Jumat, 13 Desember 19

Tingkatkan Kesempatan Kerja, Pariwisata Harus Berkelanjutan dan Inklusif

Tingkatkan Kesempatan Kerja, Pariwisata Harus Berkelanjutan dan Inklusif
* Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan hal itu dalam acara Voyage to Indonesia (VTI) bertema Sustainable Tourism Development Harnessing the Contribution, Preserving the Environment di hotel Aston Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (19/9/2018). (Foto: Kemenkeu)

Banyuwangi, Obsessionnews.com – Pariwisata harus berkelanjutan (sustainable) dan inklusif karena dapat meningkatkan jumlah kesempatan kerja hingga 17 juta orang pada tahun 2028.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan hal itu dalam acara Voyage to Indonesia (VTI) bertema Sustainable Tourism Development Harnessing the Contribution, Preserving the Environment di hotel Aston Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (19/9/2018). Acara VTI ini termasuk rangkaian rangkaian acara menjelang Annual Meetings IMF-World Bank Group (AM IMF-WBG) than 2018 di Bali pada October mendatang, dimana kunjungan ini merupakan bagian terakhir menjelang AM IMF-WBG tersebut.

“Pariwisata ini harus sustainable dan inklusif. Pada tahun 2028 kita perkirakan apabila Indonesia mampu terus mengembangkan sektor pariwisata secara berkelanjutan dan inklusif, kita akan mampu meningkatkan jumlah kesempatan kerja di bidang itu lebih dari 17 juta,” kata Sri seperti dikutip Obsessionnews.com dari situs kemenkeu.go.id. Kamis (20/9).

Pariwisata dianggap sebagai sektor yang dapat menyerap banyak tenaga kerja, karena sifatnya yang melibatkan orang, banyak modal dan teknologi.

“Karena sektor pariwisata memiliki linkage yang banyak, maka industri pariwisata itu bisa labour intensive, bisa capital intensive bisa technological intensive. Karena dia full of services maka muncullah interaksi antar manusia  sehingga industri pariwisata juga bisa dianggap sebagai suatu kegiatan yang bisa menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab,” paparnya.

Sri menambahkan, membangun pariwisata adalah tugas bersama, tidak hanya Kementerian Pariwisata tetapi juga dukungan infrastruktur seperti jalan raya, listrik, telekomunikasi, keamanan dan kepemimpinan pemerintah daerah.

“Jadi, membangun industri pariwisata  menjadi pekerjaan bersama, tidak hanya pekerjaannya Menteri Pariwisata. Kalaupun kita bicara membangun sektor pariwisata, tidak hanya diidentikkan dengan berapa anggaran di Kementerian Pariwisata.  Karena investasi di bidang pariwisata itu berarti investasi pemerintah di bidang public goods seperti jalan raya, listrik, connectivity, communication  termasuk security dan safety. Itu adalah investment pemerintah di luar Kementerian Pariwisata sendiri. Peranan penting lain adalah peranan pemerintah daerah,” tandasnya. (red/arh)

 

Baca juga:

MEET Taiwan Tawarkan Pariwisatanya ke Indonesia

Teknologi Digital Kunci Jadi Entrepreneurs Pariwisata

Cerita Putra Pariwisata Jadi Juru Penerjemah Delegasi Asian Games di Smesco

Pariwisata NTB Berkembang Berkat Kolaborasi Kemenpar dan Pemda

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.