Jumat, 7 Oktober 22

Tahun 2014: Hiburan Politik dan Komponis Politik

Tahun 2014: Hiburan Politik dan Komponis Politik

Hiburan Politik dan Komponis Politik

Tahun 2014, namanya saja tahun politik, maka apapun yang bersinggungan dengan masyarakat selalu dibawa ke ranah politik. Apalagi dunia hiburan yang identik dengan pengumpulan masa, tentu saja menjadi lahan empuk untuk diubek-ubek masalah politik. Maka hampir sebagian artis hiburan ikut larut dan hanyut dalam kancah itu. Kalau tidak ikut-ikutan nyaleg, paling tidak mereka ikut terlibat dalam menghibur masyarakat, mereka yang ikut kampanye.

Para artis serta presenter yang ikut nyaleg diantaranya, Rachel Maryam, Jamal Mirdad, Nico Siahaan, Eko Patrio, Anang Hermansyah dan lain sebagainya.Dan para penyanyi yang ikut menghibur peserta kampanye diantaranya raja ndangdut Rhoma Irama, dan penyanyi beken lainnya.Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah mereka benar-benar berkontribusi terhadap pembangunan politik bangsa ini atau kah sekedar ikut-ikutan saja?

Sulit menilainya, yang terang keberadaan mereka sepertinya hanya dibutuhkan masa di saat kampanye saja, lebih dari itu tidak. Dan rakyat  yang datang ke panggung kampanye pun sejatinya tidak untuk mendengarkan pidato para juru kampanye yang cenderung membosankan. Mereka tertarik datang, pertama karena ada duit, yang kedua untuk menonton hiburan yang disediakan panitia kampanye.

Dalam hal ini publik pun tidak pernah menanyakan dan memikirkan apakah si penghibur punya kontribusi terhadap pembangunan bangsa atau pun tidak. Jadi keberadaan mereka—massa di setiap kampanye—mirip, seperti lagunya Jamal Mirdad, “Yang Penting Happy”. Memang, sesungguhnya rakyat  tidak pernah peduli, masa bodoh dengan apa yang dimaui dan diperbuat para artis dan penghibur itu.

Butuh hiburan
Mereka—rakyat—hanya butuh hiburan, tontonan yang dianggap mampu menghilangkan keruwetan pikiran karena persoalan ekonomi sehari-hari, lebih dari itu tidak. Lantas apa kata para artis penghibur itu sendiri. Rata-rata mengatakan bahwa mereka adalah warga Negara yang tentunya punya hak yang sama dengan warga Negara lainnya. Maksudnya tentu saja hak berpolitik, seperti para caleg lainnya.

Soal apakah mereka telah memberikan kontribusi pemikiran kepada bangsa dan Negara ini kita lihat sendiri saja. Sampai sejauh ini  memang belum nampak dari kalangan artis atau pun penghibur yang terlihat bersuara lantang membela kepentingan wong cilik di parlemen. Memang mereka dapat saja berkelit, misalnya dengan alasan bukan bidangnya, atau lain komisinya dan sebagainya.

Lepas dari itu semua, masa Pileg dan terutama Pilpres yang baru saja lewat memang berbeda dengan Pemilu 2009 lalu. Pemilihan Presiden kali ini diwarnai dengan  munculnya banyak sekali komponis dadakan. Mereka banyak menelorkan lagu yang diunggah baik ke you tube maupun di videokan. Lagunya bagus-bagus dan lucu-lucu serta enak-enak. Lagu mereka  ada yang saduran dari lirik lagu tenar yang sudah ada, dan hanya syairnya yang diganti, atau menciptakan lagu yang baru sama sekali.

Kemeriahan mereka pun makin bertambah, karena musisi beken pun ikut mengarang lagu khusus Pilpres. Misalnya band Slank yang menciptakan salam dua jari untuk mendukung pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Jokowi-HM Jusuf Kalla (JK). Di sisi lain Ahmad Dhani menggubah lagu barat tenar dengan mengganti syairnya untuk pasangan Prabowo Subianto-M Hatta Rajasa.

Hiburan politik
Ya mereka telah berkontribusi dalam Pilpres dengan menyumbangkan hiburan politik, dan kampanye Pilpres 2014 benar-benar telah mencetak komponis politik. Inilah perbedaan yang sangat nyata antara Pemilu 2014 dengan Pemilu sebelumnya. Sayangnya hiburan yang sudah dan sengaja telah diciptakan mereka ternyata tidak dinikmati para politisi kita. Mengapa”

Karena mereka masih usreg meratapi kekalahan mereka di Pileg mau pun di Pilpres, contohnya masih ada koalisi-koalisian. Padahal Slank yang sebelumnya menciptakan lagu salam dua jari telah mengganti lagu baru dengan salam tiga jari, yang artinya salam perdamaian. Mustinya mereka, para politisi yang sebelumnya bertarung di arena Pilpres, segera meletakan persaingan dan permusuhan, kemudian bersatu padu membangun bangsa ini agar jangan sampai tertinggal dari bangsa lain.

Dan mudah-mudahan salam tiga jari yang dilontarkan Slank tidak sekedar lagu, tetapi benar-benar menjadi alat perdamaian. Kita harus ingat bahwa pesta telah berakhir, dan juga jangan lupa bahwa setiap perlombaan musti ada yang menang dan ada yang kalah. Jadi kekalahan dalam Pilpres bukan segala-galanya, karena masih ada hari esok. Siapa tahu esok justeru akan jauh lebih baik dari sekarang. Akhirnya Selamat Tahun Baru, dengan wajah baru pula. (Arief Turatno)

 

Related posts