Sabtu, 16 Oktober 21

Tinggi Animo Masyarakat pada Layanan BPJS

Tinggi Animo Masyarakat pada Layanan BPJS

Subang, Obsessionnews – Keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bagi warga Kabupaten Subang, Jawa Barat, sangat membantu saat menderita sakit yang memerlukan penanganan medis. Seperti dialami oleh Yani (45 tahun), warga Sukamelang. Ia menjadi peserta BPJS sejak awal. Berkat BPJS, katanya, pelayanan lebih mudah. Walaupun diakuinya ketersediaan obat masih suka ada yang perlu membeli di luar karena ketersediaan terbatas.

“Tapi itu hanya sewaktu-waktu saja kok,” ujar Yani kepada obsessionnews.com saat menunggu obat di apotek di lingkungan RSUD Subang, Rabu (25/3).

Hal yang sama dikatakan Komar (55 tahun), warga Kasomalang, yang mengaku keluarga besarnya menjadi peserta BPJS kategori mandiri. Bagi Komar selama ini pelayanan BPJS sangat menolong. Terutama bila memerlukan perawatan di rumah sakit seperti yang sekarang dialami mertuanya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Alhamdulillah, selama ini pelayanannya bagus,” kata Komar

Animo masyarakat Subang menggunakan pelayanan BPJS  tinggi. Menurut Kepala Kantor Operasional BPJS Kabupaten Subang, Nano Suryana, sejak 1 Januari 2014 saat pertama kali dibuka dari 1,5 juta penduduk Subang telah terdaftar sebanyak 611 ribu jiwa. “Sebanyak 70 ribu jiwa di antaranya adalah peserta mandiri sampai minggu ketiga Maret 2015,” jelas Nano.

Hingga sekarang BPJS di Subang baru melayani peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sedangkan untuk peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. “Karena satu lain hal (Jamkesda) belum diserahkan. Janjinya akan diserahkan pada 2016,” jelasnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Dr. Budi Subiantoro, melihat tingginya animo masyarakat pada layanan BPJS pihaknya bisa menambah pos-pos layanan sampai ke tingkat kecamatan. “Optimalnya satu kecamatan satu pos layanan,” katanya. Pasalnya, sebagian besar masyarakat yang membutuhkan layanan BPJS ada di desa-desa, sehingga warga lebih mudah menjangkau layanan pendaftaran.

Mengenai ketersediaan obat, kata Budi, sebenarnya dalam BPJS tidak ada khusus alokasi obat. Tetapi dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) ada sebagian uang BPJS untuk membeli obat. “Tapi ‘kan mekanismenya harus melalui tender,” ujarnya. Sedangkan selama 2014 karena belum ada tendernya maka menggunakan obat dari Dinas Kesehatan yang anggarannya Rp 4 miliar – Rp 5 miliar.

“Sekarang sedang membuat Peraturan Bupati (Perbup) untuk pengadaan obat di Puskesmas di tahun 2015. “Kami cuma mendapat alokasi obat Rp 2,3 miliar, padahal idealnya Rp 10 miliar untuk di Subang,” jelasnya. (Teddy Widara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.