Jumat, 24 September 21

Tanjung Perak Kini Disandari ‘Kapal Raksasa’

Tanjung Perak Kini Disandari ‘Kapal Raksasa’
* KM Marina Star 3 tengah muat peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Kamis (21/5/2015). (Obsessionnews.com/ Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews  – MV Marine Bia Voy 009 kapal besar dengan kapasitas 50.000 Dead Weight Tonnage (DWT) sandar perdana di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jumat (22/5/2015). Pasca proyek revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), kapal barang dari luar negeri ingin ke Indonesia , tidak perlu lagi transit di Singapura.

Kapal besar muatan di atas 5.000 TEUs (twenty foot equivalent units) dengan kapasitas 80.000 DWT bisa sandar di Pelabuhan Tanjung Perak. Pasalnya, alur pelabuhan Tanjung Perak kini memiliki kedalaman hingga minus 13 meter LWS dan lebar 150 meter. Selama ini, kedalaman hanya mencapai minus 9,5 meter  LWS dan lebar 100 meter, hanya mampu mengangkut peti kemas muatan 1.500 TEUs.

“Kapal dari luar negeri langsung bisa menuju ke Surabaya dan tak perlu transit di Singapura. Pelabuhan Tanjung Perak kini bisa membuka jalur pelayaran langsung menuju Tiongkok dan Eropa,” ungkap Sekretaris Perusahaan Pelindo III (Persero), Yon Irawan kepada wartawan dalam jumpa pers Revitalisasi Pelayaran Barat Surabaya dan Terminal Teluk Lamong, Kamis (21/5/2015).

Menurut dia, masuknya kapal generasi kelima akan berdampak pada daya saing logistik nasional yang berpengaruh pada harga jual barang ke konsumen. Dengan selisih waktu maka efisiensi lebih besar karena biaya kapal US$2.500-US$3.000 per jam bisa berkurang.

“Tarif penanganan kontainer (container handling charge) Rp61.000 per boks,” jelas Yon.

Revitalisasi tersebut, lanjut Yon, tidak hanya berdampak positif bagi Pelabuhan Tanjung Perak dan Teluk Lamong, tetapi juga mendongkrak ekonomi Jawa Timur mencapai 7 persen di atas pertumbuhan nasional yang hanya sekitar 6 persen.

“Bisa lebih tinggi dari ekonomi nasional 5,8 persen. Begitu lancar (Terminal Teluk Lamong) maka barang semakin banyak masuk,” tambahnya.

Sedangkan, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, Prasetyadi mengatakan sedikitnya 30 ship call kapal domestik  sejak uji coba operasional Terimal Teluk Lamong pada 11 November 2014 lalu. Dengan cost transport yang semakin murah, diharapkan dalam 6 bulan ke depan dengan hadirnya kapal-kapal besar 5.000 DWT tingkat okupansi bisa mencapai 70%.

“Dari total kapasitas yakni 1,6 juta TEUs, okupansinya baru mencapai 50-60 persen,” ungkapnya. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.