Kamis, 12 Desember 19

‘Tangan Dingin’ Profesor Sutarto Ubah ULM Bercita Rasa Internasional

‘Tangan Dingin’ Profesor Sutarto Ubah ULM Bercita Rasa Internasional
* Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof Sutarto Hadi, yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI) beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. (Foto: dok ULM)

Banjarmasin, Obsessionnews.com — Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sedang dalam pencapaian yang luar biasa. Di tangan Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc, kampus kebanggaan urang Banua ini menjadi universitas terkemuka dan bercitarasa internasional. Titik pencapaian besar yang ditorehkan ULM pada 19 Maret lalu, dimana perguruan tinggi di Kalimantan Selatan ini mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Dari 4.500 perguruan tinggi seluruh Indonesia, hanya ada 94 universitas yang institusinya meraih akreditasi A.

“Target saya, di periode kedua ini ULM mendapat akreditasi internasional, seperti dari AUN-QA (Asean University Network- Quality Assurance),” ungkap Sutarto belum lama ini.

ULM adalah perguruan tinggi negeri yang berkedudukan di Banjarmasin, dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Universitas ini didirikan pada 21 September 1958. Kampus ini didirikan dengan tujuan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan dan menyebarkan luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang berkemampuan akademik dan profesional, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa terutama di daerah Kalimantan.

Sejak dipercaya menjadi Rektor ULM selama dua periode, Sutarto mampu menjalankan amanahnya dengan baik. Sejumlah prestasi pun dipatri civitas akademika, di antaranya 15 hak paten inovasi dan penemuan sepanjang 2019. “Peraih paten mendapat penghargaan sekaligus uang Rp15 juta per paten. Saya sangat senang karena dari target 5 paten sesuai kontrak saya dengan Pak Menteri, Alhamdulillah berhasil tercipta 15 paten,” ungkap Sutarto.

Wasaka Team yang beranggotakan 16 mahasiswa Fakultas Teknik ULM yang berasal dari sejumlah prodi, yakni Prodi Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Lingkungan, dan Teknik Pertambangan juga berhasil menciptakan mobil listrik. Mobil ramah lingkungan tersebut pun kini sudah digunakan untuk operasional kampus.

“Tren sekarang memang mobil listrik. Jadi, kami berikan dukungan penuh pendanaan pembuatannya. Ini prototipe pertama, tapi saya berharap mobil ini terus dikembangkan menjadi city car atau sejenisnya dengan kecepatan yang lebih bagus,” harapnya.

Pretasi lainnya adalah Aida Fitriah, mahasiswi ULM Prodi Studi Kimia, mahasiswi dari Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ULM, berhasil lulus sebagai delegasi Kalimantan Selatan untuk Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2019.

Terpilih menjadi satu-satunya delegasi di Provinsi Kalsel pada ajang dua tahunan ini tentu bukanlah hal yang sepele. Apalagi sampah laut khususnya sampah plastik memang telah menjadi permasalahan selama ini, yang mana Indonesia sendiri menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Aplikasi yang digagas Aida dengan sistem menjemput sampah ini membuat masyarakat lebih praktis membuang sampah tanpa harus repot-repot keluar rumah. Tidak hanya itu, di aplikasi ini juga menyajikan edukasi yang menambah pengetahuan masyarakat terkait sampah.

“Mahasiswa teknik pertambangan ikut mining competition kami juga kami support, Alhamdulillah juara nasional. Mahasiswa kedokteran juga langganan juara di tingkat Asean. Saya pikir, mahasiswa ULM potensinya besar, sepanjang kami memberikan dukungan yang konstruktif, mereka bisa tumbuh menjadi SDM yang unggul dalam bidangnya masing-masing,” terang Sutarto.

Ciptakan SDM Unggul

Menurut Sutarto sekolah punya tanggung jawab besar menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab yang bahkan lebih besar, menjadikan lulusan sekolah menengah menjadi SDM yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Tak kalau penting, tanggung jawabnya untuk menciptakan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, ia pun selalu mendukung mahasiswanya untuk berkarya.

“Sebagai universitas yang lahir dari rahim pejuang kemerdekaan, Universitas Lambung mangkurat (ULm) mendidik putra-putri bangsa yang berjiwa Pancasila, berakhlak mulia, dan berilmu pengetahuan untuk mengisi kemerdekaan dalam wadah NKRI,” katanya.

Kerja Sama ULM dengan Cambridge University. (Foto: dok ULM)

Ia menggagas kerja sama dengan kampus lainnya dilakukan, semisal dengan University of Colorado, Denver, Amerika Serikat, Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan MIT dalam riset di bidang teknologi transportasi, dan beberapa perguruan tinggi dalam negeri menerima hibah untuk mendirikan sebuah pusat penelitian kolaboratif (Center for Collaborative Research/CCR), dari program kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan US Agency for International Development (USAID), yakni The Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA).

“Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Utsunomiya University (Jepang), Newcastle University (Australia), Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Philippine Women’s University,” tambahnya.

ULM Songsong Indonesia Emas

Dalam menyongsong Indonesia Emas pada 2045, perguruan tinggi menjadi salah satu tumpuan. Ini menjadi sebuah tantangan, di mana lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya kompeten secara akademik, tapi juga memiliki karakter unggul serta kreatif dan inovatif. Menjawab tantangan tersbeut, Sutarto pun menjuruskan berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Dari peningkatan kualitas tenaga pendidik hingga mendorong lulusan berdaya saing.

Sejalan dengan program tersebut, pihaknya akan mendorong dosen ULM untuk menulis jurnal internasional. Semakin banyak jurnal internasional yang diterbitkan, sambung Sutarto, otomatis kualitas tenaga pendidik ULM tak perlu diragukan lagi. Tak hanya itu, ULM juga terus mendorong para dosen untuk mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai profesor karena diyakini semakin banyak guru besar akan semakin meningkat kinerja lembaga.

“Kami bertekad bahwa ULM ini satu prodi minimal satu guru besar terus kami gaungkan,” tegasnya.

Mulai tahun depan, Sutarto mewajibkan setiap dosen harus meneliti sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bahkan, rektorat akan menyiapkan dana minimal Rp20 miliar dari anggaran universitas untuk kegiatan penelitian. “Sehingga, kalau seluruh dosen meneliti, dalam setahun paling tidak ada 300 sampai 400 judul penelitian yang bisa masuk di jurnal nasional dan internasional serta mendapat hak paten juga lebih banyak,” terangnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.