Senin, 8 Maret 21

Tak Miliki Izin Pengurukan Setu, Bachtiar Chamsyah Surati Wali Kota Tangsel

Tak Miliki Izin Pengurukan Setu, Bachtiar Chamsyah Surati Wali Kota Tangsel
* Warga sekitar Setu, yang juga Mantan Menteri Sosial periode 2001 sampai 2009 Bachtiar Chamsyah. (Foto: Sutanto/OMG)

Jakarta, obsessionnews.com – Setu atau danau yang terletak di Kelurahan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, masih menjadi pembicaraan yang hangat di lingkungan warga Kelurahan Setu.

Pasalnya, danau yang luasnya kurang lebih 2,5 Ha ini tengah diuruk pemilik setu. Namun pengurukannya tidak memiliki surat izin dari pemerintah daerah (pemda) setempat. Yang lebih parahnya lagi, peralatan berat seperti truk beko sudah beroperasi di lokasi pengurukan danau tersebut.

 

Baca juga: Setu Diuruk, Tangsel Terancam Banjir

 

Seperti diketahui setu atau danau itu memiliki fungsi yang penting bagi warga sekitar, yakni menjadi tempat penampungan air sekaligus sebagai kawasan resapan air.

Untuk itu keberadaan danau harus dijaga dan dirawat dengan baik. Jangan sampai danau itu diuruk, apalagi dijadikan perumahan. Meskipun danau itu milik pribadi, hal ini dapat merusak ekosistem yang ada di sekitar danau tersebut.

Warga sekitar Setu, yang juga mantan Menteri Sosial periode 2001 -2009 Bachtiar Chamsyah mengatakan, danau merupakan tempat penampung air di kala musim hujan dan sekaligus pencegah banjir. Sedangkan di musim kemarau danau sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar. Apabila pengurukan danau itu terjadi, tak menutup kemungkinan wilayah Tangsel bakal dilanda banjir.

“Dengan keberadaan setu ini telah menjadi keseimbangan ekosistem pada lingkungan hidup,” tegasnya kepada obsessionnews.com belum lama ini.

Lokasi danau di Kelurahan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. (Foto: Aldi/OMG)

Tak hanya itu, dia menyebutkan bahwa undang-undang lingkungan hidup juga menjaga keberadaan setu-setu yang ada di Indonesia.

“Untuk itu, saya tidak setuju dengan pengurukan setu,” tegasnya lagi.

Dia mengakui, memang danau yang berada di samping rumahnya itu milik pribadi, tapi milik pribadi bukan mutlak semena-mena, sehingga melupakan ekosistem di sekeliling danau yang keberadaannya sudah 55 tahun itu.

“Milik pribadi itu berfungsi sosial, jangan gara-gara milik dia, lingkungan rusak,” tambahnya.

Sepengetahuan dirinya, setiap pengurukan danau tentu harus ada izin. “Sampai sekarang saya melihat tidak ada izin untuk itu,” ungkap Bachtiar.

Menurut dia, Pemda Tangsel harus menegakkan peraturan di wilayahnya. Pemda Tangsel harus tegas menghentikan semua kegiatan, sampai izin pengurukan danau itu dikeluarkan.

“Itu baru benar. Nggak bisa dong izin belakangan tapi sudah berjalan, karena dalam izin itu nampak sudah yang akan dibangun, perencanaannya bagaimana, aspek yang perlu ditinjau, kekuatannya bagaimana,” jelas Bachtiar.

Untuk itu dia menyurati Wali Kota Tangsel prihal masalahan keberatan rencana penimbunan atau pengurukan danau yang berlokasikan di Kelurahan Setu tersebut. Dia berharap dari Pemda Tangsel dapat menegakan peraturan di wilayahnya.

“Saya dan teman teman menolak dan merasa keberatan atas izin rencana pengurukan karena akan merusak lingkungan dan mengakibatkan bencana bagi warga,” pungkasnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.