Selasa, 4 Oktober 22

Taman Budaya Raden Saleh Bakal Digusur untuk Bangun Trans Studio?

Taman Budaya Raden Saleh Bakal Digusur untuk Bangun Trans Studio?
* Taman Budaya Raden Saleh di Semarang. (Foto-foto Yusuf Isyrin Hanggara/obsessionnews.com)

Semarang, Obsessionnews – Pembangunan Trans Studio yang dilakukan dengan menggusur lokasi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang menuai kecaman dari para seniman lokal. Ketua Dewan Kesenian (Dekase) Semarang Mulyo Hadi Purnomo menyayangkan bila TBRS, tempat berkumpul komunitas seni di Semarang dialihfungsikan tanpa adanya solusi lain.

“Semarang tidak memiliki ruang berkesenian untuk umum selain TBRS. Selain itu TBRS menjadi penopang kreativitas pecinta seni atau budaya Semarang. Ini sangat diperlukan bagi kota seperti Semarang yang masih berjuang untuk menunjukkan dirinya sebagai kota yang memiliki potensi seni dan budaya besar,” tutur Mulyo kepada obsessionnews.com di Semarang, Sabtu (7/3).

Ia menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang belum menepati janjinya terkait sosialisasi pembangunan Trans Studio, mengingat di TBRS seringkali diadakan pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandawa dan kesenian lainnya.

Mulyo mengaku pernah dijanjikan untuk diajak berbincang-bincang tentang rencana pembangunan Trans Studio sebelum penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman. “Namun sampai hari ini belum terealisir,” ujar Mulyo yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Seperti diketahui Wayang Orang Ngesti Pandawa salah satu ikon Kota Semarang. Bahkan ada anggapan ‘belum ke Semarang kalau belum melihat Ngesti’. Berdiri sejak tahun 1937, Ngesti Pandawa masih tetap eksis hingga sekarang ini.

Sejatinya pembangunan Trans Studio hanya dilakukan di lahan Taman Bermain Wonderia yang berbatasan langsung dengan TBRS. Namun Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan siap menyediakan lahan bagi Trans Studio bila dirasa kurang. Hal itu memicu kontroversi karena dugaan kuat lahan yang dimaksud adalah TBRS.

Taman Bermain Wonderia yang tak terawat. Di lokasi ini bakal dibangun Trans Studio.
Taman Bermain Wonderia

“Kita punya lahan 9 hektar. Kalau semisal kurang, beli di sekitar lokasi atau gimana, makanya ini dikaji dulu,” tegas Hendy saat penandatanganan MoU antara Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan Trans Corp, pemilik Trans Studio, Jumat (6/3).

Selain itu, tempat pendirian Trans Studio dirasa tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Jalan Sriwijaya tiap pagi dan sore selalu dipenuhi kendaraan hingga menimbulkan kemacetan. Dari arah timur terdapat kompleks pertokoan yang baru setahun dibangun dan sering macet. Sedangkan dari sisi barat langsung menuju ke pusat kota, yakni Simpang Lima.

“Pemilihan lokasi di TBRS tidak tepat. Tempat yang lebih tepat mestinya di Ngaliyan, Mijen atau Penggaron. Karena Jalan Sriwijaya terlalu sempit untuk keriuhan yang ditimbulkan Trans Studio,” ujar Mulyo.

Sementara itu di tempat terpisah, pendapat berbeda diutarakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Masdiana Safitri. Ia menyambut gembira pendirian Trans Studio di Semarang. Dengan adanya MoU antara Pemkot Semarang dan Trans corp, diharapkan pendapatan sektor pariwisata bisa terdongkrak hingga 50%.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi meminta dukungan masyarakat dan komunitas seni di TBRS agar turut mendukung rencana proyek wahana modern ini. “Pendapatan daerah sebaiknya tidak hanya lewat APBD, tetapi juga dari  investor,” terang Supriyadi.

Masyarakat berharap agar Trans Studio nantinya tidak semakin membuat kemacetan di wilayah Jalan Sriwijaya. Yanti, salah seorang warga, menyetujui pembangunan Trans Studio di bekas Wonderia. “Saya mendukung pembangunan Trans Studio. Tempat itu untuk show dangdut di malam hari, dan kurang mendidik buat warga Semarang. Lebih baik dibangun Trans Studio,” ujarnya.

Taman Bermain Wonderia diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2007. Sayangnya, taman bermain ini kurang diminati pengunjung. Bahkan di tempat ini seringkali diadakan ajang musik dangdut hingga larut malam.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi berdiskusi dengan warga dan para seniman di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Minggu (9/3) malam
Walikota Semarang Hendrar Prihadi berdiskusi dengan warga dan para seniman di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Minggu (9/3) malam

Sebagai respon dari kalangan seniman yang semakin memanas, Minggu (9/3) malam diadakan diskusi dengan tema #saveTBRS di area pendopo kawasan TBRS. Hadir pula Walikota Semarang Hendy usai kunjungan dari Yogyakarta.

“Yang utama dibangun itu Wonderia, tapi masih butuh lahan 10 hektar dan jelas Wonderia saja tidak cukup,” kata Hendy di depan para seniman dan warga Semarang.

Dia memohon kepada masyarakat agar tidak mudah terpancing isu-isu yang belum jelas. “Saya minta tolong agar tidak ada lagi provokasi-provokasi di sosial media (sosmed) terkait penggusuran TBRS,” katanya.

Dia menambahkan pada Selasa (11/3) akan diadakan lagi pertemuan dengan warga dan seniman di tempat yang sama guna mencari solusi terbaik.

Ndak usah dibikin seolah-seolah besok mau digusur, ndak ada yang ngomong begitu. Sekali lagi ndak ada yang ngomong mau menggusur TBRS,” tegasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.