Senin, 14 Oktober 19

Tanjung Priok akan Jadi Pelabuhan Transshipment Port di Asia

Tanjung Priok akan Jadi Pelabuhan Transshipment Port di Asia
* Kapal besar bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (foto: Edwin B/Obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Keinginan pemerintah untuk menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebagai transshipment port di kawasan Asia bukan sekadar angan-angan. Sebab PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau  Indonesia Port Corporation (IPC) sampai saat ini Kamis (12/4/2018), telah menyiapkan roadmap yang membuat IPC menuju world class port, dengan memperbaiki pelayanan dan jasa di pelabuhan, baik dengan optimalisasi penggunaan sistem IT, operasional, fasilitas, maupun infrastrukturnya.

IPC berharap dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan pelayaran dan pemilik kargo dapat menjadi pemicu kedatangan kapal-kapal besar untuk melakukan konsolidasi muatan di Tanjung Priok sehingga dapat memenuhi harapan pemerintah.

“Yaitu menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment yang diperhitungkan di kawasan Asia.” ujar Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya.

Pembuatan Container Freight Station (CFS) Center ditujukan untuk memberi pilihan dan kemudahan bagi pengguna jasa dalam bertransaksi serta tansparansi dalam hal biaya yang dikeluarkan. Dengan integrasi tiga pusat konsolidasi kargo atau CFS di Pelabuhan Tanjung Priok. IPC optimis bahwa volume penanganan kontainer LCL akan terus meningkat karena sejak dibuka pada 20 November 2017, volume transaksi mengalami lonjakan.

“Per 18 Januari 2018, volume transaksi telah mencapai 5.564 transaksi atau 309 transaksi per hari. Sementara itu, saat memulai debut perdana di November, rata-rata transaksi per hari hanya 42 transaksi,” ungkap Elvyn.

Integrasi CFS juga bakal diterapkan di pelabuhan lain yang masih dalam wilayah kerja IPC. CFS hadir agar proses pelayanan menjadi ringkas atau sederhana sehingga menjadi efisien bagi pengguna jasa, dimana integrasi CFS mencakup manajemen data pelanggan, CFS booking service, layanan nota, pembayaran elektronik, tracking cargo, dan customer care.

Selain sistem CFS yang sudah berjalan online dan beroperasi 24/7, kedepannya, sistem layanan CFS akan terus disempurnakan dan ditambah fitur baru seperti multi channel payment serta invoice langsung ke pemilik barang/consignee.

Pada bulan Desember 2017 IPC mencatatkan sejarah dengan lahirnya anak perusahaan ke- 17 yaitu PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) sebagai satu-satunya anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang investasi yang memfokuskan diri pada industri kepelabuhanan.

Selain itu, anak perusahaan IPC yang bergerak dalam layanan kapal yakni PT Jasa Armada Indonesia, Tbk (JAI) telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tercatat dengan kode saham “IPCM”. Harga IPO saham JAI ditetapkan sebesar Rp 380 per lembar saham dan telah naik sebesar 5% di hari pertama pencatatan serta mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) saat proses penawaran awal (bookbuilding) sebanyak dua kali.

IPC juga kembali akan mengeksplorasi dan mempersiapkan pelaksanaan IPO terhadap anak perusahaannya PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) yang bergerak di bidang usaha terminal kendaraan. IPO PT IKT ini direncanakan untuk diperdagangkan di Bursa Efek pada semester I tahun ini. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.