Sabtu, 13 Agustus 22

Terseret Skandal, PM Inggris Terancam Dilengserkan?

Terseret Skandal, PM Inggris Terancam Dilengserkan?
* PM Inggris Boris Johnson. (AFP/CNN)

Enam menteri mengundurkan diri karena lunturnya kepercayaan kepada Perdana Menteti (PM) Inggris Boris Johnson yang terlibat skandal.

Mereka adalah Menteri Sekolah Robin Walker, Menteri Ekonomi pada Kementerian Keuangan John Glen, Menteri Negara pada Kementerian Keadilan, dan Menteri Lingkungan Jo Churchill, Menteri keuangan Rishi Sunak, Menteri Kesehatan dan Sosial Sajid Javid, serta Menteri Anak dan Keluarga Will Quince.

Desakan agar PM Inggris Boris Johnson dipecat/dilengserkan semakin santer terdengar setelah enam menterinya kompak memutuskan mundur dari jabatan mereka. Para menteri Inggris itu memutuskan mundur setelah menganggap Johnson sudah tak pantas memimpin Inggris lagi lantaran berbagai skandal yang menyeret dia dan pemerintahannya.

Menteri Keuangan Rishi Sunak, dan Menteri Kesehatan Sajid Javid, mengundurkan diri pada Selasa (5/7/2022) malam. Sunak dan Javid memutuskan mundur sebagai menteri di kabinet Johnson karena mereka merasa tak lagi bisa menoleransi rentetan skandal yang terus terjadi di pemerintahan.

Pengunduran keempat menterinya ini diprediksi bakal semakin menyudutkan Johnson di hadapan parlemen termasuk dari partainya sendiri, Partai Konservatif. Johnson dijadwalkan akan menghadap parlemen hari ini dalam rapat rutin mingguan yang nampaknya akan banyak membicarakan protes dari para menterinya yang mundur.

Seorang anggota partai Konservatif lainnya di parlemen bahkan menegaskan Johnson harus segera diseret keluar Downing Street imbas skandal yang menyelimuti kepemimpinannya.

“Saya menduga kita harus menyeretnya menendang dan berteriak dari Downing Street. Jika kita harus melakukannya, maka kita akan melakukannya,” kata seorang anggota parlemen dari Konservatif dengan syarat anonim kepada Reuters.

Tapi, mungkinkah memecat seorang perdana menteri?

Di bawah ini adalah sejumlah opsi yang mungkin terjadi dan membuat Johnson terusir dari kursi kepemimpinannya sebagai perdana menteri.

1. Mengundurkan Diri
Dikutip Reuters, Johnson bisa saja memutuskan bahwa dia telah kehilangan dukungan mayoritas anggota partai dan kabinetnya hingga memutuskan mengundurkan diri.

Namun, sejauh ini, belum ada tanda-tanda Johnson mau melakukan ini.

Ketika sejumlah legislator dari partainya sendiri telah mendesak dia mundur, Johnson malah terus menunjukkan keteguhan bahwa dia masih memiliki kewenangan sebagai penguasa Inggris dengan menunjuk Nadhim Zahawi, mantan menteri pendidikan, sebagai Menteri Keuangan yang baru.

Johnson juga menunjuk beberapa pejabat untuk mengisi kursi yang kosong usai empat menteri dan beberapa pejabat lainnya hengkang dari kabinet.

2. Mundur Massal
Jika ada sejumlah anggota kabinet lainnya menyatakan mengundurkan diri dan/atau secara terbuka mendesak sang perdana menteri lengser, hal itu hampir pasti membuat Johnson terpaksa mundur.

Namun, sejumlah laporan media lokal menunjukkan bahwa beberapa menteri senior di kabinet Inggris seperti Menteri Luar Negeri Liz Truss, Menteri Pertahanan Ben Wallace, dan Menteri Peningkatan Level Michael Gove bakal setia bertahan mendukung pemerintahan Johnson.

3. Amandemen UU
Sejumlah anggota parlemen dikabarkan tengah berupaya mengubah aturan partai berkuasa, Partai Konservatif, sehingga mereka dapat mengadakan mosi tidak percaya lebih cepat dari yang diizinkan saat ini.

Pemilihan keanggotaan Komite 1922, komite yang menetapkan aturan tersebut, akan segera diadakan.

Johnson sendiri nyaris tak lolos dari mosi tidak percaya di antara anggota parlemen Konservatif pada Juni lalu.

Mosi itu digelar usai krisis ekonomi membayangi Inggris. Namun, ia masih memiliki dukungan di pemerintahan. Tercatat 211 mendukung Johnson, dan sebanyak 148 memilih agar dia lengser.

Mencari Calon Penerus Johnson
Jika Johnson telah dilengserkan, Inggris akan melakukan proses mencari pemimpin baru yang akan diawasi oleh Komite 1922.

Berikut beberapa langkah pencarian penerus Johnson:

Pertama, kandidat PM Inggris harus dicalonkan oleh dua anggota parlemen Partai Konservatif lainnya. Dengan aturan ini, akan ada banyak kandidat PM Inggris yang masuk kriteria.

Kedua, anggota parlemen Konservatif akan mengadakan beberapa kali jajak pendapat untuk mencari kandidat penerus PM dengan dukungan terbanyak.

Proses jajak pendapat itu akan terus diulang sampai Partai Konservatif menemukan dua kandidat terkuat.

Jajak pendapat pertama sebelumnya telah diadakan pada Selasa dan Kamis lalu.

Dua kandidat dengan dukungan terbanyak kemudian akan masuk dalam jajak pendapat keanggotaan Partai Konservatif yang lebih luas. Kandidat dengan suara terbanyak akan keluar sebagai pemimpin baru Inggris.

Pemimpin partai dengan mayoritas dukungan di House of Commons adalah perdana menteri de facto Inggris. Mereka tak berkewajiban menyerukan pemilihan umum segera, tetapi memiliki kewenangan untuk melakukan itu.

Berapa lama semua proses ini berlangsung?

Panjang waktu perlombaan pencarian suksesi perdana menteri bisa bervariasi, tergantung pada berapa banyak orang yang mengajukan diri menggantikan Johnson.

Pendahulu Johnson, Theresa May menjadi PM Inggris kurang dari tiga minggu setelah David Cameron mengundurkan diri sebagai PM Inggris pada 2016 dan semua pesaing lainnya keluar di tengah perlombaan.

Sementara itu, Johnson menghadapi mantan menteri kesehatan, Jeremy Hunt, dalam pemungutan suara putaran kedua Konservatif untuk menggantikan May pada 2019. Johnson menjabat dua bulan setelah May mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri. (CNNIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.