Sabtu, 20 Agustus 22

‘Telolet’

‘Telolet’

Oleh: Hermawan Aksan*)

Sehari kemarin saya terhibur membaca dan melihat berbagai postingan “telolet”. Saya berharap besok dan seterusnya akan ada lagi hiburan lain—entah apa—meski musim sang “telolet” sudah berlalu.

Saking menikmati “telolet”, sampai-sampai saya melewatkan sejumlah adegan menarik. Salah satunya pertemuan Aa Gym dengan Buni Yani. Dalam pertemuan entah di mana itu, Aa Gym menyiramkan nasihat yang saaangat bijak: “Pak Buni Yani, terima kasih atas silaturahimnya, saya berterima kasih. Sudah jadi jalan dari Allah karena tidak ada satu pun yang terjadi kecuali pasti yang Allah yang atur. Jangan kecil hati. Bersyukur saja. Tidak akan ada yang keluar dari laul mahfudz…. Kalaupun ditahan, dinikmati di penjara sebagai bagian daripada pematangan pribadinya dan bisa menemukan keindahan Islam. Kita doakan.”

Ada yang menyebut nasib Buni Yani seperti “habis manis sepah dibuang.”

Tapi bagi saya itu terlalu vulgar. Buni Yani sekarang sudah menjadi selebritas, terkenal di seantero Nusantara—meski mungkin hanya sepeminuman teh, mirip-mirip dengan mantan briptu Norman Kamaru.

Saya lebih suka mengutip puisinya Chairil Anwar: “Sekali berarti, sesudah itu mati.”

*) Penulis, tinggal di Bandung.

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.