Senin, 20 September 21

Terorisme di Indonesia

Oleh: Teuku Gandawan,  Direktur #StrategiIndonesia™, Pengamat Politik Nasional

 

Kalau KTP beragama Islam yang jadi acuan, maka ada ratusan juta jiwa rakyat Indonesia yang memilikinya. Bahkan jutaan KTP palsu beragama Islam bisa dibuat secepat kilat. Masih ingat pesanan e-KTP dari Vietnam saat Pilkada Jakarta? Lalu kenapa tidak ada ratusan juta kali peristiwa teroris di Indonesia?

Kalau takbir yang jadi acuan, maka ada ratusan juta jiwa rakyat Indonesia yang mampu melakukannya. Bahkan semua orang normal sehat non-muslim mampu menirukan takbir dengan baik. Ingat sejak kapan Islam masuk ke Indonesia? Ingat sudah berapa puluh tahun kita merdeka? Ingat setiap tahun ada dua kali hari raya Idul Fitri dan Idul Adha? Takbir senantiasa berkumandang. Lalu kenapa tidak ada ratusan juta kali peristiwa teroris di indonesia?

Kalau memiliki panci dan pisau yang jadi acuan, maka setiap rumah di negeri ini memilikinya. Hanya gelandangan yang tidak butuh pisau dan panci, karena mereka lebih butuh diurus oleh negara sebagai fakir miskin. Lalu kenapa tidak semua rumah di Indonesia melakukan tindakan terorisme?

Kalau ber-KTP Islam, mampu takbir, memiliki pisau dan panci, rajin shalat lima waktu menjadi acuan, maka ada ratusan ribu aparat Polri dan TNI yang memenuhi kualifikasi itu. Apakah mereka semua potensial menjadi pelaku terorisme?

Masih ingat jumlah pendukung Aksi Bela Islam? Jutaan orang dan aksi terjadi berulang kali. Saat aksi mereka takbir terus menerus, sambil mengantongi KTP beragama Islam dan tetap melaksanakan shalat lima waktu. Apakah ada aksi terorisme ketika itu?

Berhentilah jadi orang bodoh yang menelan kebodohan karena stigma bodoh. Apalagi kalau anda sendiri seorang muslim yang memenuhi syarat yang sama. Apa anda pikir gara-gara anda Islam, rajin shalat, bisa takbir, punya pisau dan panci di rumah, lalu anda potensial jadi teroris? Tentu tidak dan begitu pula dengan orang lain.

Teroris ya teroris. Bisa di mana saja, bisa ber-KTP apa saja dan aksinya melakukan terorisme karena memang dia bermental teroris, tidak bermental agama apapun. Itu bisa terjadi di kota manapun, di negara manapun dan bisa dilakukan pihak manapun. Bisa pelaku teroris sesungguhnya, bisa juga dilakukan lembaga resmi untuk menyebarkan ketakutan demi kepentingan politik atau demi kepentingan anggaran.

Lembaga resmi? Ya lembaga resmi. Jangan anda pikir film-film intelejen dan mafia itu cuma lamunan, nyatanya sebagian darinya adalah kejadian yang memang terjadi di dunia nyata. Dalam dunia nyata ada yang namanya operasi intelejen, operasi kontra intelejen, operasi kejahatan dan pengelabuannya. Dan semua dilakukan karena ada kepentingannya di situ.

Ingat waktu kecil anda merengek-rengek kepada orang tua untuk meminta agar diberi uang lebih? Ingat waktu bikin proposal kegiatan anda menambah-nambahkan hal yang tidak perlu agar dapat dana sebesar-besarnya? Ingat waktu bikin penawaran kepada calon customer anda menambah-nambahkan komponen agar angka penawaran terlihat wajar? Tahu bagaimana usulan anggaran dibuat dengan berbagai item yang kadang mengada-ada cuma untuk mendapatkan anggaran lebih besar? Ingat berbagai modus yang dilakukan untuk menyelundupkan barang agar terhindar pajak atau menyelundupkan barang ilegal? Semua ada cara dan pelakunya.

Itulah dunia nyata kepentingan politik, kepentingan kekuatan, kepentingan kekayaan. Jadi berhentilah membuat stigma bodoh. Berhentilah menelan mentah-mentah stigma bodoh tentang terorisme Islam.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.