Minggu, 19 September 21

Tak Mudah Bagi Mesir Jadi Negara Demokratis

Tak Mudah Bagi Mesir Jadi Negara Demokratis

M. Najib (ist)

A.Rapiudin
Jakarta– Konflik politik berdarah masih terus berlanjut di Mesir. Kondisi tersebut menujukkan bahwa tidak mudah bagi Mesir melakukan transisi kepemimpinan dari diktator militeristik ke demokratis.

Menurut Ketua Kaukus Parlemen untuk Timur Tengah ini Muhammad Najib, jika berkaca dari berbagai peristiwa politik di sejumlah negara di Timur Tengah, rakyat Indonesia patut bersyukur bahwa masa transisis di negara ini berjalan singkat dan mulus. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari beberapa indikator.

Pertama, rentang waktu proses transisi yang berjalan singkat. Dari peristiwa tertembaknya 4 mahasiswa Universitas Trisakti pada 4 – 5 Mei 1998 dan pada 21 Mei 1998 Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden RI, itu  hanya membutuhkan waktu dua minggu. Dari sisi jumlah korban juga tidak banyak jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah dalam peristiwa yang sama.

“Masyarakat dan pemimpin kita sangat matang dengan tidak memaksakan kehendaknya. TNI  juga rela memberikan kesempatan sipil memimpin pemerintahan. Jadi, masa transisi kita relatif lancar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (30/7).

Di mata dunia Islam dan negara-negara Barat, lanjut Najib, Indonesia menjadi model bagi negara yang bisa melalui masa transisi dengan waktu yang singkat dan mulus. Indonesia juga bisa mengawinkan nilai-nilai Islam dan demokrasi serta tidak ada pertentangan.  Selain itu, Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang mengalami pertumbuhan ekonomi luar biasa.

Mungkinkah peristiwa politik di Mesir bisa terjadi di Indonesia? Menurut anggota Komisi I DPR ini, semua hal bisa terjadi, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda itu akan terjadi di Indonesia dalam waktu dekat ini. Pertama, karena TNI memiliki keikhlasan untuk meneria demokrasi sebagai sebuah keniscayaan.  Kedua, rakyat telah menikmati demokrasi. Rakyat bisa memilih sendiri siapa pemimpin dan wakilnya di parlemen. Dan ketiga, tidak ada negara yang militernya melakukan kudeta jika ekonominya baik.

“Saat ini walaupun tingkat kemiskinan rakyat kita masih tinggi tapi pertumbuhan ekonomi luar biasa besar. Ini berimbas pada pengurangan angka kemiskinan yang berubah secara signifikan. Karena itu, tidak ada satu syarat pun untuk terjadinya kudeta di Indonesia,” terang Najib.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.