Selasa, 26 September 23

Tidak Boleh Subsidi BBM Untuk Seluruh Kendaraan Plat Hitam

Tidak Boleh Subsidi BBM Untuk Seluruh Kendaraan Plat Hitam

Imar

Jakarta-Meski harga bahan bakar minyak (BBM) belum dinaikan pemerintah, Komite Ekonomi Nasional memperkirakan harga premium dan harga solar subsidi berada di kisaran Rp 6.500 dan Rp 7.000 per liternya. Perkiraan itu berdasarkan keinginan pemerintah untuk membuat dua harga premium yang berbeda yang tetap disubsidi (Rp 4.500 per liter) dan harga yang dinaikan terbatas ke level tertentu.  

“Mungkin antara Rp 6.500-7.000 per liter, saya pikir naiknya tanggung karena tidak naik ke harga pasar. Kalau itu terjadi, misalnya naik 7.500 rupiah per liter pun, sebenarnya ruang untuk dana sisa subsidinya belum ada artinya. Itu hanya untuk menurunkan defisit anggaran ke level yang lebih acceptable, tapi belum ada uang lebih untuk dana kompensasi,” ujar Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (16/4/2013).

 KEN sendiri, kata Purbaya merekomendasikan semua kendaraan plat hitam dilarang mengkonsumsi BBM subsidi, dan harus membeli dengan harga pasar. Skema tersebut akan menghemat subidi lebih banyak dibandingkan alternatif yang lain.

“Jadi yang tidak boleh pakai subsidi BBM itu seluruh plat hitam, kalau motor, angkutan, maupun transportasi barang masih boleh beli subsidi. Selain akan meminimalkan inflasi juga akan menghemat anggaran kurang lebih Rp 80 triliun, lumayan kan,” tuturnya.

Seharusnya, dengan melihat konsumsi BBM subsidi yang besar, maupun kinerja impor migas yang meningkat, maka kemungkinan kuota BBM subsidi yang ditargetkan pemerintah sebesar 46 juta kilo liter akan terlampaui. Sekalipun ada kenaikan harga, tetapi diyakini jumlah konsumsi tidak akan melambat secara signifikan. Apalagi alat transportasi pengganti belum siap seperti yang diharapkan.

“Tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi ditargetkan 6,8 persen dengan konsumsi BBM nya 40 juta kilo liter sampai 53 juta kilo liter itu pertumbuhannya hampir 20 persen. Saya tidak tahu hitungannya betul apa salah, saya pikir itungannya terlalu besar kenapa kenaikan (kuota) besar sekali padahal pertumbuhan ekonominya tidak jauh-jauh amat dari tahun kemarin,” tuturnya. (rud)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.