Kamis, 26 Mei 22

Taktik Harus Mengabdi pada Tujuan Strategi

Taktik Harus Mengabdi pada Tujuan Strategi
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

SETIAP pemimpin masa depan butuh teori, bukan agar jadi dogma atau doktrin. Melainkan untuk mendidik pikiran sebagai petunjuk bagi diri sendiri. Dan untuk mengenali berbagai tren dan pola kecenderungan yang ada di lingkungan sekitarnya.

Maka itu, mempelajari atau menguasai teori, jangan sampai membunuh kegiatan kreatif. Jangan sampai rasionalitas membunuh kreativiitas, apalagi imajinasi.

Makanya saya kurang setuju kalau apa apa harus atas dasar akal sehat. Artinya, logika bukan segalanya. Tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan timbulnya peristiwa atau kejadian.

Hukum-hukum dugaan sering kali lebih penting daripada hukum-hukum logika. Inilah yang diabaikan oleh seorang politisi muda macam Andre Rosiade.

Bahwa tujuan militer adalah untuk memenangkan pertempuran dan menghancurkan musuh. Namun tujuan perang adalah untuk mencapai tujuan politik. Artinya, taktik harus mengabdi pada tujuan strategi. Taktik bukan untuk membunuh strategi.

Keseluruhan menguasai bagian, tujuan menguasai alat. Bukan sebaliknya. Tujuan politik adalah tujuannya, perang adalah alatnya. Bukan sebaliknya.

Maka politik harus menetapkan garis-garis besar yang harus ditempuh oleh perang. Dalam menentukan garis-garis besar yang harus ditempuh oleh perang, harus ditentukan apa yang jadi titik berat sebagai dasar menentukan apa yang harus diutamakan ketika harus mendobrak benteng pertahanan lawan.

Ini soal bagaimana membaca titik kekuatan atau titik kelemahan musuh. Titik kekuatan musuh yang sering kali diabaikan adalah aspek pendapat umum atau public opinion. Sering kali para perancang strategi perang mengabaikan kekuatan pendapat umum atau simpati publik terhadap pihak musuh yang diserang. Sehingga musuh mendapatkan dukungan moral sebagai pihak yang jadi sasaran peperangan.

Tak selamanya menyerang adalah cara pertahanan yang paling baik. Pakar peperangan Jerman Clausewitz mengatakan “Mempertahankan sesuatu jauh lebih mudah daripada mendapatkan sesuatu.”

Dalam bagian lain Clausewitz berkata,”Segala sesuatu yang tidak terjadi merupakan keuntungan bagi pihak yang bertahan.”

Dalam kasus Andre Rosiade, pihak lawan justru yang telah memungut hasil, padahal mereka sama sekali tidak menaburkan benih. Menyedihkan, bukan?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.