Kamis, 29 September 22

Tim Pemberantasan Mafia Migas Ditantang

Tim Pemberantasan Mafia Migas Ditantang

Tim Pemberantasan Mafia Migas Ditantang

Pemerintah telah mempercayakan dan menunjuk Fisal Basri, ekonom dari Universitas Indonesia (UI) untuk menjadi Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas atau yang lebih dikenal public sebagai tim pemberantasan mafia migas, Tim ini diberi waktu bekereja selama enam bulan. Anggota tim juga termasuk orang-orang bekan di dunia pemberantasan korupsi, seperti Chandra Hamzah, mantan KPK dan Teten Masduki, dari ICW. Pertanyaannya adalah sudah sejauh mana mereka bekerja dan apa yang dihasilkan?

Seorang teman dari kelompok Hiswana Migas, sebuah  kelompok organisasi yang anggotanya adalah para pengusaha minyak dan gas, mengatakan bahwa dia tidak percaya kalau seorang Faisal Basri mampu memberantas mafia yang menyelimuti area migas. Ini kita anggap tantangan untuk Faisal Basri, sekaligus tantangan bagi pemerintah, bahwa mereka mampu atau tidak melakukan pemberantasan tersebut.

Saya kira tantangan tersebut bukan hanya berseloroh semata, jika seorang Marwan Batubara, Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRRES) pun ikut meragukan keberhasilannya. Pertama, karena waktu yang diberikan relatif sangat singkat, hanya enam bulan bekerja, dengan waktu sesingkat itu sangat tidak mungkin untuk membedah persoalan yang sudah menggurita dan berkarat. Bayangkan bahwa keberadaan mafia migas tidak Cuma sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun, tetapi sudah puluhan tahun. Bahkan seumur dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mafia migas sudah tidak lagi berada di tangan pertama, tetapi sudah beranak pinak, bahkan bercucu dan berbuyut. Pertanyaannya adalah pemberantasan itu akan dimulai dari mana,jika waktu yang diberikan sangat pendek dibanding masalah yang harus diurai.? Kedua, seperti sudah saya singgung di atas, bahwa karena keberadaan mafia migas ini cukup tua maka akarnya pun menjalar kemana-mana dan sangatlah kuat untuk dirobohkan. Mungkin perlu alat berat semacam bulldozer untuk menghancurkannya, dan Faisal Basri tentu bukanlah alat berat dimaksud.

Ketiga, tim pemberantasan mafia migas yang diketuai Faisal Basri bukanlah tim eksekutor. Tim ini hanya dapat memberikan rekomendasi yang muaranya tentu Presiden Jokowi sendiri yang harus mengeksekusi persoalan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah mampu seorang Jokowi melakukannya? Jawabnya Jokowi pasti berani melakukannya, tetapi belum tentu dia seorang diri mampu melakukannya dan berhasil. Mengapa?

Jawabnya, karena tadi bahwa mafia migas ini sudah beranak pinak bercucu dan berbuyut, sudah berkarat dan  mengakar sedemikian rupa. Dan mereka—para mafia—ini akan saling menutupi dan membela satu sama lain. Sehingga tidak salah jika teman Hiswana tadi pesismis terhadap keberhasilan pemberantasan mafia migas. Kecuali semua elemen pemerintah dan rakyat bersatupadu mengatakan sepakat untuk memberantasnya, barulah kumungkinan akan ada dampaknya. Meskipun  tetap saja untuk keberhasilan seratus persen nyaris tidak mungkin.

Lihat saja dalam skala kecil seperti kasus bentrokan TNI-Polri di Batam yang katanya terjadi  karena salah paham. Namun munculnya kesalahpahaman tersebut sumbernya adalah penimbunan solar illegal, yang mungkin dilakukan mafia migas yang predikatnya cicit. Pertanyaannya bagaimana kelanjutnya dan kondisi sekarang bagaimana? Jika untuk membongkar mafia kelas cicit saja sudah sulit, jangan harap kita mampu membongkar mafia migas kelas babe. Jadi pembentukan tim pemberantasan mafia migas sepertinya hanya aksesoris belaka. Kalau bukan begitu, silahkan Faisal Basri buktikan. (Arief Turatno)

 

Related posts