Sabtu, 16 Oktober 21

Tingkatkan SDM, HMI Tenggarong Latihan Instruktur

Tingkatkan SDM, HMI Tenggarong Latihan Instruktur
* Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tenggarong mengadakan kegiatan pelatihan instruktur.

Siapa yang tidak mengenal Kutai Kartanegara? Kabupaten di Kalimantan Timur ini dikenal sebagai daerah kaya akan sumber daya alam yang melimpah dan memiliki potensi keindahan alam serta beraneka kehidupan budaya etnik masyarakatnya yang sangat unik.

Panorama alam hutan hujan tropis yang dibelah Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya, serta masyarakatnya adat Dayak yang unik, cerita dari sebuah kerajaan tertua di Indonesia semua ada disini. Kelebihan itu menjadikan Kutai selalu dikenal oleh masyarakat luas.

Namun sayangnya, kemakmuran sumber daya alam di Kutai tidak dibarengi dengan kualitas sumber daya manusianya. Sehingga Kutai masih banyak meninggalkan problem sosial di lapangan yang perlu dipecahkan oleh para generasi muda, khususnya mahasiswa.

Dalam rangka itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tenggarong sebagai organisasi kemahasiswaan ekstra kampus b‎erupaya melahirkan generasi muda yang terdidik, terampil dan kritis dengan mengadakan kegiatan Training Instruktur (TI) Tingkat Nasional.

Kegiatan dengan tema “Terwujudnya Instruktur. Cerdas dan Profisional” ini dilaksanakan di Asrama Atlit Tenggarong Seberang Kabupaten ‎Kutai Kartanegara pada 5-11 Maret 2016.

Mantan Ketua HMI Cabang Tenggarong, Muhammad Arimin mengatakan, di HMI semua kader akan dibina dan dibentuk karakternya agar menjadi insan-insan yang bisa diharapkan oleh masyarakat. Sebab, selama ini kata dia, kontribusi HMI dalam memajukan bangsa ini adalah karena kualitas SDM-nya.

“Dan kegiatan ini bagian dari perkaderan HMI. Sebenarnya masih banyak yang lain. Ini hanya bagian kecilnya saja. Masih banyak yang lain, baik training yang formal maupun yang non formal,” kata Arimin di Tenggarong, Rabu (9/3/2016)

Kedepan, Ia mengatakan, kader HMI akan mendapat tantangan-tantangan yang jauh lebih besar. Misalnya, untuk saat ini, selain dikenal dengan kekayaan alamnya. Kabupaten Kutai juga termasuk salah satu daerah yang memiliki APBD tertinggi yakni Rp 7 triliun.

Arimin sendiri melihat, ‎pemerintah belum bisa mendistribusikan anggaran tersebut untuk kemakmuran rakyat Kutai yang mencapai 600 ribu orang. Kutai memiliki 18 kecamatan dan 200 lebih desa atau kelurahan. “Pemerintah saat ini yang diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan ini ternyata belum sepenuhnya mampu,” katanya.

“Pertanyaan siapa yang akan menggantikan selain dari generasi-generasi muda, kalau bukan mahasiswa,” sambungnya.

HMI -

Dimanjakan

Dari sekian banyak masalah yang dihadapi oleh pemerintah Kutai, Arimin menilai Kabupaten Kutai justru cenderung dimanjakan ‎dengan kekayaan sumber daya alamnya. Sehingga, upaya untuk peningkatan sumber daya manusianya masih kurang.

Akibatnya kata dia, perusahaan-perusahaan tambang di sini banyak mempekerjakan tenaga-tenaga asing untuk ditempatkan diposisi strategis. Sementara, penduduk lokal justru tidak dilibatkan untuk bekerja mengelola sumber da‎ya alam Kutai.

“Promblemnya ya karena memang SDM kita masih rendah. Meski bos-bosnya orang sini, tapi kan kita harapannya tetap bisa membuka lapangan kerja untuk penduduk lokal” tuturnya.

Bila dicermati secara mendalam, Arimin melihat persoalannya memang tidak hanya masalah SDM, tapi juga ada persoalan politik, dan persaingan ekonomi di dalamnya, sehingga mengapa putra-putra daerah di Kutai banyak yang tidak diberi ruang untuk bekerja di daerahnya.

Padahal kata dia, berbicara putra daerah adalah mereka yang terdidik. Terdidik dalam level yang yang paling tinggi adalah mahasiswa. Karena itu ia percaya, jika mahasiswa saat ini tidak bisa mengambil peran untuk mempersiapkan pengganti pemerintah, maka hasilnya akan jauh lebih buruk.

“Oleh sebab itu HMI memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan kader-kadernya orang-orangnya untuk bisa mengambil peran perencanaan pembangunan yang ada di Kutai. Tentunya ini sesuai dengan tujuan HMI menciptakan masyarakat adi dan makmur,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Cabang HMI Tenggarong, Laode Ali Imran menambahkan peran HMI di Kutai adalah menjadi organisasi yang kritis mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah, terutama di Kutai, dan pelatihan ini adalah bagian dari upaya mendidik kader-kader HMI untuk bisa tampil sebagai pemimpin masa depan.

Menurutnya, saat ini HMI mengalami krisis intelektual. Padahal kata dia, berorganisasi harus dibarengi dengan kemampuan berfikir yang tersetrukur dan terarah. “Kami melihat, saat ini nuasa intelektual dalam diri HMI sekarang mulai menurun,” katanya.

Salah satu alasan mengapa HMI bisa bertahan sampai saat ini, karena ada dua sebab, HMI adalah organisasi pengkaderan yang bersifat independen. Karena itu, acara training ini menjadi salah satu media untuk memperbaiki kualitas pengkaderan di HMI.

“Generasi-generasi muda ini nantinya menjadi tim elit untuk menjaga pintu-pintu HMI, dalam menapaki jaman,” jelasnya.

Hariqo Wibawa Satria yang menjadi salah satu pemateri mengapresiasi acara tersebut. Menurutnya, kekakayaan di Kutai, tidak diliat dari banyaknya sumber daya alam. Justru sebaliknya kekayaan alam di Kutai itu terletak di dalam generasi anak mudanya.

“Emas sesungguhnya bukan dalam perut bumi. Tapi di atas bumi yaitu generasi muda Kutai,” tegas Hariqo Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Dimpolasi ini.

Beberapa materi yang diberikan dalam acara tersebut yakni, motode penyampaian kepimpinan metode dan organisasi, pendidikan filsafat, metode penyampaian sejarah, metode penyampaian Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, dan lain-lain.

Adapun pemateri, diantaranya disampaikan oleh Selamet Sanib, Marwan SP, Hariqo Wibawa Satria, Mulyadi P Tamsir, Junaidi Samsudin, Gigih Widya Wirawan, Mubarok, Rusman, Wahono, Arief Maulana, Hanif Ahmad dan Ahlah El-Faz. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.