Minggu, 15 September 19

Taro Aso, Sang Kennedy dari Jepang

Taro Aso, Sang Kennedy dari Jepang
* Mantan Perdana Menteri Jepang, Taro Aso. (Foto: flickr.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Taro Aso nama yang tidak asing lagi di mata publik dunia. Pasalnya dia merupakan Perdana Menteri Jepang ke-92. Latar belakang sosialnya adalah seorang kepala pemerintahan yang beragama Khatolik Roma di tengah masyarakat Jepang, yang mayoritas pemeluk agama Shinto dan Budha. 

Latar belakang sosialnya tidak berbeda jauh dengan John Fitzgerald Kennedy (1961-1963) Presiden Amerika Serikat ke-35, yang juga beragama Khatolik Roma di tengah masyarakat Amerika Serikat, yang mayoritas pemeluk agama Kristen Protestan. Karena kesamaan latar belakang sosial itulah sehingga tidak salah jika Aso dikatakan sebagai Kennedy dari Jepang.

 

Baca juga: 

Kecilkan Daftar Gaji Pendapatan, Bisa Dihukum di Jepang

Susi Ingin Angka Konsumsi Ikan Masyarakat Indonesia Samai Jepang

Pengurangan Risiko Banjir, Indonesia-Jepang Kerja Sama Sejak 1971

 

Nama lengkapnya adalah Taro Aso. Dia  lahir di Iizuka Prefektur Fukuoka, Jepang, 20 September 1940. Seperti kebanyakan pemimpin politik Jepang sejak dulu hingga saat ini, Aso juga berasal dari keluarga politikus dan pengusaha kaya. Kakeknya, Shigeru Yoshida (1946-1947/1948-1954), adalah seorang Perdana Menteri Jepang ternama dan berpengaruh pada zamannya,  karena sukses membangun Jepang yang porak-poranda akibat Perang Dunia II. Sementara itu ayahnya Takakichi Aso (1911-1980) adalah Direktur Aso Cement Company, dan teman dekat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka (1972-1974).

Aso juga memiliki relasi emosional dengan keluarga Kekaisaran Jepang, karena adiknya Nobuko, adalah istri Pangeran Tomohito dari Mikasa, saudara sepupu Raja Akihito. Istri Aso adalah putri ketiga mantan Perdana Menteri Zenko Suzuki (1980-1982). Sehingga boleh dibilang Aso adalah seorang figur, yang berasal dari kelas berkuasa (ruling class) dan keluarga terpandang (respected family) di negara matahari terbit itu. Dia mengenyam pendidikan tingginya pada Universitas Gakushūin, salah satu universitas swasta ternama di Mejiro Toshima Ward, Tokyo.

Aso selanjutnya mengenyam pendidikan tinggi lagi di London School of Economics Inggris, dan Stanford University Amerika Serikat. Dari pengalaman pendidikannya di luar negeri itu, yang kemudian hari banyak mempengaruhi penampilannya sehari-hari dihadapan publik, dimana Aso selalu berpakaian necis, sehingga dianggap ”kebarat-baratan”. Belum selesai kuliah di Stanford, Aso diminta pulang oleh keluarganya, mereka khawatir Aso menjadi ”terlalu Amerika”. Seusai kuliah, Aso lantas bekerja di pertambangan intan di Sierra Leone selama dua tahun. Namun, ia segera pulang karena perang saudara. 

Aso lantas bergabung di perusahaan ayahnya pada 1966 dan menjadi Direktur Pertambangan Aso pada 1973-1979. Sukses menjadi pengusaha, Aso lantas merambah dunia politik, dengan menjabat Pengurus  Partai Demokrat Liberal (LDP),  menjadi anggota Majelis Rendah Jepang sejak tahun 1979 dengan 9 kali masa jabatan. Ketua faksi Ikōkai (faksi Aso) di faksi LDP. Ia pernah menjadi Menteri Urusan Dalam Negeri, Pos, dan Komunikasi, Menteri Luar Negeri (2005-2007) di kabinet Perdana Menteri Shinzo Abe (2006-2007) dan Junichiro Koizumi (2001-2006), Ketua Riset Kebijakan LDP, dan Sekretaris Jenderal LDP pada tahun 2007 dan 2008. 

Jalan panjang Aso untuk mencapai kekuasaan, tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk mencapai jabatan Perdana Menteri Jepang, terlebih dahulu dia harus bertarung merebut jabatan ketua LDP. Kurang lebih sebanyak tiga kali, dia harus bertarung dengan para rivalnya, untuk merebut jabatan ketua partai tertua dan terbesar di Jepang itu. Nasibnya mujur tatkala pada 1 September 2008 Yasuo Fukuda (2007-2008) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua LDP.

Terpilihnya Aso sebagai Ketua LDP, otomatis dia menjadi Perdana Menteri Jepang karena LDP menguasai Majelis Rendah. Parlemen menetapkan Aso sebagai Perdana Menteri Jepang setelah menolak keberatan dari Majelis Tinggi pada Rabu 24 September 2008. Sesuai konstitusi Jepang, Majelis Rendah berhak menolak keberatan Majelis Tinggi dan membuat keputusan jika kedua majelis itu sulit mencapai kata mufakat tentang suatu persoalan. Sehingga Aso pun menjadi Perdana Menteri Jepang pada 2008-2009.

Rupanya kesabaran Aso membawa hasil di kemudian hari. Setelah sebelumnya pada 2001 dia kalah dari Koizumi. Aso kembali menelan pil pahit pada 2006, karena kalah lagi dari Abe. Ketika satu tahun kemudian Abe mundur, Aso yakin ini kesempatan emas baginya. Namun, ia lagi-lagi gagal. LDP ternyata memilih  Fukuda yang dinilai lebih santun dibandingkan dengan Aso yang dikenal keras dan berlidah ”tajam”.

 

Baca juga:

Komitmen yang Kuat Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia-Jepang

Wartawati Jepang Tanya Timnas Indonesia Latihan Habis Sholat Subuh

Hebat! PM Jepang Desak Usut Pembunuhan Muslim Rohingya

 

Baca halaman selanjutnya

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.