Minggu, 26 September 21

Tahun Ini, OJK Kuatkan Integritas

Tahun Ini, OJK Kuatkan Integritas
* Kepala Departemen Manajemen Resiko dan Pengendalian Kualitas OJK, Hidayat Prabowo (kiri) memberikan keterangan pers disela Sosialisasi OJK WBS dan Penandatanganan Pernyataan Komitmen Pengendalian Gratifikasi, di Hotel Bumi, Surabaya, Selasa (26/5/2015). (Obsessionnews.com/Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews – Antusias sambutan masyarakat terhadap sistem pelaporan dalam Program Pengendalian Gratifikasi Whistle Blowing System (WBS) diakui masih kurang. Bahkan, lemahnya mekanisme tersebut lebih dikarenakan masalah edukasi dan sosialisasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kurang mengena dan diterima masyarakat.

“Tingkat kepercayaan masyarakat ke OJK yang belum cukup. Masyarakat masih merasa takut ada masalah kalau melaporkan,” ungkap Kepala Departemen Manajemen Resiko dan Pengendalian Kualitas OJK, Hidayat Prabowo di Hotel Bumi, Surabaya, Selasa (26/5/2015).

Menurut dia, untuk lebih menguatkan daya lapor masyarakat dalam sistem WBS tersebut, OJK terpaksa merevitalisasi sistem pelaporannya. Dalam rangka penguatan integritas internal di tubuh OJK ini, lembaga ‘superbody’ di industri/jasa keuangan tersebut menggelar program penguatan integritas dengan revitalisasi WBS dan pelaksanaan Program Pengendalian Gratifikasi.

“Apalagi tahun 2015, dicanangkan sebagai tahun penguatan integritas OJK,” ingat Hidayat saat Sosialisasi OJK WBS dan Penandatanganan Pernyataan Komitmen Pengendalian Gratifikasi.

Hidayat menjelaskan, sistem ini perlu diperbaiki karena kepercayaan merupakan modal penting bagi stabilitas sistem keuangan nasional. Urgensi peningkatan kepercayaan menguat seiring dengan naiknya ketidakpastian di sektor keuangan maupun perekonomian setelah krisis keuangan global tahun 2008.

“OJK mendorong pelaku di industri jasa keuangan dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dengan melaporkan fakta, termasuk dugaan pelanggaran yang dilakukan insan OJK melalui OJK WBS,” harapnya.

Meski demikian, Hidayat menyatakan, masuknya 17 laporan tersebut bukan membuat OJK bersuka cita. Namun, edukasi yang dijalankan dalam beberapa waktu ini menuai efek langsung ke masyarakat. “Baru setelah diperbaiki, ada 17 laporan yang masuk,” ujarnya.

Untuk diketahui, sejak OJK WBS diluncurkan, baru ada 1 laporan yang masuk. Karena itu program ini diperbaiki dan diluncurkan kembali sejak 1,5 bulan yang lalu. “Apakah laporannya sudah tepat atau belum, memang masih perlu kami teliti lagi aspek validitasnya,” tutur Hidayat.

Ia menambahkan, program ini dijalankan bekerjasama dengan pihak eksternal yang independen. Semua laporan yang masuk di meja OJK langsung diteruskan ke komite etik. “Proses validasinya butuh waktu sekitar 2 minggu. Memang masih ada yang salah sasaran. Malah ada juga yang dilaporkan adalah kebijakannya, bukan perseorangannya,” ulasnya.

Sementara, revitalisasi OJK WBS dilakukan antara lain dengan peningkatan integritas sistem melalui enkripsi seluruh data dengan teknologi mutakhir. Teknologi yang dikembangkan OJK ini diyakini aman, anonimitas dan perlindungan pelapor serta user interface lebih sederhana dan menarik. “Pelapor juga dapat memantau status laporannya. Selain itu, pengelolaan WBS akan dilakukan oleh pihak independen,” cetusnya.

Selain program revitalisasi OJK WBS, OJK juga meluncurkan program pengendalian gratifikasi untuk pencegahan korupsi yang dikoordinasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dikatakan, hal ini merupakan budaya baru untuk meneliti lebih dulu, apakah yang diterima ada kaitannya dengan gratifikasi atau tidak ada gratifikasi.

“Apakah bentuknya uang, hadiah, pelayanan, fasilitas. Apakah di hotel dijamin makan yang tidak sepantasnya. Itu bisa masuk gratifikasi. Yang kalau tidak dilaporkan bisa masuk ranah korupsi,” pungkasnya. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.