Minggu, 27 September 20

Tidak Etis Menuduh Sedekah Laut dengan Kesyirikan

Tidak Etis Menuduh Sedekah Laut dengan Kesyirikan
* Acara sedekah laut sebagai tradisi budaya Jawa. (Foto Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Entah apa yang ada dipikiran sekelompok orang bercadar dengan brutal telah membuat keonaran dengan merusak panggung acara Sedekah Laut di Bantul, Yogyakarta, pada Jumat (12/10/2018) malam. Cara-cara kotor itu jelas telah merusak harmonisasi dari keberagaman Indonesia.

Ironi Sedekah Laut tradisi asli leluhur bangsa Jawa yang memiliki kearifan yang tinggi justru dirusak di tanah kelahirannya sendiri. Sedekah Laut adalah bagian dari jati diri Suku Jawa yang melegenda. Tidak pas rasanya jika orang terlalu buru-buru menilai Sedekah Laut sebagai kesyirikan yang jauh dari nilai agama.

Seorang saksi mata sekaligus warga Pantai Baru, Tuwuh mengatakan, kelompok massa yang menggunakan cadar sesampainya tiba di lokasi yang akan digunakan untuk Sedekah Laut langsung melakukan perusakan penjor, memecah kaca meja dan mengobrak-abrik kursi yang siapkan untuk tamu sambil meneriakan kalimat takbir

“Masa bercadar meneriakkan Allahu Akbar dan langsung melakukan perusakan,” katanya kepada wartawan, Sabtu (13/10/2018).

Rasanya buat apa mengucapkan kalimat takbir kalau hati ini masih merasa besar. Merasa benar sendiri, atau merasa kelompoknya yang paling besar. Justru mestinya ketika mengucapkan takbir, kita harus merasa semua di alam semesta ini adalah kecil, karena yang besar dalam jagat raya ini hanya Allah.

Perusakan yang berlangsung selama 15 menit itu telah meninggalkan rasa kelam bagi masyarakat pesisir Pantai Selatan Bantul. Biaya Sedekah Laut mereka dapat dengan cara iuran sesama warga tanpa merepotkan orang lain. Namun justru kini mereka dirugikan dan dinilai melakukan perbuatan syirik.

“Tapi massa bercadar itu meninggalkan spanduk yang terpasang dekat lokasi sedekah laut dengan tulisan ‘Menolak Semua Kisirikan Berbau Budaya Sedekah Laut Atau Selainnya’. Dalam spanduk itu juga ada tulisan Aliansi PETA,” ucapnya.

Bila kita mau berfikir lebih terbuka Sedekah Laut sebenarnya adalah ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan kepada Gusti Kang Akarya Jagat yang telah memberikan rezeki yang tak terkira melalui lautan.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, sedekah laut merupakan ritual leluhur untuk menyelaraskan energi kita, sang jagat alit, dengan lautan (yang merepresentasi elemen air, yang terkait dengan emosi/rasa di dalam diri) beserta segenap penghuninya, baik yang kasatmata maupun niskala.

Inilah cara leluhur bangsa Jawa untuk hidup harmoni dengan alam, menghormati makhluk apa pun yang sama-sama menghuni jagat saling mengasihi dan menghormati.

Sesungguhnya, segala makhluk di alam semesta ini terkoneksi secara batin melalui medan energi halus yang disebut Akasa (Matrix). Untuk bisa berinteraksi dengan semesta dan para penghuninya yang bukan manusia, satu-satunya bahasa yang bisa dipakai adalah bahasa rasa.

Itulah maksud dari ritual apa pun di tanah Jawa, untuk mengheningkan cipta, rasa, karsa kita, agar bisa hidup harmoni dengan segalanya karena seluruh tumitah (makhluk) sejatinya satu adanya.

Penggunaan sesajen (yang penuh simbol) yang dilarung ke laut hanyalah salah satu wahana belaka dari leluhur sebagai ungkapan kasih kita pada lautan dan segenap penghuninya. Bukan untuk pemujaan atau penyembahan. Manusia yang kadunungan sukma sejati tak patut menyembah apa pun selain Gusti semata atau Gusti Allah.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun pun pernah mengatakan tidak bisa seseorang menilai orang lain berbuat syirik hanya gara-gara melihat sesajen, karena syirik sejatinya letaknya ada di hati, dan manusia tidak bisa menilai hati orang. Syirik letaknya di dalam bukan sesuatu yang ada di luar. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.