Kamis, 2 Februari 23

Tahun Baru Islam, Momentum Hijrah Kepada Allah dan Rasul-Nya

Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu (1) ada sesuatu yang ditinggalkan dan (2) ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menuju keadaan yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Di dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi dua macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ainbagi setiap orang di setiap waktu.

Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Di antara kedua macam hijrah ini, hijrah dengan hati kepada Allah dan Rasul- Nya adalah yang paling pokok.

Berhijrah kepada Allah ‘Azza wa Jalla berarti kembali menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini seperti yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Allah,” (QS. Adz- Dzariyaat: 50).

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.