Jumat, 29 Mei 20

Tak Ada Jaminan Keselamatan Muslim Rohingya di Myanmar

Tak Ada Jaminan Keselamatan Muslim Rohingya di Myanmar
* pengungsi Rohingya

Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan keprihatinan soal kembalinya pengungsi Rohingya ke Myanmar dan menyatakan “Tidak ada jaminan internasional untuk melindungi pengungsi Rohingya saat mereka kembali ke Myanmar.

“Ada kemungkinan bahwa saat kembalinya pengungsi Rohingya ke Myanmar, akan terulang lagi peristiwa yang sama yang menyebabkan mereka melarikan diri dari rumah mereka,” demikian disebutkan HRW pada hari Ahad (28/1/2018).

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa sekitar 962.000 Muslim Rohingya mengungsi ke wilayah perbatasan di tenggara Bangladesh, di mana 655.000 di antaranya berlindung di Bangladesh pasca dimulainya gelombang kekerasan baru pada 25 Agustus 2017 di Rakhine.

Bangladesh mengumumkan bahwa, menurut sebuah kesepakatan dengan pemerintah Myanmar, proses pemulangan pengungsi Rohingya ke negara mereka akan dimulai pada akhir Januari 2018.

Bangladesh dan Myanmar menandatangani sebuah kesepakatan untuk memulangkan pengungsi Rohingya ke Rakhine pada tanggal 25 November 2017, namun para pengugnsi Rohingya sendiri banyak yang menolak kembali ke Myanmar. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengatakan bahwa proses pemulangan pengungsi Rohingya harus dilakukan secara sukarela.

James Mattis

Basa-basi AS Soal Rohingya Myanmar
Menteri Pertahanan AS, James Mattis dalam kunjungannya ke Indonesia, berbicara soal bencana kemanusiaan di Myanmar dan pembunuhan Muslim Rohingya, seraya mengatakan, ini adalah tragedi yang lebih buruk daripada yang ditunjukkan CNN atau BBC.

Setelah Inggris, Amerika Serikat juga menyatakan keprihatinannya atas kondisi tragis yang dialami Muslim Rohingya. Beberapa waktu lalu Komite Pembangunan Internasional Majelis Rendah Inggris, mengkritik ketidakpedulian pemerintah mengenai hal ini. Ungkapan keprihatinan dan kritik ini adalah menutupi kepasifan pemerintah Barat, terutama Amerika Serikat, terhadap pembunuhan Muslim Rohingya, ketimbang benar-benar mengkhawatirkan fenomena kemanusiaan seperti yang dikemukakan Mattis.

Jika ada sebuah negara dan negara-negara mampu menghentikan pembantaian dan keterlantaran ratusan ribu warga Myanmar, maka negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat dan Eropa. Hubungan Myanmar dengan negara-negara Eropa telah membaik dan bahkan harmonis setelah Aung San Suu Kyi meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Militer Myanmar membakar banyak Muslim Rohingya, menewaskan ratusan orang dan memperkosa ribuan gadis dan Muslimah Rohingya, dengan tujuan merampas tempat tinggal mereka. Kejahatan militer Myanmar yang sedang berlangsung telah menyebabkan sekitar 700.000 Muslim mengungsi dari Myanmar ke Bangladesh.

Reaksi Uni Eropa terhadap pembantaian minoritas yang paling tertindas di dunia ini adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya meminta pemerintah Myanmar untuk melindungi hak-hak Muslim di Myanmar. Pemerintah Myanmar dan Aung San Suu Kyi sendiri menolak keberadaan Muslim Rohingya di Rakhine.

Pemerintah Amerika Serikat dan Eropa memiliki kekuatan untuk memaksa pemerintah Myanmar, dengan tekanan politik dan sanksi ekonomi, agar menghentikan pembunuhan Muslim Rohingya dan mengembalikan warga Rohingya yang kehilangan tempat tinggal ke rumah mereka.

Washington Post melaporkan bahwa Amerika Serikat belum bekerjasama dengan negara-negara Eropa untuk memboikot sekelompok pejabat militer Myanmar dan pejabat pemerintah lainnya yang terlibat dalam gelombang kekerasan anti-Rohingya.

Ditambahkan pula menyatakan bahwa Amerika Serikat terus mendukung militer Myanmar, sementara kritikan Washington terhadap genosida Muslim Rohingya di negara adalah pertunjukan drama. Alih-alih menggunakan kekuatannya untuk mengerahkan langkah internasional dalam hal ini, Amerika Seirkat hanya mengungkapkan keprihatinannya atas genosida terhadap Muslim Rohingya Myanmar.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi hak asasi manusia internasional menampilkan foto-foto kondisi Muslim Rohingya yang mengenaskan, serta bahwa perang terhadap Muslim Rohingya adalah contoh nyata dari pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan. (ParsToday)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.