Sabtu, 4 Desember 21

TKW Dihukum Mati Karena Lugu, Dititipi Tas Berisi Narkoba

TKW Dihukum Mati Karena Lugu, Dititipi Tas Berisi Narkoba
* Mary Jane Dikenal di Filipina sebagai Warga Miskin dengan Dua Anak. (Kompas)

Jakarta, Obsessionnews – Koordiantor Aliansi Rakyat Mereka (ARM) Moh Jumhur Hidayat selaku Relawan Jokowi-JK dalam memenangkan Pilpres 2014, menyurati Presiden Jokowi agar memberikan grasi terhadap buruh migran asal Filipina Mary Jane yang dijatuhi hukuman mati di Indonesia.

“Terkait dengan kasus hukuman mati buruh migran Mary Jane asal Filipina, saya merasa terpanggil bersurat kepada Bapak, karena berita yang berkembang dia adalah korban perdagangan orang yang dimanfaatkan sindikat narkoba,” kata Jumhur Hidayat dalam suratnya yang dikirimkan kepada Presiden Jokowi, dan disampaikan ke Obsessionnews, Minggu (27/4) pagi dini hari.

Jumhur mengingatkan, saat ini ada puluhan TKI yang sebagian di antaranya korban perdagangan orang, karena keluguannya dimanfaatkan sindikat narkoba internasional. Modusnya diminta membawa tas yang ternyata berisi narkoba sehingga saat ini mereka terancam hukuman mati di berbagai negara. Tenaga kerja Indonesia (TKI) dihukum mati karena lugu, tidak tahu kalau dititipi tas berisi narkoba.

“Sama halnya dengan para TKI yang wajib dibela, maka dirinya, mengetuk pintu hati presiden bisa menggunakan kekuasaan membebaskan Mary Jane dari hukuman mati yang fatal ini,” ungkap mantan Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) ini.

“Demikian juga saya mohon kiranya Bapak berkenan memeriksa ulang beberapa terpidana mati lainnya yg diberitakan mengalami ketidakadilan nyata dalam proses hukumnya,” desak Jumhur yang juga Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) dan Pembina Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia.

Menurut Jumhur, dirinya meyakini, membebaskan terpidana yang juga disuarakan banyakn pihak lain, sama sekali tak akan mengurangi kewibawaan Presiden Jokowi.

“Saya yakin bila Bapak mengabulkan permohonan ini, yang juga disuarakan banyak pihak, sama sekali tidak akan mengurangi wibawa Bapak bahkan sebaliknya akan mendapat dukungan karena Bapak dinilai sebagai sosok yang tegas, arif dan bijaksana,” jelas mantan Aktivis ITB yang pernah dipenjara 3 tahun di LP Nusakambangan oleh rezim Orde Baru ini.

“Perkenankan saya mengingatkan kembali karena barangkali Bapak begitu sibuk, bahwa memberi atau tidak memberi grasi bagi terpidana mati adalah kekuasaan penuh presiden yang memang harus dilakukan dengan pertimbangan subjektif disertai dengan segala kearifan dan kebijaksanaan seorang presiden,” ujar Jumhur dalam suratnya kepada Jokowi.

“Semoga Bapak (Presiden Jokowi) selalu dalam lindungan Tuhan YME sehingga bisa menjalankan tugas-tugas mulia kenegaraan dengan sebaik-baiknya,” tutup Aktivis pemimpin pergerakan buruh ini. (Ars)

Mary Jane
Mary Jane

Kepada Yth.
Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia
Di Jakarta

Assalamu’alaikum wr.wb

Dengan hormat,
Semoga Bapak selalu dalam lindungan Tuhan YME shg bisa menjalankan tugas-tugas mulia kenegaraan dengan sebaik-baiknya.

Perkenan saya menyampaikan bahwa terkait dg kasus hukuman mati kpd buruh migran Mary Jane asal Filipina, saya merasa terpanggil utk bersurat kpd Bapak, krn menurut berita yg berkembang dia adalah korban perdagangan orang yg dimanfaatkan sindikat narkoba. Terkait hal itu saya jadi teringat bahwa ada puluhan TKI yg sebagian di antaranya juga korban perdagangan orang, krn keluguannya juga dimanfaatkan sindikat narkoba internasional (modusnya diminta membawa tas yg ternyata berisi narkoba) shg saat ini mereka terancam hukuman mati di berbagai negara.

Sama halnya dg para TKI yg wajib kita bela, saya mengetuk pintu hati Bapak utk bisa menggunakan kekuasaan Bapak membebaskan Mary Jane dari hukuman mati yg fatal ini. Demikian juga saya mohon kiranya Bapak berkenan memeriksa ulang beberapa terpidana mati lainnya yg diberitakan mengalami ketidakadilan nyata dalam proses hukumnya.

Saya yakin bila Bapak mengabulkan permohonan ini, yg juga disuarakan oleh banyak pihak, maka sama sekali tdk akan mengurangi wibawa Bapak bahkan sebaliknya akan mendapat dukungan krn Bapak dinilai sbg sosok yg tegas, arif dan bijaksana.

Perkenankan saya mengingatkan kembali krn barangkali Bapak begitu sibuk, bahwa memberi atau tidak memberi grasi bagi terpidana mati adalah kekuasaan penuh Presiden yg memang harus dilakukan dg pertimbangan subjektif disertai dg segala kearifan dan kebijaksanaan seorang Presiden

Demikian permohonan ini, atas perkenan Bapak, saya ucapkan terimakasih.

Wassalaamu’alaikum wr.wb

Hormat saya,

Moh Jumhur Hidayat

Moh Jumhur Hidayat
Moh Jumhur Hidayat

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.