Selasa, 29 September 20

Tiananmen 1989, Rezim Komunis China Bantai 10.000 Demonstran

Tiananmen 1989, Rezim Komunis China Bantai 10.000 Demonstran
* Pada awal Juni 1989, massa dalam jumlah besar berkumpul di lapangan Tiananmen. (BBC)

Pada 2017, segepok dokumen dari Inggris yang baru dirilis mengungkapkan bahwa sebuah kabel diplomatik dari Duta Besar Inggris untuk China saat itu, Sir Alan Donald, mengatakan bahwa 10.000 orang telah meninggal dalam aksi demo di Tiananmen 1998.

Tiga puluh tahun yang lalu, Lapangan Tiananmen di Beijing menjadi fokus protes besar-besaran, yang dihancurkan oleh penguasa Komunis China

Peristiwa tersebut menghasilkan salah satu foto paling ikonik pada abad ke-20 – seorang pengunjuk rasa berdiri di depan barisan tank tentara.

Pada 1980-an, China mengalami perubahan besar. Partai Komunis yang berkuasa mulai mengizinkan beberapa perusahaan swasta dan investasi asing.

Pemimpin Deng Xiaoping berharap kebijakan itu dapat membangkitkan perekonomian dan meningkatkan standar hidup.

Namun, upaya itu dicederai praktek korupsi, sementara pada saat yang sama meningkatkan harapan adanya keterbukaan politik yang lebih besar.

Partai Komunis terbelah antara mereka yang mendesak perubahan lebih cepat dan kelompok garis keras yang ingin mempertahankan kontrol negara yang ketat.

Dua orang pengunjukrasa di Lapangan Tiananmen, 1989. (BBC)

 

Pada pertengahan 1980-an, protes yang dipimpin mahasiswa dimulai. Yang ikut serta dalam barisan pemrotes termasuk mereka yang pernah tinggal di luar negeri dan terpapar ide-ide baru dan standar hidup yang lebih tinggi.

Pada musim semi 1989, aksi protes meningkat, dengan tuntutan kebebasan politik yang lebih besar.

Para pengunjuk rasa didorong oleh kematian seorang politisi terkemuka, Hu Yaobang, yang terlibat dalam sejumlah perubahan ekonomi dan politik.

Hu Yaobang kemudian terdepak keluar dari posisi penting partai oleh lawan politiknya dua tahun sebelumnya.

Sekitar sepuluh ribu orang berkumpul pada hari pemakamannya, di bulan April, menyerukan kebebasan menyuarakan pendapat yang lebih besar dan menolak sensor.

Pada pekan-pekan berikutnya, para pemrotes berkumpul di Lapangan Tiananmen, dan diperkirakan pesertanya mencapai satu juta jiwa. Lapangan Tiananmen merupakan salah satu penanda paling terkenal di Beijing.

Di dekat lapangan tersebut, ada makam Mao Zedong, pendiri China modern, Aula Besar Rakyat, yang digunakan Partai Komunis untuk menggelar pertemuan.

Awalnya, pemerintah tidak mengambil tindakan langsung terhadap para pengunjuk rasa. Para pimpinan partai tidak setuju tentang bagaimana cara menanggapinya, sebagian lainnya mendukung upaya kompromi, namun lainnya menginginkan tindakan lebih keras.

Kelompok garis keras akhirnya memenangkan perdebatan itu, dan dalam dua minggu terakhir di bulan Mei, status darurat militer diberlakukan di Beijing.

Salah-seorang pengunjukrasa menduduki truk tentara selama protes di Lapangaan Tiananmen, 1989. (BBC)

Pada tanggal 3 hingga 4 Juni, pasukan mulai bergerak menuju Lapangan Tiananmen, melepaskan tembakan, menghancurkan dan menangkapi para pengunjuk rasa demi mengendalikan situasi di area tersebut.

Pada tanggal 5 Juni, seorang pria menghadang barisan tank yang melintas di lapangan. Dia membawa dua tas belanja dan disorot kamera sedang berjalan untuk menghalangi barisan tank agar tidak lewat.

Dia kemudian ditarik oleh dua pria. Tidak diketahui apa yang terjadi padanya tetapi sosoknya menjadi gambaran yang menentukan dari aksi protes itu.

Banyak yang tewas dalam aksi protes
Tidak ada yang tahu pasti berapa banyak orang yang terbunuh. Pada akhir Juni 1989, pemerintah Cina mengatakan 200 warga sipil dan beberapa lusin anggota pasukan keamanan tewas.

Perkiraan lain memperkirakan yang tewas berkisar antara ratusan hingga ribuan orang.

Pada 2017, segepok dokumen dari Inggris yang baru dirilis mengungkapkan bahwa sebuah kabel diplomatik dari Duta Besar Inggris untuk China saat itu, Sir Alan Donald, mengatakan bahwa 10.000 orang telah meninggal.

Diskusi tentang peristiwa yang terjadi di Lapangan Tiananmen merupakan topik yang sangat sensitif di China.

Unggahan segala sesuatu yang terkait peristiwa pembantaian secara teratur dihapus dari internet, dan sangat dikontrol ketat oleh pemerinah.

Jadi, bagi generasi muda yang tidak merasakan langsung aksi protes 30 tahun silam, mereka hanya memiliki sedikit kesadaran atas apa yang terjadi saat itu. (BBC)

Sumber: BBC News Indonesia

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.