Jumat, 22 November 19

Tokoh NU Pilih Berada di Barisan 01 

Tokoh NU Pilih Berada di Barisan 01 
* Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saling menyapa sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019).(Foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – Pilpres 2019 mempertemukan kembali Joko Widodo (Jokowi) melawan Prabowo Subianto. Sebelumnya untuk pertama kali berkompetisi di Pilpres 2014. Ketika itu Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK), sedangkan Prabowo berduet dengan Hatta Rajasa. Jokowi-JK berhasil memenangkan Pilpres 2014, dan dilantik menjadi Presiden RI dan Wakil Presiden periode 2014-2019.

Di pertemuan kedua pada Pilpres 2019 Jokowi berganti pasangan, demikian pula dengan Prabowo. Jokowi menggandeng Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, sedangkan Prabowo merangkul Wakil Ketua Umum Gerindra Sandiaga Uno. Jokowi-Ma’ruf bernomor urut 01, sedangkan Prabowo-Sandi bernomor urut 02.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen berpandangan tidak bijak mengambil posisi netrasl di Pilpres 2019. Untuk itu pengurus cabang istimewa NU di Australia ini memutuskan mendukung pasangan calon (paslon) 01.

Mencermati perkembangan terakhir, kami berpandangan tidaklah bijak mengambil posisi netral di Pilpres 2019. Tanggung jawab moral membuat kami memutuskan untuk berada di barisan 01 Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin. Mari kawan pilih 01,” kicau Nadirsyah di akun Twitternya, @na_dirs, Minggu (7/4/2019).

 

Baca juga:

Pesta Demokrasi Harus Diisi Kegembiraan dan Kerukunan

Warganet: Kami Selalu Berdoa untuk Kemenangan 01

Demi Bela Habib Rizieq, Dua Anggota FPI Ditangkap Karena Menghina Jokowi

Jokowi Telah Bangun Jalan Tol 782 Km

 

Dari Wali Kota Menjadi Presiden

Jokowi dilahirkan di Solo, 21 Juni 1961. Ia lulusan Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1985. Ia mengawali kariernya sebagai pengusaha mebel. Di kala bisnis mebelnya bersinar Jokowi kemudian terjun ke dunia politik. Ia memilih bergabung dengan PDI-P.

 

Di kala bisnis mebelnya bersinar Jokowi kemudian terjun ke dunia politik.

Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu menugasi Jokowi berkompetisi pada Pemilihan Wali Kota Solo pada 2005. Peluang itu tak disia-siakannya. Jokowi terpilih menjadi Wali Kota Solo periode 2005-2010.

Warga merasa puas dengan kepemimpinan Jokowi, dan memilihnya kembali untuk jabatan periode kedua, yakni 2010-2015.

Belum selesai jabatannya di periode kedua PDI-P memberi tugas kepada Jokowi sebagai calon gubernur untuk berlaga di Pilkada DKI Jakarta 2012. Saat itu Jokowi yang berpasangan dengan kader Partai Gerindra Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara mengejutkan mengalahkan Gubernur petahana DKI Fauzi Bowo yang berduet dengan Ketua DPD Partai Demokrat Nachrowi Romli. Jokowi-Ahok dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

Belum genap dua tahun menjabat Gubernur DKI, Jokowi diusung PDI-P, PKB, Hanura, dan Nasdem bertarung di Pilpres 2014. Jokowi menggandeng politisi Golkar dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Jokowi-JK berhadapan dengan pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa.

Pilpres dilaksanakan pada 9 Juli 2014. Selanjutnya pada 22 Juli 2014 Komisi Pemilihan Umum (KPU mengumumkan Jokowi-JK memenangkan Pilpres dengan meraih suara 70.997.833 suara atau 53,15%, sedangkan Prabowo-Hatta mendapat 62.576.444 suara (46,85%).

Jokowi dan JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2014-2019

Jokowi dan JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2014-2019 di Gedung DPR/MPR, Senin, 20 Oktober 2014.

Piawai Berpolitik

Sejumlah pihak pesimis Jokowi-JK tak akan mampu menyelesaikan tugasnya hingga 2019. Pasalnya mereka mudah digoyang oleh kubu oposisi yang menguasai parlemen. Diprediksi akan dijatuhkan oleh kubu oposisi dan hanya dua tahun menduduki kursi RI-1.

Kubu oposisi tersebut terdiri dari Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan Demokrat. Gerindra memiliki 71 kursi DPR atau 11,74% dari total 560 kursi DPR, PAN 49 kursi DPR (7,59%), PKS 40 kursi DPR (6,79%), PPP 39 kursi DPR 39 kursi (6,53%), Golkar 91 kursi DPR (14,74%), dan Demokrat 61 (10,19%). Kubu oposisi memiliki 353 kursi DPR (60,03%)

Sementara itu kubu pendukung Jokowi memiliki 207 kursi DPR atau 39,97% dari total 560 kursi DPR. PDI-P memiliki 109 kursi DPR (18,95%), PKB 47 kursi DPR (9,04%), Nasdem 35 kursi DPR (6,72%), dan Hanura 16 (5,26%).

Jokowi membentuk Kabinet Kerja pada Senin, 27 Oktober 2014. Berkat kepiawaiannya berpolitik dalam hitungan satu setengah tahun Jokowi berhasil menaklukkan kubu oposisi. Yang pertama bergabung dengan kubu Jokowi adalah PPP. Kader partai berlambang Kabah ini, Lukman Hakim Saifuddin, mendapat jatah sebagai Menteri Agama pada awal pembentukan Kabinet Kerja.

Selanjutnya Jokowi berhasil merangkul Golkar. Kader partai berlambang pohon beringin ini, Airlangga Hartarto, dilantik sebagai Menteri Perindustrian pada 27 Juli 2016.

Jokowi juga berhasil menggiring PAN masuk ke barisannya. PAN mendapat jatah satu menteri, yakni Asman Abnur, yang dilantik sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 27 Juli 2016. Namun, pada 2018 Asman mengundurkan diri, karena partainya mendukung Prabowo-Sandi. Kursi menteri yang ditinggalkan Asman kemudian diduduki oleh Komisaris Jenderal Pol Syafruddin.

Manuver lain yang dilakukan Jokowi adalah kembali memberi jatah satu menteri kepada Golkar, pemenang kedua Pemilu 2014. Kader Golkar Idrus Marham ditunjuk sebagai Menteri Sosial pada 17 Januari 2018. Namun, pada  24 Agustus 2018 Idrus mengundurkan diri karena menjadi tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau 1. Idrus digantikan kader Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita.

 

Dukungan besar dari parlemen sangat penting bagi Jokowi untuk melaksanakan tugasnya

Dengan demikian Jokowi berhasil menguasai DPR. Dukungan besar dari parlemen sangat penting bagi Jokowi untuk melaksanakan tugasnya.

Ini menunjukkan Jokowi piawai berpolitik.

Berduet dengan Ulama Karismatik

Jokowi kembali maju sebagai capres pada Pilpres 2019. Kali ini ia berduet dengan ulama karismatik yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin. Jokowi-Ma’ruf diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, Hanura, dan PKP Indonesia. Jokowi-Ma’ruf mendapat nomor urut 01.

Sementara itu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpasangan dengan Wakil Ketua Umum Gerindra Sandiaga Uno. Prabowo-Sandi diusung Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat. Prabowo-Sandi bernomor urut 02.

Jokowi Meraih Berbagai Prestasi Mentereng

Jokowi maju ke Pilpres 2019 dengan membawa modal penting, yakni meraih berbagai prestasi mentereng selama empat tahun berkuasa. PDI-P menilai selama empat tahun memimpin Indonesia, Jokowi telah berhasil mencetak beragam prestasi. Di antara beragam prestasi itu yakni menggenjot pembangunan infrastruktur di tanaha air. Bagi PDI-P pembangunan infrastruktur secara teknokratis dimaknai dalam peningkatan koneksitas, aksesibilitas, kemudahan mobilisasi, serta ketersediaan daya pengungkit kemajuan.

“Dalam perspektif kebudayaan, infrastruktur itu memperkuat rasa percaya diri, optimisme dan membangun budaya kerja Indonesia berprestasi,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-P Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

Hasto mengatakan, perjalanan empat tahun pemerintahan Jokowi sangatlah dinamis. Awal pemerintahan Jokowi diwarnai dengan penghadangan parlemen, sehingga Jokowi-JK saat itu praktis tidak memiliki kaki di pimpinan DPR dan alat kelengkapan Dewan. Hal tersebut berlangsung satu tahun lamanya, dinamika politik yang tajam, penuh intrik kekuasaan.

Dalam situasi politik penuh hadangan di DPR tersebut Hasto mengatakan, Jokowi terbukti mampu merangkul, membangun keyakinan kolaborasi-gotong royong dengan seluruh komponen bangsa. Dalam empat tahun pemerintahannya, justru Jokowi-JK semakin menuai beragam prestasi.

“Peningkatan keadaban politik terpenting Pak Jokowi adalah menghadirkan kekuasaan di rumah-rumah rakyat melalui tradisi blusukan, program Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, program e-warung, sertifikasi tanah untuk rakyat dan program kerakyatan lainnya,” tutur Hasto.

Hasto melanjutkan, PDI-P menyoroti watak dan kepribadian pemimpin sebagai faktor dominan bagi bangkitnya optimisme bangsa. Banyak orang lupa bahwa penilaian utama seorang pemimpin itu dari watak dan karakternya.

Hasto menilai Jokowi adalah sosok yang tulus, merakyat, dan dengannya instrumen rasa penuh nilai-nilai kemanusiaan mengalir dalam keputusan politiknya. Karenanya, Hasto menyebut kepemimpinan Jokowi sebagai kepemimpinan yang genuine, dan menyapa rakyat dengan ketulusan. Watak kepemimpinan seperti itulah yang mampu membangunkan energi optimisme bangsa.

“Pak Jokowi sangat menghargai proses. Menguatnya rasa percaya diri bangsa di dunia internasional. Semua terjadi karena api perjuangan yang kembali menyala. Sebab tanpa api perjuangan yang menyala-nyala, suatu bangsa akan mati,” pungkas Hasto. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.