dan kita Tanya lagi, apakah negara china punya kepentingan di Indonesia, jawabannya pasti YA. Jadi selama ini negara kita hanyalah dijadikan medan perang bagi mereka. Kita Tanya lagi siapakah yang menjadi korban…. yang kita ini. Pada awalnya kita bersatu walaupun beda agama, beda ras, budaya dll, namun sekarang kita jadi enggan untuk bersama lagi gara2 dua negara adidaya itu.
    Terus terang saya fans berat jokowi tp sekarang saya jd galau nih…

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.