Rabu, 3 Juni 20

Tak Hanya Cantik, Felicia Kawilarang Juga Berprestasi di Bisnis ‘Start-up’ Kesehatan

Tak Hanya Cantik, Felicia Kawilarang Juga Berprestasi di Bisnis ‘Start-up’ Kesehatan
* VP Marketing Halodoc Felicia Kawilarang. (Foto: Fikar Azmy/Women's Obsession)

Jakarta, Obsessionnews.com – Joko Widodo (Jokowi) mencetak manis di pentas politik. Untuk kedua kalinya secara beruntun Jokowi terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2019. Sebelumnya Jokowi menjadi Presiden pada periode 2014-2019.

Jokowi yang berduet dengan KH Ma’ruf Amin dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024 di Gedung MPR/DPR RI pada 20 Oktober 2019.

Selanjutnya pada Rabu, 23 Oktober 2019 dibentuk Kabinet Indonesia Maju. Jokowi merekrut CEO Gojek Nadiem Makarim di kabinet ini. Nadiem diberi kepercayaan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Baca juga:

Mendikbud Nadiem Makarim Akan Ubah Sistem Zonasi Sekolah

Melacak Nasab Politik dan Ideologi Nadiem Makarim

Nadiem Hapus UN, Syafii Maarif: Jangan Serampangan, Ini Bukan Gojek

Mengejutkan! Ternyata Menteri Nadiem Tak Punya Akun Medsos

Setelah menjadi Mendikbud Nadiem melepas jabatannya sebagai CEO Gojek. Suksesornya adalah Kevin Aluwi.

Suksesi di tubuh Gojek tersebut ikut melejitkan nama Felicia Kawilarang Aluwi. Felicia adalah istri Kevin Aluwi.

Tidak banyak orang tahu bahwa perempuan muda yang akrab disapa Feli ini juga memiliki prestasi tersendiri. Tak hanya cantik, dia juga merupakan sosok wanita cerdas dan berbakat. Dia kini menduduki posisi Vice President Marketing Halodoc, sebuah usaha rintisan yang bergerak di bidang kesehatan.

Selepas kuliah, Feli direkrut sebagai konsultan di perusahaan manajemen konsultasi ternama, Accenture. Bahkan, sebelum menempati jabatannya saat ini dia dipercaya menjadi manajer bisnis di salah satu agensi digital terkemuka di dunia, VML. Pada 2016, dia memberanikan diri untuk terjun membangun Halodoc bersama dengan Jonathan Sudharta.

“Saya bertanya kepada John, ini aplikasinya tentang apa beserta misinya. Ternyata adalah simplifying healthcare dan ini membuat saya sangat tertarik,” tuturnya menceritakan awal mula bergabung dengan platform tersebut.

Bisnis dengan Social Impact
Terkonsentrasinya ketersediaan dokter di Pulau Jawa menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat di luar Jawa untuk mendapatkan akses kesehatan. Padahal Feli meyakini bahwa potensi teknologi di Indonesia sangat besar dalam mengembangkan pelayanan kesehatan. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, dia berharap efisiensi akses tersebut dapat tercapai, agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan mematahkan stigma bahwa ke dokter itu mahal atau lama antrenya. Didorong keinginan untuk berbuat lebih banyak bagi masyarakat, dia menerima tawaran untuk membangun Halodoc.

Selain itu pengalamannya berhadapan dengan banyak klien, membawa dirinya untuk memantapkan diri dalam industri yang benar-benar baru ini. Industri kesehatan termasuk kategori yang kompleks, sekaligus besar social impact-nya. Pertumbuhan Halodoc sejak setahun berdiri pun meningkat lima kali lipat. Hal ini didukung pula suntikan investasi pendanaan seri A sebesar US$13 juta dari grup investor, terdiri dari Clermont Group, Gojek, Blibli, dan NSI Ventures lima bulan sejak resmi diluncurkan. Pada 2019 Halodoc dua kali mendapat pendanaan. Pertama pada Maret 2019 lalu dari UOB Venture Management dan sejumlah investor lain sebesar US$65 juta.

Kedua pada Juli 2019 lalu dari Bill & Melinda Gates Foundation sebesar US$22 juta. Tidak heran jika Halodoc digadang-gadang akan masuk jajaran start-up unicorn di Indonesia menyusul Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Bukan berarti Halodoc tidak memiliki kendala dalam mengembangkan bisnis. Berbeda dengan start-up e-commerce lainnya yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, layanan yang disediakan platform ini adalah untuk membantu orang yang membutuhkan dokter maupun obat-obatan. Langkah-langkah edukatif terhadap masyarakat pada tahun-tahun awal menurut Felicia menjadi fondasi yang memuluskan pertumbuhan perusahaan yang bernaung di bawah bendera PT Media Dokter Investama.

“Salah satu tantangan paling besar untuk Halodoc di Indonesia adalah edukasi market tentang pentingnya preventative healthcare. Bukan cuma ke dokter kalau sedang sakit, tapi juga rajin membaca tentang konten kesehatan. Misalnya, bagaimana olahraga dan makan yang benar. Lalu, pentingnya check-up kesehatan lab setiap tahun atau kapan harus ke dokter. Jangan menunggu sampai sudah sakit parah,” ujar penyandang gelar cumlaude dari Boston University, Amerika Serikat, ini.

Perjuangan Feli bersama timnya ternyata membuahkan hasil. Saat ini Halodoc telah dipercaya oleh lebih dari delapan juta pengguna aktif per bulan di 50 kota di Indonesia. Hampir 50% di antaranya berasal dari luar Pulau Jawa. Sementara, pengguna di Pulau Jawa 80% didominasi pengguna dari luar kota Jakarta dan Surabaya. Perusahaan juga bekerja sama dengan 20.000 dokter dan 1500 apotek yang tersebar di 50 daerah di Tanah Air.

Pemikiran Strategis dan Inovasi
Bermula dari sekitar 20 pegawai, kini Halodoc telah memiliki 400 karyawan. Feli sendiri memiliki sekitar 60 anak buah di bawah departemen marketing. Dia bertanggung jawab penuh untuk menyusun strategi pemasaran, mulai dari konten websitedigital marketing, inisiatif lainnya, dan melaporkannya langsung kepada CEO.

Salah satu tugas utama divisi marketing adalah meningkatkan awareness orang-orang terhadap aplikasi.

Halodoc tidak bertujuan untuk menggantikan rumah sakit, melainkan sebagai langkah atau tindakan pertama sebelum harus ke rumah sakit. Aplikasi tidak melayani pasien dengan penyakit-penyakit yang parah. Apabila tidak dapat membantu, dokter akan mengarahkan pasien untuk memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.

Dia mengungkapkan bahwa tugas marketing pula untuk mempelajari perilaku pengguna. Konsultasi lewat Halodoc online ada tiga pilihan, yaitu chatvoice call, dan video call. Di Indonesia pasien lebih banyak menggunakan fitur chat dengan dokter daripada menelepon ataupun video call. Oleh karena itu, mereka memaksimalkannya sehingga pemakai juga dapat mengirimkan gambar melalui fitur chatting, agar konsultasi lebih maksimal melalui aplikasi.

Sebagai sebuah bisnis, Halodoc mengambil keuntungannya dari kontrak kerja sama dengan tenaga kesehatan maupun jaringan farmasi yang menyediakan obat-obatan. Demi menarik pengguna baru atau first time users, Halodoc membebaskan sejumlah konsultasi dengan dokter umum. Sedangkan untuk dokter spesialis atau jika sudah melampaui jatah sesi, akan dikenakan biaya, tergantung konsultasi yang dilakukan. Layanan antar obat pun menerapkan flat rate Rp5.000 untuk pengiriman di wilayah Jakarta.

Felicia mengaku bahwa dirinya beruntung mempunyai pasangan yang sama-sama bekerja di bidang start-up. Meskipun kesibukan mereka berdua cukup padat, di waktu luang sering berdiskusi tentang perkembangan dan tanggung jawab masing-masing di perusahaan.

“Tantangan terberat mungkin karena industrinya terus berkembang. Business model-nya setiap hari selalu berganti. Karena ini sesuatu yang baru dan inovatif, jadi semua orang yang bekerja di Halodoc harus berpikir out of the box. Saya rasa kesulitannya lebih pada harus selalu memiliki ide segar dan kreatif untuk mengembangkan bisnis,” kata perempuan yang senang bermain biola dan hobi traveling ini.

Itulah sebabnya dia tertantang untuk terus menekuni pekerjaannya, hingga kelak menjadi perusahaan besar yang maju dan berguna untuk masyarakat. (Nur A/arh)

Artikel ini telah ditayangkan di www.womensobsession.com

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.