Selasa, 26 Oktober 21

Tas Gendhis Tembus Pasar Internasional

Tas Gendhis Tembus Pasar Internasional

Sleman, ObsessionnewsDi tengah maraknya produk tas asing yang akhir-akhir ini menguasai pasaran, pasangan suami-isteri Endro Pranowo dan Ferry Yuliana Sharif justru mengembangkan usaha tas berbahan alami daerah sendiri dengan label Gendhis. Tas Gendhis membidik pasar menengah ke atas.

Berawal dari hobi desain-mendesain, mereka membuat aneka macam tas yang bernilai tinggi. Pemanfaatan bahan alami yang ada di daerah menjadi pilihan untuk jenis tas yang dimilikinya. Berdiri sejak tahun 2002 Gendhis hingga kini tetap eksis di pasaran.

Pengunjung sedang memilih tas Gendhis
Pengunjung sedang memilih tas Gendhis

Tas Gendhis dipasarkan ke hampir seluruh wilayah di Indonesia. Selain itu juga berhasil menembus pasar internasional, yakni Jepang, Amerika, Malaysia, dan Belgia.

Produk tas natural dari bahan-bahan alam ini diproduksi di Ringroad Barat Bedog, RT 04/RW 25, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para pembeli bisa datang langsung kemari untuk melihat produk-produk tas milik Ferry ini.

“Awalnya Ibu Ferry membuka usaha tas dalam skala kecil. Saat itu dia mengandung buah hatinya yang ketiga. Dia menggunakan sepeda motor untuk mencari bahan baku dan pegawai. Ke sana kemari seorang diri demi kesukaannya dengan desain, terutama barang-barang seperti tas. Alhasil berkembang pesat seperti sekarang ini,” terang Djoko Suroso, manajer marketing Gendhis, kepada obsessionnews.com baru-baru ini.

Ferry membuka usahanya pada tahun 2002 lalu. Semula memproduksi sejenis tas saja. Lambat laun bisa berkembang jenisnya hingga sekarang.

Sebelum go green membooming, Ferry melihat ke arah yang berdasarkan bahan baku dari alam. Saat itu Ferry melihat peluang produksi dari bahan-bahan alam itu menjanjikan. Terutama di Yogyakarta sendiri banyak sekali sumber daya alam. Kaya akan tanaman atau tumbuhan alam yang bisa dialihfungsikan menjadi bahan-bahan seperti tas, meliputi eceng gondok, rotan, alang-alang, agel, dan lain-lainnya.

Mengapa dinamakan Gendhis? Tentunya diambil dari kata dari Bahasa Jawa yang berarti manis. “Gendhis itu kan artinya manis. Ibu Ferry ingin mengangkat brand dengan Yogyakartanya. Dan menjadikan desain-desain tas itu manis,” ujar Djoko.

Bahan baku berupa mending, rotan, dan agel yang berasal dari Kulonprogo, DIY, merupakan bahan pembuat tas Gendhis. Nilai ekonomisnya yang tinggi memacu para petani setempat untuk menanam mending, rotan, dan agel.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2010 lalu Gendhis mengeluarkan produk jenis rajut. Rajut dengan model yang sangat fashion. Tadinya rajut hanya sebagai pelengkap. Kemudian akhir-akhir ini menjadi dominasi dalam membuat tas.

Perkembangan yang terbilang pesat ini tak luput dari dukungan suami Ferry, Endro Pranowo. Awalnya Ferry sendiri yang mempromosikan produknya dari mulut ke mulut dalam sosialitanya, kemudian dibantu suaminya.

“Minat konsumen sangat bagus. Sampai-sampai pernah ada konsumen menanyakan produk untuk bulan berikutnya apakah masih ada yang sama seperti bulan ini. Memang belum tentu sama, karena Ibu Ferry akan selalu mengganti dan berinovasi dengan model-model yang baru,” tukas Djoko.

Dia menambahkan, untuk pengiriman bahan baku per bulan mencapai 2-4 stok. Ketika ditanya mengapa segmentasi pasar ke arah menengah ke atas, Djoko menjawab, hal itu disebabkan proses pembuatannya yang butuh waktu cukup lama.

“Untuk mendesain saja Ibu Ferry membutuhkan waktu satu bulan tentunya dengan matang. Order bahan baku juga sampai waktu satu bulan. Berikut untuk finishing membutuhkan waktu satu bulan. Sekiranya sampai menjadi barang jadi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan,” kata Djoko.

Sementara itu Ferry mengatakan, produknya saat ini melihat pasar. Tapi tetap mempertahankan naturalnya sampai kapan pun. Tetap dengan bahan-bahan alam yang ada di Yogyakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Ferry yang dibantu 70 karyawan menceritakan modal awal usahanya sebesar Rp 5 juta. “Dalam seharinya kami bisa mengeluarkan produk sekitar 100 buah dengan model dan variasi tertentu,” ucapnya.

Dia berharap di masa mendatang usahanya lebih berkembang lagi. “Namun tetap yang kami pertahankan adalah natural berangkat dari bahan-bahan baku yang kami gunakan saat ini,” pungkasnya. (Nissa)

 

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.