Sabtu, 21 Mei 22

Teror Pahit Kebenaran

Oleh: Iwan PiliangContent Director Sosmed

 

Dalam dua hari ini dunia medsos dipenuhi kabar ihwal Hermansyah ditusuk di tol. Luka dan kendaraan putihmya berdarah, fotonya mengalir viral.

Hermansyah, saya belum kenal. Secara pribadi sebagai figur yang paham forensik digital kami juga belum pernah terlibat dalam kerja tim, dari beberapa kali kerja privat investigasi tim, saya pernah berkolaborasi dengan mereka lulusan ITB. Pemaparan Hermansyah di ILC TVONE saya simak, ihwal chat mesum HRS. Saya dengar kata perkata Hermansyah benar.

Saya sangat prihatin. Kami mengutuk aksi brutal tersebut. Saya dan Santi Sandra Widana membayangkan pahit-sakit, bagaimana perasaan keluarga, sedih, geram, ketakutan.

Sebagai sosok pernah bergiat membongkar korupsi dan ketidakbenaran, saya pernah mengalami dihentikan mobil oleh 5 orang berbadan gede. Mobil Mbak Sandra bukan lagi dibaut, tapi disekrup ban, pernah ditusuk pisau sehingga baju robek dan tertolong karena duluan badannya rebah ke kanan, bila tidak robek pinggang hingga perut kiri. Kalimat pelaku berbonceng motor berteriak ,”Mampus kau kompor meleduk.”

Di lain momen Mbak Sandra sedang nyetir ditodong pistol , “Suruh suamimu diam!”

“Kamu tembak saya bagaimana saya sampaikan ke suami saya?”

Ambulan lewat.

Suaranya ngang-ngeng-ngong.

Penodong pikir polisi.

Mereka kabur.

Selamat.

Kisah di atas bukan di film. Tetapi nyata pernah kami alami. Mobil hitam yang dipakai Mbak Sandra itu hingga kini parkir.

Trauma.

Beberapa kawan mendesak lapor polisi. Bahkan menyarankan untuk dikawal ke mana-mana.

Ancaman lewat telepon jangan ditanya. Kata-kata kami bunuh, bahkan, maaf saya perkosa isterimu, culik anakmu, SMS teror rutin saya terima.

Begitulah.

Kami membayangkan hal paling pahit bagi keluarga Hermansyah selain menunggu kepulihan dari bacokan, adalah mengatasi masalah trauma, faktor psikologis. Faktor perasaan ini paling-paling.

Dari hal seram pernah kami alami, kiat paling hebat keluar dari beban, kian mendekat ke Illahi Rabbi. Doa dan terus menjernihkan hati. Sebab konon doa cepat diterima dari insan yang hatinya bersih. Dan membersihkan hati adalah kerja paling berat saya rasakan dalam hidup.

Akhirnya, jangan pernah berhenti bergerak di jalan kebenaran, walaupun nyawa taruhan. Bila orang benar dibuat takut, dan lalu takut benaran, maka kiamat peradaban. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.